Nikmati Lima Jenis Kopi di The Coff Cafe Gowa, Mulai dari Gayo Aceh hingga Papua

Senin, 24 Oktober 2016 15:46, Laporan Wartawan Tribun Timur Wa Ode Nurmin

TRIBUN-TIMUR.COM, SUNGGUMINASA- Satu lagi tempat bagi kalian penikmat kopi di Gowa. Lokasinya di Jl. Basoi Daeng Bunga, Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu.

Mengambil desain ala anak muda, The Coff Cafe hadir memberikan pilihan bagi pecinta kopi dari lima daerah di Indonesia, mulai dari Flores, Bali, Gayo Aceh, Toraja, hinggaPapua. Tak hanya kopi, menu lainnya mulai dari jus dan snack juga tersedia.

Dekorasi dindingnya didominasi warna merah hitam dan putih dengan gantungan disatu sisi.

“Ide nya sih bareng teman-teman. Langsung begitu saja,” kata Manajer The Coff Cafe, Imam Fauzan A. Uskara, saat launching, Senin (24/10).

Meja dan kursi nya pun lebih didominasi kayu berwarna coklat. Lampunya menggantung dengan model unik namun sisi lain dibungkus toples dan digantung.

Masuk ke area dapur, pengunjung bisa menyaksikan langsung penyajian kopi dengan mesin ekspresso.

Imam sendiri mengatakan sengaja membuka Cafe karena menjadi target bisnis bagi anak muda sekarang.

“Saya pilih bisnis Cafe karena cenderung target pasar di kalangan anak muda Jalan sekarang,” ujar pemuda 20 tahun ini yang masih menimba ilmu di Managemen Internasional Bussines  James Cook Univercity Singapura.

Pegawainya pun sengaja dipilih dari kalangan anak muda. “Sekarang pegawainya masih lima. Semua anak muda,” katanya.

Untuk hari pertama launching, The Coff Coffee memberikan promo minuman kopi dengan harga Rp 8 ribu pergelas.(*)

Penulis: Waode Nurmin
Editor: Anita Kusuma Wardana

Menpar Arief Yahya Buka Garuda Travel Fair 2016 di JCC

Sabtu, 8 Oktober 2016 07:31 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Selalu ada inspirasi baru! Itulah yang dirasakan di banyak acara yang dihadiri Menpar Arief Yahya.

Termasuk saat membuka resmi Garuda Travel Fair 2016, yang dilangsungkan di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jumat 7 Oktober 2016. Apa ide dan gagasan barunya?

“Saya menyebut Sharing Economy! Sinergi BUMN, saat low season, selalu ada 25% yang tidak terpakai. Ini yang perlu sinergi 3A, Airlines,

Accomodations, dan Attractions, dibuat paket bersama sehingga harganya kompetitif. Dari pada nol persen, kan lebih baik 60 persen dari 25% yang tidak terpakai tersebut,” jelas Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI saat membuka Travel Fair itu.

Struktur harganya bisa More for Less. Dapatnya banyak, biayanya murah.

Misalnya harga tiket pesawat Rp 1 juta, lalu hotelnya Rp 1 juta juga. Ambil harga terendah keduanya, sehingga paket airlines dan hotelnya menjadi Rp 1,3 – 1,5 juta.

“Masih di atas harga pasar jika dijual sendiri-sendiri, sehingga travel agent yang menjual independent tidak merasa dirusak harganya oleh suppliers. “Itu kombinasi yang cantik, dan memenuhi prinsip More for Less, Customers get more, pay less,”

jelas Mantan Dirut PT Telkom ini.

Kedua, ide yang ditunggu-tunggu audience adalah Go Digital.

“Gunakan ITX – Indonesia Travel X-Change sebagai digital market place. Buat semacam travel fair secara online, agar bukan hanya orang Indonesia di 16 kota yang ikut menikmati promosi Harga Tiket Garuda, tetapi juga orang luar negeri yang hendak inbound ke tanah air dan membuat benefit Pariwisata semakin tinggi. Bukan hanya Wisnus, tapi juga menyentuh Wisman,”

tutur Arief Yahya.

Go Digital itu adalah spirit baru Kemenpar yang dipimpin Arief Yahya dalam mempersiapkan diri bersaing di level global. Dengan digital, paket itu bisa dibuat berdasarkan season, bisa dipelajari kapan low season itu terjadi.

“Kalau peak season, itu serahkan ke pasar karena demand tinggi. Kalau low season, buat sharing economy, untuk menambah load factor dan okupansi. Ingat The more digital, the more global,”

jelasnya.

