PELUANG USAHA: Specialty Coffee Jadi Potensi Pengembangan di Indonesia

Bisnis.com, MEDAN – Kementerian Perdagangan menilai specialty coffee (kopi khusus) menjadi potensi terbesar bagi pengembangan kopi Indonesia. Adapun, tren perdagangan kopi dunia pada saat ini cenderung ke specialty coffee.

Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kementerian Perdagangan Ni Made Ayu Marthini menuturkan saat ini permintaan terhadap specialty coffee terus meningkat. Kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

“Pembelian specialty coffee sedang bergelora. Arahnya memang ke sana. Secara volume memang masih sdikit, dan nilainya justru lebih tinggi. Di Amerika Serikat misalnya, peralihan konsumsi dari non-specialty ke specialty coffee dalam 5 tahun terakhir sudah mencapai 40%. Ini peluang” papar Made, di sela-sela Temu Kopi Sumatra, Rabu (2/11/2016).

Indonesia, lanjutnya, merupakan negara produsen kopi terbesar keempat di dunia. Total produksi mencapai 691.000 ton per tahun. Di atas Indonesia, ada Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Saat ini, terang Made jumlah produksi kopi dunia terus menurun, sementara permintaan semakin banyak.

“Kita harus terus mencari dan update specialty coffee baru. Kami punya pilot project di Pegunungan Tengah, Papua. Selama ini yang terkenal kan kopi dari Wamena. Nah, kami coba fasilitasi kopi hutan di Pegunungan Tengah, sehingga bisa dijual,” tambah Made.

Dia juga mencontohkan saat ini specialty coffee yang tengah diburu yakni dari Sudan Selatan. Indonesia sendiri memiliki potensi ratusan jenis yang bisa menjadi specialty coffee. Saat ini Indonesia baru memiliki 14 kopi yang sudah tersertifikasi Geographical Indications (GI).

Kendati memiliki banyak potensi specialty coffee, para produsen kopi juga diminta terus menjaga mutu. Pasalnya, selama ini meski specialty coffee asal Indonesia banyak dikenal di mancanegara, konsistensi mutu belum sepenuhnya terpenuhi.

Tak hanya itu, persoalan perubahan iklim, ketimpangan kesejahteraan petani, dan strategi promosi juga masih menjadi kendala. Made mengemukakan, saat ini pemerintah mendukung pengembangan bibit kopi yang lebih adatif terhadap perubahan iklim.

Terkait dengan kesejahteraan petani, pemerintah juga terus mencari ekulibrium harga di tingkat konsumen dan petani.

“Untuk promosi, kami punya dua strategi yakni pengembangan story line atau kisah di balik kopi tersebut dan pembuatan tur kopi ke perkebunan. Konsumen kopi masa kini lebih suka jika tahu latar belakang kopi yang dia minum. Petaninya siapa, kehidupannya bagaimana. Ini bisa menaikkan value kopi.”

Bisnis Kopi Papua, KSU Baliem Arabica dan PAPUAmart.com

Lukas Enembe di Lapangan SPMA Gudang BBCoffee
Lukas Enembe di Lapangan SPMA Gudang BBCoffee

Sejak tahun 2015, tepatnya pertengahan tahun lalu, bulan Mei 2015, telah dilakukan berbagai penyesuaian berarti dalam bisnis Kopi Papua. Penyesuaian utama dan terpenting dalam sejarah bisnis Kopi Papua ialah perombahan struktur organisasi dan jalur distribusi Kopi Papua.

Perombakan dimaksud sebagai tindak-lanjut dari kebijakan pembentukan Unit Marketing & Sales Kopi Papua yang telah didirikan tahun 2013, berkantor pusat di pulau Jawa: Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dengan pembentukan Unit Markting dan Sales KSU Baliem Arabica pada tahun 2013, maka secara otomatis pemasaran Kopi Papua berorientasi kadada konsumen dan pebisnis Kopi di Indonesia, sebuah perubahan yang berarti, karena pada tahun-tahun sebelumnya telah terjadi export kopi Papua secara berturut-turut sejak tahun 2009.

Setelah toko Online PAPUAmart.com didirikan tahun 2014, maka disusul dengan proposal kepada KSU Baliem Arabica untuk membentuk sebuah Minimarket PAPUamart.com di Tanah Papua

PAPUAmart.com dimaksudkan untuk melanjutkan fungsi dan tugas Unit Marketing & Sales KSU Baliem Arabica, mempromosikan dan menjual Kopi Papua produk KSU Baliem Arabica kepada konsumen di Indonesia.

