Kerja Keras Petani Kopi Papua Maximus Lani

Dua tahun lalu, Maksimus Lani mampir ke sebuah kedai kopi modern di Jakarta. Ia memesan secangkir kopi arabika wamena. Ia kaget bukan kepalang begitu tahu harga secangkir kopi wamena mencapai Rp 100.000.

KOMPAS/FABIO M LOPES COSTA
Dari pengalaman di Jakarta, Maksimus sadar bahwa kopi yang ditanam di Lembah Baliem, Pegunungan Tengah Papua, itu punya nilai ekonomi tinggi. Ia senang mengetahui hal itu, tapi pada saat bersamaan ia merasa miris. Pasalnya, ia tahu perkebunan kopi arabika di Pegunungan Tengah belum dimanfaatkan secara maksimal.

Ketika berkunjung ke sejumlah daerah perkebunan kopi di Kabupaten Jayawijaya dan Yahukimo beberapa tahun lalu, ia melihat banyak petani membiarkan biji-biji kopi yang ranum perlahan membusuk di pohon. Itu terjadi karena harga kopi di tingkat petani sangat rendah.

Tengkulak hanya mau membayar Rp 5.000-Rp 10.000 per kilogram. Akibatnya, petani tidak bergairah membudidayakan kopi secara serius. Mereka pasrah pada alam yang berbaik hati memberikan kopi serta tengkulak yang mematok harga rendah.

Maksimus merasa bisa mengubah keadaan itu. Ia memiliki pengalaman menjadi petani kopi di Walesi, Kabupaten Jayawijaya, sejak 1997. Ia juga pernah mengikut program magang mengelola kopi di Jember, Jawa Timur, pada September 2010 yang digelar oleh Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Saat itu, ia belajar mulai dari cara menanam, mengolah biji kopi pasca panen, hingga mengemas biji kopi yang akan dijual.

Laki-laki yang semula bertani sayur, ubi, dan beternak babi itu akhirnya mengambil inisiatif untuk menularkan pengetahuannya kepada petani kopi di Pegunungan Tengah Papua sejak Januari 2014. Melalui para tetua adat, ia temui para petani di sentra-sentra perkebunan kopi.

Pertama-tama, ia menyadarkan petani bahwa kopi arabika dari Pegunungan Tengah Papua punya nilai ekonomi tinggi sehingga mesti dikembangkan untuk kesejahteraan petani. Berikutnya, ia mengajarkan dasar-dasar pengolahan biji kopi arabika mulai dari pengupasan kulit, penjemuran, hingga proses fermentasi biji kopi dan pengemasan.

“Biasanya proses penjemuran biji kopi memakan waktu hingga sepekan karena cuaca di wilayah ini sejuk. Tetapi, proses fermentasi biji kopi hanya memakan waktu sehari,” papar Maksimus yang ditemui di Okesa, sekitar 20 kilometer dari Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, pertengahan Agustus lalu.

Nekat

Perlahan tapi pasti, kegairahan petani untuk memproduksi kopi muncul. Sejak pertengahan 2014, mereka giat merawat perkebunan kopi yang ada di Lembah Baliem pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut di tengah udara yang sejuk. Lingkungan seperti ini menghasilkan kopi beraroma kuat dan harum.

Persoalan berikutnya adalah siapa yang mau membeli kopi petani dengan harga lebih tinggi daripada yang ditawarkan tengkulak? Maksimus dengan setengah nekat bersedia membeli kopi petani. Ia menawarkan harga Rp 30.000-Rp 40.000 per kilogram biji kopi, bergantung pada kadar airnya. Harga itu 3-5 kali lipat harga yang dipatok tengkulak. Pembelian dilakukan melalui Koperasi Okesa yang didirikan Maksimus dengan bantuan modal dari Pemerintah Kabupaten Jayawijaya. Saat ini, jumlah anggotanya sekitar 500 petani.

Mendapatkan harga yang tinggi, petani semakin giat mengembangkan kopi. Dari anggota Koperasi Okesa, Maksimus bisa mendapatkan 20 ton biji kopi kering per tahun dari perkebunan kopi seluas 272 hektar. Perkebunan itu terdiri dari 152 hektar di Jayawijaya serta 120 hektar di Tangma dan Kurima yang masuk wilayah Kabupaten Yahukimo.