Menpar juga mengucapkan terima kasih pada Garuda yang berencana membuka penerbangan reguler Mumbai-Jakarta, 19 Desember 2016, Chengdu-Jakarta Jan 2017.

Termasuk membuka Direct Flight Jakarta-Labuan Bajo Komodo bulan Oktober 2016 ini, dengan pesawat Bombardier,” ungkap Arief Yahya.

Dirut Garuda Indonesia Arif Wibowo mengucapkan terima kasih atas ide-ide Menpar Arief yang sudah sampai ke level kebijakan. Garuda juga konsisten untuk terus bekerjasama atau joint promotions dengan Wonderful Indonesia.

“Dari 10 Top Destinasi, kami sudah terbang ke-8 lokasi, tinggal 2 saja karena belum ada pesawat ke sana, yakni Tanjung Lesung dan Morotai,” kata Arif Wibowo.

Garuda sudah terbang di Silangit Danau Toba, Belitung Babel, Jogja-Solo-Semarang (Joglosemar) untuk Borobudur, Surabaya-Malang-Banyuwangi untuk Bromo Tengger Semeru, Lombok Praya untuk Mandalika, Komodo untuk Labuan Bajo, Matahora untuk Wakatobi. Di travel fair 2016 ini, stagenya sudah sangat pariwisata, dengan menampilkan desain destinasi seperti Bali, Lombok, Banyuwangi, Labuan Bajo, Raja Ampat, dan Wakatobi.

“Kami sudah 3 tahun berturut-turut menjadi The Best Cabin Crew Skytrack,” kata Arief Wibowo yang mempopulerkan hastag #GATF2016 untuk bursa travel fair di 18 kota itu.

Arif Wibowo juga menampilkan layanan-layanan eksklusif Garuda Indonesia, yang dicoba Menpar Arief Yahya di travel fair yang sudah ke-8 tahun itu. Tahun 2016 ini ada 2 fase, yang pertama bulan April 2016 dengan 14 kota untuk mengejar libur Lebaran. Yang kedua digulirkan di 18 kota, untuk sasaran liburan akhir tahun 2016.

“Sekarang mulai kami kombinasikan dengan online travel, karena sudah banyak pergeseran orang dalam bertransaksi. Dari walk in ke online system,”

kata dia.

Arif menjelaskan, pihaknya sudah melakukan Digital Experience, kemudahan berteknologi, Mobile Apps. Di VIP lounge, juga sudah disediakan kopi Aceh, kopi Papua, kopi Banyuwangi, Kopi Padang, dan Kopi Toraja.

“Kami juga mengajak video bloger untuk mengeksplorasi destinasi wisata Indonesia. Kami berikan gratis bagi mereka untuk promosikan Indonesia,” kata dia.
Anggoro Eko Cahyo, Direktor Customers BNI yang digandeng Garuda Indonesia dalam Travel Fair 2016 ini juga menyambut positif.

“Saya pantau sejak pukul 05.30 WIB sudah banyak yang antre. Ini memperkuat bahwa pariwisata kita semakin menuju kelas dunia, punya daya saing yang tinggi,” kata Anggoro.
Editor: Advertorial

Inspirasi Kopi Lokal Warnai Koleksi Giordano

by Tiffany Diahnisa – October 2, 2016

Setelah sebelumnya mengangkat kampanye seni dan destinasi wisata di Indonesia, clothing brand Giordano Indonesia kembali mengangkat tema lokal. Terinspirasi dari salah satu kekayaan alam Indonesia, Giordano ini meluncurkan koleksi terbarunya bertemakan kopi. “Kami melihat kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban, selain itu campaign ini merupakan salah satu cara untuk semakin mengenalkan kopi Indonesia ke global,” ujar Risky Gita, Creative Manager Girodano.

Dalam koleksi ini terdapat lima jenis kopi yang memiliki karakteristik khas, yakni Kopi Gayo (Aceh), Kopi Mandheling (Medan), Kopi Bali (Bali), Kopi Toraja (Sulawesi), dan Kopi Wamena (Papua). Dari karakteristik khas yang dimiliki masing-masing kopi, Giordano membawa kepribadian individu yang beragam dan unik, yang diperlihatkan melalui gaya berpakaian mereka sehari-hari.

Hal ini sesuai dengan filosofi Giordano, World Without Strangers, yang mengajak setiap individu untuk lebih memahami dan menerima perbedaan yang ada di sekitar. Pada campaign collection kali ini, Giordano menggaet nulisbukucom, sebuah layanan penerbitan mandiri. Kerja sama ini dilakukan agar pesan positif dari secangkir kopi dapat tersampaikan kepada masyarakat.

