Sekolah Barista Anak Petani Kopi Papua

republica.co 0 Awalnya, seorang pengusaha kopi di Papua, Pieter Tan, mengaku sulit menemukan seorang peracik seduhan kopi atau barista di bumi Cenderawasih tersebut. Atas dasar kesulitan tersebut, Pieter pun membuka sekolah barista.

Namun, sekolah barista ini diperuntukan anak-anak petani kopi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua. “Sekolah barista saya prioritaskan untuk anak-anak petani kopi di Wamena. Untuk anak-anak petani Wamena, biayanya gratis dan saya sudah siapkan tempat penginapan mereka. Jadi, memang hanya anak-anak yang terpilih yang bisa belajar di sini,” ujarnya di Jayapura, Ahad (21/8).

Ia melihat ini sebagai peluang untuk memberdayakan putra-putri asli Papua. Ia pun mengaku banyak memiliki rekanan hotel di Papua. Sehingga, jika anak-anak tersebut sudah mampu menjadi barista, bisa diarahkan untuk bekerja di hotel.

Selain itu, ia menjelaskan, di Wamena para petani sudah berumur di atas 50 tahun. Karenanya, ia pun mendirikan sekolah tersebut agar ke depan ada yang mau meneruskan untuk menjadi petani kopi.

Tujuan lain ia membuat sekolah ini agar anak-anak Wamena bisa tertarik dan belajar kopi, dan ternyata di dalamnya banyak hal baru yang menyenangkan. Dengan kopi ini, pemuda-pemudi Papua bisa menghasilkan uang.

Pieter pun menyebut bahwa proses pengajaran belum berjalan karena para pemuda di Wamena, baru saja selesai menyelenggarakan Festival Lembah Baliem. “Saya belum buka pendaftaran karena masih tunggu pemuda dari Wamena. Siswa per kelas enam orang, sementara saya buka satu kelas dulu. Di sini kita lebih mengajarkan pengetahuan tentang kopi dan bagaimana mengesktraksinya, baik dengan mesin maupun alat manual,” katanya lagi.

Dia menegaskan, ia akan memilih secara ketat siapa saja yang nantinya bisa bersekolah di tempatnya karena untuk menyiapkan hal tersebut diperlukan dana yang cukup besar. “Terus terang saya siapkan ini biayanya tidak murah dan semua gratis. Jadi, saya hanya mau mengajar untuk anak-anak yang memang serius mau belajar kopi. Mereka akan belajar kurang lebih satu bulan dan mereka bisa langsung latihan di Pit’s Corner,” kata Pieter.

Indonesia, menurut Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), berpeluang memenuhi kebutuhan kopi dunia yang permintaannya terus meningkat. Wakil Ketua AEKI Jawa Tengah Mulyono Susilo di Semarang, mengatakan, permintaan kopi dari pasar-pasar ekspor yang biasa, seperti Jepang, Amerika Serikat, Eropa Barat, Italia, dan Spanyol masih stabil. Meski demikian, ada beberapa negara yang peminum kopinya bertambah banyak.

Beberapa negara dengan banyak peminum kopi, di antaranya Korea, Cina, dan sebagian negara-negara di Eropa Timur. Dia mengatakan, Organisasi Kopi Internasional (ICO) memprediksi, pada 2020 akan terjadi defisit kopi 10 juta karung dengan perhitungan satu karung berisi 60 kilogram (kg) kopi.

“Defisit ini terjadi akibat kenaikan konsumsi di Cina dan negara-negara produsen, seperti Indonesia dan Vietnam. Pertanyaannya 10 juta karung ini dari negara mana. Dalam hal ini, Indonesia ada kesempatan untuk memenuhi kekurangan kopi dunia,” katanya.

Untuk dapat memanfaatkan kesempatan tersebut, saat ini seluruh pihak baik pemerintah, pengusaha atau eksportir, maupun petani harus sama-sama membangun di hulunya. “Kami harapkan hasilnya positif. Harapannya petani-petani muda mau berperan kembali ke perkebunan,” katanya. Selain itu, diharapkan petani bersedia menerima arahan untuk merawat tanaman agar lebih produktif, salah satunya dengan metode pruning atau pemangkasan.