Perombahan cukup berarti yang terjadi pertengahan tahun 2015 dimaksudkan untuk menyelamatkan bisnis Kopi Papua karena banyak tengkulak dan mafia Kopi Papua. Menyusul strukturisasi Unit Marketing & Sales, maka dilakukan pembenahan di Gudang Produksi Kopi Papua.

Pada akhir tahun 2015, sejalan dengan peluncuran MEA (Masyarakat Ekonomi Eropa) maka KSU Baliem Arbaica juga membuka Gudang Kopi PAPUAmart.com di Jakarta.

Pada tahun 2016 ini diharapkan agar semua penjualan Kopi Papua dipusatkan dari Jakarta, sehingga dapat dibagikan secara merata di seluruh pulau Jawa dan Sumatera, sementara penjualan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur dilakukan dari Yogyakarta, dan penjualan ke Bali dan Sulawesi serta Borneo dilakukan langsung dari Tanah Papua.

Arah Bisnis Kopi Papua: Memenuhi Permintaan di Indonesia sampai 100%

Barisa Kopi Papua, D.R. Kwano
Barisa Kopi Papua, D.R. Kwano

KSU Baliem Arabica sebagai produsen Kopi Papua, dan exportir tunggal Kopi Papua menyampaikan kepada seluruh penikmat dan pengusaha Kopi di Indonesia bahwa untuk panen tahun 2016 ini akan difokuskan untuk memenuhi permintaan Kopi Papua yang ada di Indonesia secara 100%, artinya kami upayakan untuk memenuhi semua permintaan kopi Papua yang ada di Indonesia.

Menurut Kepala Unit Marketing & Sales KSU Baliem Arbabica (Direktur PAPUAmart.com), Jhon Yonathan Kwano, kami dari Petani Kopi Papua, yang adalah Masyarakat Adat Papua di Kabupaten Lanny Jaya, Mamberamo Tengah, Jayawijaya dan Tolikara telah mengambil keputusan utnuk memenuhi permintaan kopi di Indonesia sebelum berbicara mengenai pengiriman Kopi Papua ke pasar di Asia atau Amerika Serikat.

Menurut Kwano alasan utama fokus produksi Kopi Papua untuk pemenuhan kebutuhan di pasar di Indonesia ialah kapasitas produksi Kopi Papua standard export yang masih belum dapat dijamin dari sisi stabilitas total produksi.

“Kalau sudah mausk pasar global, maka kita harus pastikan berapa ton kami produksi setiap tahun. Kami tidak bisa masuk ke pasar internasional kalau produksi kopi Papua selalu naik-turun, antara 5 – 20 ton per tahunnya. Nanti kalau para pemain kopi Papua mengatur diri kami sendir di  tanah Papua sendiri, menyingkirkan para pemain yang tidak bermoral yang berkeliaran saat ini, itu baru kita akan dengan yakin masuk ke pasar global. Sebenarnya kita sudah masuk pasar global, tetapi dengan total produksi yang tidak stabil maka kita tidak dapat mempertahankan reputasi kita. jadi, persoalannya bukan dari sisi standard, atau kemampuan finansial dan administrasi, tetapi terutama dari sisi total produksi yang selalu berubah-ubah.”

demikiankata Kwano.

Masih menurut Kwano, pemasaran Kopi Papua difokuskan ke pasar Indonesia selain karena faktor total produksi yang tidak stabil, dari sisi bisnis, “pasar kopi di Indonesia sudah cukup menjanjikan, dikaitkan dengan jumlah kopi yang sanggup diproduksi oleh KSU Baliem Arabica. Oleh karena itu, kami memfokuskan diri kepada pasar di Indonesia dulu.,

Bukan itu saja, masyarakat Papua juga sudah semakin banyak meminum kopi. Banyak cafe telah dibuka di Jayapura saja dapat dikataan lebih dari 50 cafe sudah ada, belum lagi di seluruh kabupaten dan di provinsi Papua Barat. Ditambah lagi, KSU Baliem Arabica sendiri lewat BANANA Leaf Cafe telah membuka cafe-cafe dalam bentuk warung maupun meja kopi Papua di berbagia tempat di Tanah Papua sehingga banyak kopi yang dikonsumsi di Tanah Papua sendiri. Hal ini berakibat kopi yang dikirim keluar dari Tanah Papua sudah mulai berkurang.