Dengan setoran kopi sebanyak itu, Maksimus mesti bekerja keras memasarkan lagi kopi yang dibeli dari petani ke distributor dan pabrik pengolahan kopi. Ia terbang ke Jayapura, ibu kota Papua, membawa sampel kopi untuk ditawarkan kepada PT Garuda Mas. Ia juga menemui pengurus Koperasi Kopi Amungme bernama Arnold di Kabupaten Mimika.

“Saya hanya modal nekat memasarkan biji kopi milik petani di Jayapura dan Timika (ibu kota Kabupaten Mimika). Puji Tuhan, usaha saya berhasil,” ujar Maksimus.

Ia menjual biji kopi kepada pembeli di Jayapura seharga Rp 70.000 per kilogram dan di Timika seharga Rp 80.000 per kilogram. Harga penjualan masih tinggi karena biaya angkut kopi dengan pesawat dari Wamena cukup mahal.

Meski begitu, permintaan kopi dari Pegunungan Tengah, yang di pasar sering disebut kopi wamena, terus mengalir. Dalam satu pengiriman, Maksimus bisa memasok 1 ton-2 ton kopi ke Jayapura dan Timika.

Di Jayapura, satu kemasan biji kopi arabika seberat 250 gram dijual pedagang Rp 70.000. Setelah masuk ke kota-kota besar lain, seperti Jakarta, harganya lebih tinggi lagi.

Buah kerja keras

Kini petani kopi di Pegunungan Tengah Papua bisa tersenyum. Pada masa panen raya kopi yang berlangsung Juni-Agustus dan November-Desember, petani semakin rajin mendatangi Koperasi Okesa untuk menyetor biji kopi. Mereka berasal dari tujuh sentra perkebunan kopi di Jayawijaya, yakni Jagara, Piramid, Hubi Kosi, Muliama, Kurulu, Jalengga, dan Pugima, serta dua distrik di Kabupaten Yahukimo, yakni Tangma dan Kurima.

Kamis pagi, pertengahan Agustus lalu, terlihat 20 petani daerah Tangma dan Kurima datang ke kantor Koperasi Okesa yang terletak di Kampung Jagara, Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya. Petani masing-masing membawa dua karung biji kopi kering. Mereka disambut oleh dua pegawai koperasi yang segera menimbang biji kopi kering yang mereka bawa.

Saat itu juga, Maksimus membayar biji kopi yang dijual anggota koperasi. Hari itu, para petani bisa membawa pulang uang Rp 800.000. Dengan wajah gembira, mereka meninggalkan kantor Koperasi Okesa menuju Wamena untuk membeli berbagai kebutuhan pokok.

Ketika mereka sibuk berbelanja, Maksimus dan pegawai koperasi sibuk mengolah biji kopi yang baru tiba. Mereka mengupas kulit tanduk kopi dengan menggunakan alat khusus yang biasa disebut huller. Setelah itu, mereka memilah biji kopi berkualitas baik.

Begitulah rutinitas Maksimus beberapa tahun terakhir. Berkat kengototannya mengembangkan kopi Pegunungan Tengah, banyak petani yang mulai meningkat taraf hidupnya. Mereka tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga membiayai anak-anaknya sekolah.

Namun, Maksimus masih belum puas. “Saya ingin petani tak hanya memasok bahan baku. Suatu hari, kami mesti memiliki industri pengolahan kopi sendiri sehingga bisa mendapat keuntungan yang layak,” tutur ayah tujuh anak ini.

Sudah saatnya Kopi Papua Go Internasional

DOGIYAI , PAPUANEWS.ID – Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Trikasih Lembong mengajak pemerhati kopi dan masyarakat dunia untuk lebih dekat dengan kopi Papua melalui Program “Dengan Bangga Menyeduh Kopi Papua”. Sebelumnya, beliau sukses mempromosikan kopi Indonesia di tingkat global melalui ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016.

Peluncuran program “Dengan Bangga Menyeduh Kopi Papua” yang dilakukan di Kabupaten Dogiyai, Papua, hari ini (11/6/2016) sekaligus menjadi bagian penting “Gerakan Papua Bekerja dan Unggul” yang merupakan program milik Kelompok Kerja Papua yang mendapat dukungan sepenuhnya oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag).