Hanya saja, menurut dia, asosiasi memprediksi volume panen kopi pada 2016 turun hingga hampir 50 persen. “Jika volume panen tahun lalu sekitar 23 ribu ton, untuk tahun ini prediksi saya di kisaran 14 ribu ton,” kata dia. Secara nasional, jika pada tahun lalu panen kopi mencapai 11,5 juta karung, untuk tahun ini diprediksi hanya sekitar 9 juta-9,5 juta karung dengan perhitungan satu karung berisi 60 kg kopi.

Menurut dia, penurunan tersebut akibat El Nino yang terjadi pada tahun lalu. Musim pembungaan kopi yang biasa terjadi pada September mengalami kemunduran akibat hujan baru mulai turun pada pertengahan November. “Akibatnya pembungaan menjadi tidak optimal, terutama untuk kopi robusta yang penanamannya di dataran rendah,” katanya. antara, ed: Ichsan Emrald Alamsyah

Baliem Blue Coffe, Citarasa Kopi Papua

Barisa Kopi Papua, D.R. Kwano
Barisa Kopi Papua, D.R. Kwano & Odie G.

Rabu, 10-08-16 12:22 WIB PRODUK

SUARADESA, PAPUA – Kopi merupakan salah satu minuman yang menjadi kegemaran kebanyakan orang Indonesia, karena dengan minum kopi dipercaya dapat menghilangkan kantuk dan lelah. Dari kebanyakan kopi , ada satu kopi yang khas dan memiliki citarasa yang berbeda yaitu kopi yang asli berasal dari Papua bernama Baliem Blue Coffe.

Bagi warga Kabupaten Jayawijaya kopi ini memiliki nilai lebih. Karena kopi ini tidak hanya hasil racikan barista asli Papua pertama, tapi juga hasil tanam petani setempat.

Darmin Rad Kwano, Barista Papua pertama itu mengatakan, kopi berjenis Arabica organic ini dihasilkan oleh petani tradisional Papua dan merupakan kopi berkualitas kedua dari Jamaika Blue Coffee.

“Kopi Arabica baliem ini dalam satu tahun hanya sekali panen, sedangkan proses pengolahan agar siap saji membutuhkan enam bulan mengingat medan yang ditempuh sangat sulit,”

katanya, Rabu (10/8).

Dalam proses pengeringan kopi ini selalu dipantau kadar airnya sebelum dipanggang (roast) dan digiling sendiri sampai ketahapan siap dikonsumsi. Sebelum berkecimpung dalam dunia usaha kopi ini, staf nya telah menjalani pelatihan di Jakarta Coffee House selama enam bulan.

“Dalam proses penanaman hingga panen, kesemuanya dilakukan di bawah naungan pihak Koperasi Baliem Arabica di mana telah menyiapkan pula sumber daya manusia nya untuk menanam,”

ujar Darmin.

Baliem Blue Coffe / Kopi Wamena Papua bercita rasa buah dengan kombinasi pahit yang sedang dan rasa yang juga tidak berat. Jadi bagi para penggemar kopi, tak ada salahnya untuk mencoba meluangkan waktu berjalan-jalan ke Papua mencicipi kopi asli Papua. (suara)

Kopi Baliem? Ini Penjelasan Barista Pertama Asli Papua

Easter P. K. Tawy, Barista Perempuan Papua Pertama
Easter P. K. Tawy, Barista Perempuan Papua Pertama

Wamena, Jubi – Kabupaten Jayawijaya kini telah memiliki seorang barista asli Papua yang pertama di Bumi Cenderawasih dan berhasil meracik kopi hasil tanam sendiri dinamai “Baliem Blue Coffee”.

Darmin Rad Kwano, Barista Papua, di Wamena, Rabu, mengatakan kopi berjenis arabica organik ini dihasilkan oleh petani tradisional Papua dan merupakan kopi berkualitas kedua dari Jamaika Blue Coffee.

“Kopi arabica baliem ini dalam satu tahun hanya sekali panen, sedangkan dalam untuk diproses agar siap saji membutuhkan enam bulan mengingat medan yang ditempuh sangat sulit,” katanya.

Menurut Darmin, jadi kopi ini juga diperhitungkan atau diukur kadar airnya, lalu proses “roasted” kemudian digiling sendiri sampai ke tahapan jadi hingga siap dikonsumsi.