Inspirasi positif ini ditransformasikan dalam bentuk ilustrasi dan quotes, kemudian dituangkan kedalam kaos dan pullover. Teknik printing yang digunakan beragam, mulai dari flocking print untuk menulis quotes, hingga penggunaan teknik puff print, embroidery, 3D rubber print, dan glitter, dengan variasi warna hitam, putih, dan coklat.

Selain Coffee Collection, brand ini juga telah melakukan local development lainnya, seperti Art of Freedom (2014), The Legacy (2016), dan #oneINDONESIA (2016). Program ini bekerja sama dengan para illustrator Indonesia sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap talenta seni yang dimiliki oleh Indonesia. Ke depanya, Giordano akan menambahkan beberapa koleksi lainnya yang disesuaikan dengan trend dan budaya yang sedang berkembang dan melibatkan talenta muda di Indonesia.

Editor : Eva Martha Rahayu

Gubernur Papua: Pusat Tolong Perhatikan Kopi Papua

2016-07-01

Jika ingin bantu masyarakat gunung, jangan hanya bangun jalan tapi bangunkanlah ekonomi masyarakatnya yang sebagian besar sebagai petani kopi.

Memang selama ini daerah gunung identik dengan kemiskinan, konflik serta masyarakat yang tertutup. Maka untuk menghatasi hal itu tidak semata-mata membangun infrastuktur namun harus menghidupkan ekonomi masyarkat salah satunya dengan kopi.

“Ingin mensejahterakan masyarakat gunung, maka kembangkan kopi. Dengan kopi masyarakat papua bisa mendapatkan penghasilan yang menarik sehingga kesejahteraan lebih baik. Serta membuka interaksi orang gunung dengan orang luar,” kata Gubernur Papua, Lucas Enembe.

Berdasarkan catatannya, luas areal kopi di Papua pada tahun 2015 tercatat 10.113 ha, dengan produktivitas per ha hanya 438 kg. Dengan wilayah sentra adalah Kabupaten Jayawijaya dengan luasan hampir 3091 ha. Sedangkan sisanya tersebar di beberapa Kabupaten di Pegunungan seperti Pegunungan Bintang, Puncak Jaya, Yahukimo, Puncak, Paniai, Tolikara , Lanny Jaya, Intan Jaya, Dogiyai, Nduga dan Mimika.

Pengembangan kopi ini selaras dengan visi Papua yakni Bangkit, Mandiri dan Sejahtera. Artinya dengan kopi masyarakat Papua dapat bangkit dengan memanfaatkan potensi sumber daya alamnya.

Bahkan melalui kopi masyarakat dapat meraih kemandirian dari usaha perkebunan yang dikembangkan pada skala ekonomi sehingga dapat memperoleh mendapatkan pendapatan yang layak dan berkelanjunta sehingga mereka bisa menolong dirinya sendiri tanpa bergantung kepada orang lain.

“Jadi tujuan akhirnya yakni masyarakat sejahetera, yaitu masyarakat Papau bisa memperoleh pendapatan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” jelas Lucas.

Kementan, Jangan Hanya Urusi Pajale

Itulah sebabnya, lanjut Lucas Pemerintah Daerah berbagai upaya meningkatkan luasan dan produksi kopi Papua terkait dengan visi tersebut. Hanya saja jika mengandalkan ABPD tentu tidak cukup. Perlu adanya dukungan pusat untuk jangkauan yang lebih luas.

Hanya saja sering sekali pengembangan kopi didaerah tidak selalu didukung oleh Pemerintah Pusat. Bahkan belakangan ini terlihat Kementerian Pertanian (Kemeetan) disibukan dengan peningkatan produksi pangan dalam hal ini padi, jagung, dan kedelai (pajale). Padahal yang dinamakan pertanian tidak hanya komoditas pangan saja.

Diantaranya komoditas kopi yang masuk sebagai salah satu komoditas penyumbang devisa negara. Seperti diketahui, sampai saat ini komoditas perkebunan sebagai komoditas penyumbang devisa terbesar. Artinya sebagai penyumbang devisa negara maka komoditas perkebunan juga patut diperhatisa, diantaranya kopi.

“Kabarnya Pemerintah Pusat akan memberikan perhatian pada kopi, tapi sampai sekarang tidak ada realisasinya. Sementara Kementan fokusnya hanya pangan melulu,” keluh Lucas.

Memang, lanjut Lucas bahwa pemerintah perlu mencapai swasembada pangan, tapi bagaimana masyarakat bisa membeli makanan kalau tidak mempunyai sumber penghasilan yang menarik. Sehingga dalam hal ini diperlukan dukungan puuntuk dapat mengembangkan kopi organik di Papua agar bisa menghasilkan biji kopi specialty.