Jhon Kwano melihat tidak lama lagi memang Kopi Papua akan diekspor ke pasar global, tetapi ia memperingatkan

BANANA Leaf Cafe, Cafe Kopi Papua
BANANA Leaf Cafe, Cafe Kopi Papua

Kita jangan punya pikiran kalau kopi grade A dan segala barang kualitas bagus orientasinya diekspor keluar. Kita harus rubah cara berpikir budak dan kaum terjajah. Kita harus minum kopi Grade A, standard export di Tanah Papua, kalau kita produksi kopi itu di sini. Kita sudah export emas, perak, tembaga, kayu, kakao, sekarang kualitas terbaik kopi juga ke pasar global, ini murni cara berpikir pengusaha mental budak.

Kita harus mampu memenuhi kebutuhan kopi di Tanah Papua. Semua penikmat kopi di Tanah Papua minum Kopi Papua Grade A, lalu kita penuhi permintaan kopi di Indonesia dalam bentuk Green Beans Grade A itu, setelah itu baru kita pikir tentang export ke negara dan bangsa lain.

Mental budak itu apa? Kalau tuannya senang, dia ikut senang. Dan kalau tuannya makan di meja, hambanya makan di luar meja. Tuannya makan yang inti, hambanya makan yang bekas dan yang tidak mau dimakan si tuan. Kami tidak menghitung nilai diri kita dari berapa ton kita export, tetapi berapa ton kita sendiri habiskan di tanah Papua dan di Indonesia.

Polandia Akui Tertarik Kopi Papua

Jayapura, Jubi – Konselor Pertama Bidang Divisi Promosi Perdagangan dan Investasi Kedutaan Besar Polandia untuk Indonesia di Jakarta mengakui pihaknya merupakan penggemar dan pengonsumsi kopi produksi Papua, sehingga berharap bisa mendapatkan komoditas tersebut.

Konselor Pertama, Romuald Morawski, yang merupakan Kepala Bidang Divisi Promosi Perdagangan dan Investasi, di Jayapura, Selasa 99/2/2016), mengatakan pihaknya berharap produksi kopi di Papua dapat diekspor ke Polandia.

“Kami sangat menyukai kopi Papua karena kualitasnya yang bagus sehingga jika boleh dapat diekspor ke Polandia,” katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua terus mendorong produksi komoditi kopi di wilayahnya dengan perluasan areal penanaman, melakukan intensifikasi, dan rehabilitasi lahannya.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Papua, Jhon Nahumury, mengatakan pihaknya menargetkan tahun ini akan dibangun pabrik kopi di wilayah Lapago yakni di Kabupaten Jayawijaya dan wilayah Mepago, tepatnya di Kabupaten Dogiyai.

“Dimana untuk pabrik kopi di Kabupaten Dogiyai rencananya berskala kecil atau hanya berupa industri rumah tangga,” katanya.

Jhon menjelaskan setelah pembangunan pabrik kopi di Dogiyai, selanjutnya target mendirikan bangunan yang sama di wilayah Lapago Jayawijaya.

“Perluasan areal perkebunan kopi, tidak hanya fokus di kabupaten di mana pabrik itu didirikan, tetapi juga akan didorong di kabupaten lainnnya yang masuk dalam wilayah Lapago maupun Mepago,” katanya. (*)

Teh dan Kopi Indonesia Kuasai Pasar Malaysia

Senin , 21 April 2014 02:17 | Ekonomi & Bisnis; 14 April 2014 02:16:47, dari Deiyaikab.go.id

DEIYAI – Indonesia tercatat sebagai pemasok utama produk teh dan kopi di Malaysia dengan pangsa pasar yang terus meningkat, di mana nilainya kini mencapai hingga ratusan juta ringgit dalam setahun.

Dari data yang dihimpun menunjukkan bahwa tren ekspor teh dan kopi asal Indonesia ke negara ini terus meningkat dengan nilai yang cukup menggembirakan. Berdasarkan data ekspor teh Indonesia ke Malaysia, pada 2013 mencapai 57,96 juta ringgit (Rp200 miliar) dan ekspor kopi senilai 281,22 juta ringgit (Rp973 miliar).

Pangsa pasar teh Indonesia di Malaysia pada 2013 mencapai 36 persen, diikuti Tiongkok 18,5 persen, India (7,2 persen), Vietnam (7 persen) dan Sri Lanka (5,5 persen). Sedangkan pangsa pasar kopi Indonesia di negara ini sebesar 43,2 persen diikuti Vietnam (32,7 persen), dan Brasil (10 persen).

Besarnya permintaan akan hasil komoditas perkebunan dari sejumlah daerah di Tanah Air ini sejalan dengan terus menjamurnya tempat minum teh ataupun kedai kopi di negara jiran itu.