“Untuk petugas dari mulai petani hingga yang memproses kopi ini hingga menjadi siap saji, semuanya merupakan orang asli Papua,” ujarnya.

Dia menjelaskan sebelum berkecimpung dalam dunia usaha kopi ini, petugas-petugasnya telah menjalani pelatihan di Jakarta Coffee House selama enam bulan.

“Dalam proses penanaman hingga panen, kesemuanya dilakukan dibawah naungan pihak Koperasi Baliem Arabica di mana telah menyiapkan pula sumber daya manusianya untuk menanam,” katanya lagi.

Sekadar diketahui, Jamaika memiliki kopi yang sangat terkenal di dunia, nama kopi itu adalah Blue Mountain, di mana kopi Wamena Papua ternyata memiliki karakteristik yang serupa dengan kopi asal Jamaika ini.

Kopi Wamena Papua bercita rasa buah dengan kombinasi pahit yang sedang dan body yang juga tidak berat. (*)

Calon Barista Papua Recruit KSU Baliem Arabica ke Tanah Papua per 13 Januari 2015

Pada tanggal 12 Januari merupakan hari bersejarah dalam sejarah Kopi Papua, secara khusus KSU Baliem Arabica lewat Unit Marketing & Sales PAPUAmart.com, karena pada hari ini berakhir proses magang, atau dalam pendekatan belajar-mengajar Papua sudah terkenal sejak nenek-moyang kita ialah datang, lihat, tiru, tanya, dengar, coba, yang hasilnya ialah sebuah proses “pengalaman”, yang dalam istilah metode belajar-mengajar modern kita sebut “learning by doing”. Tanggal 13 Januari ialah tanggal para calon Barista menuju Tanah leluhur, pulau New Guinea.

Dalam pelepasan ini, dengan keharuan yang penuh harapan, menatap ke masa depan Kopi Papua yang begitu cerah, Jhon Kwano melatunkan “Lee Ndawe”, yang dalam bahasa Indonesia ialah Kidung Ratapan,

“Ya Tuhan, Engkau tahu maksud hati kami, untuk datang dan belajar dengan melihat, meniru, bertanya, dan mencoba di sini. Pada hari ini, anak-anak kami sudah menyelesaikan proses dimaksud. Kami tahu, bahwa perjalanan masih sangat, dan sangat jauh. Tetapi saya juga tahu bahwa tanpa proses ini, maka perjalanan yang sangat jauh itu tidak akan pernah saya dan KSU Baliem Arabica tempuh.

Engkah tahu, kami bukanlah orang tua dengan latar-belakang pengusaha. Kami sendiri lahir di zaman batu, ya Tuhan. Dan kami sekarang harus berjuang di era pascamodern. Kami tidak dapat mengharapkan siapapun datang membantu, kami harus bangkit, menyambut dan merebut masa depan yang tersedia. Kalau tidak, ya Tuhan, Engkau tahu, kami akan tertinggal. Kami akan disebut manusia zaman batu, manusia telanjang, manusia miskin, manusia kolot, manusia bodoh. Kami ciptaan-Mu, Tuhan! Kami tahu semua julukan dan anggapan ini meremehkan diri-Mu Pencipta kami. Kami berjuang untuk menutup kekurangan dalam kesempurnaan, demi masa depan orang Papua dan Tanah Papua, yang lebih maju dan berdaya-saing.

Biarlah semua orang Papua, pejabat, pegawai, pengusaha kecil dan besar, ibu dan bapak, kecil dan besar, tua dan muda, di kota dan di kampung, di hutan dan di luar tanah Papua, semua memahami dan maju selangkah dalam irama yang sama, bahwa kemajuan tanah Papua tidak ditentukan oleh Sukarno, Suharto, Habibie, Gus Dur, Mega, SBY, ataupun Jokowi. Semuanya tidak! Kami tahu, maju-mundurnya Tanah Papua ditentukan oleh kami orang Papua sendiri. Itu nubuat, dan itu realias hari ini, itu pula realitas yang kami lihat akan terwujud besok.