“Ini adalah strategi membuat petani kopi di Papua agar lebih sejahtera,” tegas Lucas.

Kopi Papua Diminati Asing

Sementara itu menurut Kepala Dinas Perkebunan Papua, John D. Nahumury menambahkan bahwa kopi Papua cukup diminati di dalam dan luar negeri termasuk juga untuk memenuhi kebutuhan gerai kopi Starbucks.

Terbukti, saat ini permintaan akan kopi Papua dari kalangan pemilik café ataupun eksportir dari Jakarta dan Surabaya cukup besar. Bahkan, pemerintah Polandia menyatakan minatnya untuk mendapatkan kopi Papua sebagaimana disampaikan wakil kedutaan besar Polandia untuk Indonesia saat kunjungan ke Papua beberapaa waktu lalu.

“Hanya saja supply biji kopi yang ada belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Itu sebabnya pemerintah daerah fokus pada pengembangan kopi karena pasarnya sudah tersedia,” risau John.

Melihat hal ini, menurut Jhon diperlukan berbagai program peningkatkan produksi baik itu program perluasan, intesifikasi dengan memberikan bantuan bibit dan pupuk organik. Selain sarana produksi juga perlu diberikan bantuan sarana pengolahan dan pasca panen. Lalu pada setiap Kabupaten didirikan sejumlah gudang penyimpanan kopi.

“Namun dari semua itu hal yang perlu didorong tentu saja peningkatan mutu, itu sebabnya perlu adanya tenaga pendamping. Serta daerah pengembangan harus dijadkan kawasan Indikasi Geografis,” ucap John.

Untuk itu, lanjut Jhon, agar bisa membangun kopi Papua sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat Papua maka harus melibatkan sinergi antara pusat baik itu Kementan, Kementerian Perdagangan ataupun kementerian lainnya serta juga Pemerintah Provinsi dan Kabupaten melalui sebuah gerakan. Tanpa itu maka pengembangan kopi akan bersifat parsial dan tidak akan memberikan manfaat yang efektif.

Pendapat tersebut diamini oleh Retno Hulupi, peneliti senior asal Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Bahwa untuk meningkatkan produksi kopi nasional maka perlu segera dilakukan pergantian tanaman dengan klon-klon unggul. Diantaranya klon khususnya arabika yang tahan terhadap nematoda dan punya cita rasa baik, serta pemberian pupuk yang sesuai dengan kondisi lahan.

“Namun sebaiknya selain bantuan fisik, hal utama yang harus disediakan pemerintah adalah pendampingan. Tanpa itu hasil maksimal dari bantuan yang akan diberikan tidak akan diraih,” pungkas Retno. YIN

Papua Kembangkan 20 Hektare Lahan Kopi Pegunungan Arfak

TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah Provinsi Papua Barat mulai mengembangkan lahan perkebunan kopi seluas 20 hektare di wilayah Kabupaten Pegunungan Arfak pada 2016.

“Kami sedang menyiapkan sebanyak 35 ribu bibit kopi jenis arabika. Penanaman akan dilakukan di lahan milik masyarakat di Distrik Testega,” kata Kepala Dinas Perkebunan, Agus Wali di Manokwari, Rabu (27 Juli 2016).

Dia menyebutkan awalnya bibit kopi tersebut akan diambil dari Pusat Penelitian Perkebunan Jember, Jawa Timur. Namun bibit dari lokasi tersebut dinilai sulit tumbuh di Pegunungan Arfak karena suhunya lebih dingin.

Sebagai penggantinya, Dinas Perkebunan mengupayakan bibit yang sama dari Wamena, Papua. Koordinasi sudah dilakukan dan saat ini proses pembibitan sedang berlangsung.

“Pegunungan Arfak merupakan daerah dengan ketinggian di atas 2.000 meter dari permukaan air laut. Bibit dari Jember memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri, berbeda dengan Wamena yang memang memiliki karakteristik daerah yang sama dengan Pegunungan Arfak,” katanya.

Agus mengutarakan pengembangan kebun kopi itu akan sepenuhnya melibatkan masyarakat setempat. Bibit yang disiapkan pemerintah daerah akan dibagikan kepada masyarakat di distrik tersebut.

Sementara itu, jumlah dan lokasi lahan penanaman tersebut sudah didata dan masyarakat dilarang membuka lahan baru untuk untuk mengantisipasi bencana longsor dan banjir bandang.