Teh hitam jenis dust dari Indonesia merupakan produk yang paling dicari karena menjadi bahan pencampur utama bagi produk teh Malaysia.
Sebelumnya, dalam pameran Malaysia International Tea & Coffee Expo (MITCE) yang berlangsung 27-31 Maret di Kuala Lumpur, aneka produk teh dan kopi asal Indonesia juga mendapatkan peminat yang besar.

Contohnya, perusahaan perkebunan milik negara, dalam hal ini PTPN VIII yang ikut serta dalam pameran tersebut berhasil mendapatkan pembelian teh dalam jumlah besar mencapai 290 ton dengan nilai mendekati 600 ribu dolar AS. Marketing Manager PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero), Ahmad Kertabumi, mengungkapkan bahwa Malaysia merupakan pasar utama dengan menyerap 23 persen dari total ekspor teh dari perkebunan milik negara ini.

Sementara itu, sebelumnya, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Unit Usaha Pagaralam sebagai produsen teh telah membangun unit pengolahan teh dengan metode CTC (crushing tearing curling). Tujuan pembangunan unit pengolahan teh CTC itu adalah untuk melakukan diferensiasi produk teh agar dapat memenuhi selera konsumen, termasuk mengincar pasar teh global yang mampu menciptakan produk brand new and different from the others.

Keistimewaan serta keunggulan teh produk PTPN VII Unit Usaha Pagaralam di Sumatera Selatan itu adalah pada rasa dan aroma teh yang unik dan khas. Kekhasan itu diperoleh tidak lain karena letak geografis kebun teh yang berada pada ketinggian rata-rata 1.500 meter di atas permukaan laut yang merupakan dataran tertinggi di Sumsel.

Dalam upaya menciptakan produk yang memenuhi kriteria food grade tersebut, PTPN VII menerapkan teknologi dengan memperhatikan prinsip-prinsip higienis, dan juga didukung oleh peralatan full automatic processing serta konsultan produk berpengalaman dari India, sehingga menjamin mutu produk terjaga dan bisa memenuhi selera serta memberikan kepuasan konsumen. Beberapa produk CTC yang ada, antara lain mutu I, yakni BP, PF, Dust I, dan untuk mutu II yakni Dust II.

Teh merupakan salah satu minuman yang paling banyak dan umum dikonsumsi di dunia. Teh berasal dari China, di mana sekitar abad ke-16 ketika Portugis ke daerah tropis, kolonialnya, maka minuman teh diperkenalkan dan diimpor ke Eropa dan dengan cepat meraih popularitas. Popularitas ini membuat Portugis dan Belanda memutuskan untuk membangun perkebunan teh skala besar di daerah tropis koloni mereka.

Saat ini, perkebunan teh di Indonesia kondisinya terus menurun diakibatkan karena luas lahan perkebunan teh di Indonesia berkurang, saat ini 120.000 hektar di mana sebelumnya adalah 150.000 hektar.

Sampai saat ini Indonesia masih berada di peringkat ketiga untuk penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brasil dan Vietnam. Hasil produksi kopi pada tahun 2012 sebesar 748 ribu ton atau 6,6% dari produksi kopi dunia.

Dalam kurun waktu dari Januari-November 2013 tercatat 32 juta dolar AS dari total 47 juta dolar impor kopi mesir, yakni menguasai 71 persen pangsa pasar dinegeri itu. Namun impor kopi Mesir dari Indonesia pada Januari-November 2013 menurun 9,43 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya tercatat 35,32 juta dolar.

Jumlah tersebut terdiri dari produksi kopi robusta mencapai lebih dari mencapai lebih dari 601 ribu ton atau sebesar 80,4% dan produksi kopi arabika mencapai 147 ribu ton atau sebesar 19,6%. Kopi Indonesia memiliki peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat Indonesia.

Indonesia sangat kaya dengan letak geografisnya yang cocok untuk lahan perkebunan kopi. Dengan memiliki luas lahan perkebunan kopi Indonesia mencapai 1,3 juta hektar, dengan luas lahan perkebunan kopi robusta mencapai 1 juta ha dan arabika 0,30 ha. Dengan demikian industri kopi menjadi salah satu industri prioritas yang terus dikembangkan.

Beberapa produk kopi yang menjadi andalan bagi penikmatnya ada Gayo Coffee, Mandaling Coffee, Lampung Coffee, Java Coffee, Kintamani Coffee, Toraja Coffee, Bajawa Coffee, Wamena Coffee, dan juga Luwak Coffee.