Dalam merayakan realitas mendatang itu, kami-pun mengambil langkah-langkah dalam segala kelebihan dan keterbatasan kami. Tuhan, kami hanya berjuang, Engkau-lah yang melengkapi dan menyempurnakan. Gerakanlah semua orang lain di pulau Jawa, pulau Sumatera, pulau Bali, pulau Borneo dan pulau Sulawesi, untuk memberikan dukungan moril dan doa.

Engkau tahu, kami tidak butuh dianak-emaskan atau diperlakukan khusus, kami tidak mengemis dan kami tidak mengeluh. Yang kami lakukan saat ini ialah memicu kebangkitan orang Papua sendiri mengejar ketertinggalan. Kami punya mimpi, membangun “Kerajaan Kopi Tanah Papua, yang megah dan perkasa!” bukan sebagai simbol kesombongan dan kebanggaan kami, bukan sebagai bukti Tanah Papua sebagai sorga kecil yang jatuh ke Bumi, bukan sebagai tanda Papua itu kaya. Bukan semuanya ini Tuhan. Ini hanyalah tanda, ya, tanda, bahwa kami ciptaan-Mu, kami anak-anak-Mu, dan kami hadir untuk memuliakan realitas itu saja, tidak lain.

Berkati mereka, engkau tahu nama mereka, engkau tahu rumah-tangga mereka, pribadi mereka, keluarga besar mereka. Engkau tahu pergumulan hidup mereka. Engkau tahu usaha cafe mereka di tengah persaingan ketat di Era MEA ini. Engkah kunjungi dan berkati mereka satu per satu. Pemilik cafe, para tutur, pelatih dan pembimbing anak-anak kami, calon Barista Papua.

Dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat! Amin!

Dalam cucuran air mata, doa inipun diakhiri. Ini bukan air mata buaya, bukan air mata kesedihan dan mengemis kepada Tuhan. Tetapi inilah airmata Ucapan Syukur! kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tuhan Pelindung Kita semua, Pohon Berkat! Ini air mata harapan, air mata kebahagiaan, karena satu dari sekian pintu telah terbuka bagi Tanah Papua, pintu memasuki Kerajaan Kopi Tanah Papua.

Kwano mengatakan magang seperti ini akan terus digiatkan sepanjang tahun 2016. Menurutnya, “Kalau Tuhan berkehendak, Tahun 2017 kita bicara tentang Baliem Blue Coffee sebagai sebuah product yang sudah siap masuk ke jaringan bisnis kopi di seluruh dunia.”

 

Sejak Minggu Kedua Desember 2015, Dua Orang Papua Belajar Barista dan Roaster di Jakarta Coffee House

Sejak tahun 2007, KSU Baliem Arabica didirikan, dan bergiat dalam memproduksi kopi biji hijau.

Sejak tahun 2009, hasil kerja keras Ketua Koperasi Baliem Arabica, Ev. Selion Karoba, S.Th. sudah menunjukkan bukti, yaitu pertama kali produk Asli dari Tanah Papua, olahan anak Asli Tanah Papua, diekspor ke pasar internasional. Sejak ekspor itu, maka KSU Baliem Arabica menjadi anggota Exportir Kopi Indonesia sampai saat ini.

Walaupun sejak 2014, yaitu Jhon Yonathan Kwano bergabung ke dalam bisnis Kopi Papua sebagai Kepala Unit Sales & Marketing dari Kopi Papua diupayakan agar Kopi Grade A, B, C dan D semuanya dijual di Indonesia dan di Tanah Papua.

Hasilnya pada tahun 2015 semua kopi produk KSU Baliem Arabica dijual di Indonesia sebagai Biji Hijau dan di Tanah Papua dalam bentuk Kop Bubuk dengan nama Baliem Blue Coffee Papua.

Menyusul kemajuan ini, maka pada awal bulan Desember 2015 telah dirintis sebuah kerjasama magang dan pelatihan bersama The Jakarta Coffee House di Jl. Cipete Raya No. 02, Jakarta Selatani. Easter P. K. Tawy dan Minus Rad Kwano saat ini sedang mengikuti magang dimaksud. Silahkan lihat clip Video ini:

Lupa di angkat milkjack nyaa..

Posted by Easter Paulina on Tuesday, 22 December 2015

Selain dari itu Anda dapat mengunjungi alamat facebook.com dari @bbcoffee; @ekaroba; @papuabusiness