“Kami tahu bahwa Pegunungan Arfak adalah daerah rawan bencana. Untuk itu, penanaman ini cukup memanfaatkan lahan yang sudah ada, bisa di bekas kebun dan pekarangan masing-masing,” ujarnya lagi.

Pada program itu, pemerintah akan melakukan pendampingan kepada masyarakat dari pengolahan tanah, penanaman, hingga panen. Pemerintah pun akan menyiapkan dana stimulan berupa insentif, pelatihan pengolahan hingga pemasaran hasil produksi kopi olahan mereka.

Dia menilai potensi daerah tersebut cukup tinggi untuk pengembangan kopi. Para misionaris puluhan tahun lalu disebutnya sudah mengembangkannya di beberapa daerah Pegunungan Arfak.

Selain di Testega, pengembangan kopi pun akan dilakukan di Distrik Minyambouw. Di daerah tersebut, tanaman kopi sudah tumbuh cukup lama namun kurang perawatan. “Kami akan melihat, jika animo masyarakat tinggi, pendampingan akan kita lakukan biar mereka bisa memanfaatkan dan mengembangkan tanaman yang sudah ada,” pungkasnya.

ANTARA

Banyak Diminati Asing, Kopi Papua Perlu Perhatikan

JAKARTA (Pos Kota)- Gubernur Papua, Lucas Enembe meminta kepada pemerintah pusat agar lebih memperhatikan petani kopi di wilayahnya. Jika itu dilakukan berarti pemerintah telah berupaya mensejahterakan masyarakat Papua yang banyak menggeluti tanaman kopi.

“Jika ingin membantu masyarakat gunung di Papua, jangan hanya bangun jalan tapi bangun juga ekonomi masyarakat yang sebagian besar sebagai petani kopi,” katanya.

Menurut Lucas selama ini masyarakat di daerah pegunungan identik dengan kemiskinan, konflik serta masyarakat yang tertutup. Maka untuk menghatasi hal itu bukanlah dengan cara membangun infrastuktur namun harus menghidupkan ekonomi masyarkat, salah satunya dengan kopi.

“Ingin mensejahterakan masyarakat gunung, maka kembangkan kopi. Dengan kopi masyarakat Papua bisa mendapatkan penghasilan yang menarik sehingga kesejahteraan menjadi lebih baik. Serta membuka interaksi orang gunung dengan orang luar,” tambah Lucas.

Luas areal kopi di Papua pada tahun 2015 tercatat 10.113 ha, dengan produktivitas per ha hanya 438 kg. Dengan wilayah sentra adalah Kabupaten Jayawijaya dengan luasan hampir 3091 ha. Sedangkan sisanya tersebar di beberapa Kabupaten di Pegunungan seperti Pegunungan Bintang, Puncak Jaya, Yahukimo, Puncak, Paniai, Tolikara , Lanny Jaya, Intan Jaya, Dogiyai, Nduga dan Mimika.

Pengembangan kopi ini selaras dengan visi Papua yakni Bangkit, Mandiri dan Sejahtera. Artinya dengan kopi masyarakat Papua dapat bangkit dengan memanfaatkan potensi sumber daya alamnya.

Bahkan melalui kopi masyarakat dapat meraih kemandirian dari usaha perkebunan yang dikembangkan pada skala ekonomi sehingga dapat memperoleh pendapatan yang layak dan berkelanjunta sehingga mereka bisa menolong dirinya sendiri tanpa bergantung kepada orang lain.

“Jadi tujuan akhirnya yakni masyarakat sejahetera, yaitu masyarakat Papau bisa memperoleh pendapatan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” jelas Lucas.

Menurut Lucas pihak Kementan, jangan hanya mengurusi padi, jagung, dan kedelai (Pajale).
Itulah sebabnya Pemerintah Daerah melakukan berbagai upaya meningkatkan luasan dan produksi kopi Papua terkait dengan visi tersebut. Hanya saja jika mengandalkan ABPD tentu tidak cukup. Perlu adanya dukungan pusat untuk jangkauan yang lebih luas.

Kepala Dinas Perkebunan Papua, John D. Nahumury menambahkan bahwa kopi Papua cukup diminati di dalam dan luar negeri termasuk juga untuk memenuhi kebutuhan gerai kopi Starbucks.

Terbukti, saat ini permintaan akan kopi Papua dari kalangan pemilik café ataupun eksportir dari Jakarta dan Surabaya cukup besar. Bahkan, pemerintah Polandia menyatakan minatnya untuk mendapatkan kopi Papua sebagaimana disampaikan wakil kedutaan besar Polandia untuk Indonesia saat kunjungan ke Papua beberapaa waktu lalu.

(faisal/sir)