“Provinsi Papua menyimpan potensi kopi berkelas dunia. Papua menjadi salah satu daerah penghasil kopi di Indonesia yang sangat diminati, selain kopi Gayo, Mandailing, Jawa, Toraja, Sumatra, dan Sulawesi,” kata Tom Lembong.

“Kegiatan pemberdayaan dan edukasi ini bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan petani agar lebih optimal. Kita tahu bahwa konsumen rela membayar mahal untuk kopi yang nikmat, namun sayangnya petani kurang mengetahui harga jual kopi di pasaran,” lanjutnya.

Kabupaten Dogiyai memiliki 10 kecamatan yang keseluruhannya menyimpan potensi kopi, namun belum maksimal produksinya. Di kabupaten ini, Mendag melihat dari dekat tahapan produksi kopi dan fasilitas pengeringan, serta proses produksi kopi dari awal hingga akhir.

Sementara itu, Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kemendag Ni Made Ayu Marthini yang ikut dalam acara tersebut menyatakan pentingnya edukasi dan dukungan sarana dan prasarana bagi petani kopi.

“Para petani kopi di Indonesia juga harus mengetahui harga kopi di pasaran agar nilai jualnya tinggi sehingga petani dapat lebih sejahtera,” tuturnya.

Banyak petani kopi lokal yang tidak mengetahui harga jual kopi di pasaran. Harga coffee cherries-nya jarang dibicarakan, padahal banyak petani yang dibayar dalam bentuk buah cherries untuk produk kopinya.

elain itu, petani juga seharusnya mengetahui bahwa rasio yang dihasilkan pemrosesan coffee cherries menjadi green beans adalah 7 banding 1.

Artinya, 7 kg coffee cherries setelah diproses hanya bisa menghasilkan 1 kg coffee green beans. Harga buah (coffee cherries) dan biji kopi yang dijual oleh para petani kopi saat ini terbilang masih rendah.

Made mencontohkan, di Kabupaten Dogiyai, para petani tidak menjual kopi dalam bentuk cherries atau buah. Kopi yang dijual yaitu dalam bentuk biji yang sudah disangrai atau bubuk dengan harga Rp30.000-35.000/kg.

Sedangkan ada petani di Jawa Barat yang menjual coffee cherries hasil panennya seharga Rp7.000-8.000/kg, atau di bagian Jawa lainnya ada yang menjual coffee cherries hasil panennya Rp6.000-8.000/kg.

“Sudah sepantasnya petani kopi memperoleh harga yang lebih tinggi untuk memberi nilai ekonomi yang baik bagi petani,” tutup Made. (Red.DW)

Jadi Raksasa Kopi, tetapi Indonesia Tak Bisa Kendalikan Harga

JAKARTA, KOMPAS.com [Jumat, 3 Juni 2016 | 21:23 WIB] — Indonesia diakui menjadi surga kopi dunia.

Selain Brasil, Vietnam, dan Kolombia, Indonesia merupakan produsen kopi terbesar dunia.

Bahkan, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Karyanto Suprih, mengatakan, ketika Brasil mengalami gagal panen pada beberapa tahun silam, Indonesia menjadi pemasok mayoritas kebutuhan kopi dunia.

Sayangnya, hingga saat ini, harga pasaran kopi Indonesia masih ditentukan oleh negara lain.

Untuk kopi jenis robusta, harga komoditas kopi mengacu pada bursa berjangka di London, Inggris.

Sementara itu, untuk jenis arabika, harga komoditas kopi mengacu pada bursa berjangka di New York, Amerika Serikat.

Karyanto berharap, ke depan, Indonesia bisa menjadi price-makerkomoditas kopi.

“Ini sedang direncanakan. Kalau bisa, kan bagus karena kita produsen kopi dunia yang utama,” kata Karyanto di Jakarta, Jumat (3/6/2016).

Karyanto berharap, diskusi yang dilakukan oleh asosiasi produsen kopi nasional bisa berjalan mulus dan membuahkan kesepakatan.

Jika berhasil, kopi akan menyusul komoditas timah yang sudah terlebih dahulu diperdagangkan melalui bursa berjangka.

Ditemui dalam kesempatan sama, Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto menyebutkan, saat ini produksi kopi nasional tercatat mencapai 600.000 ton.

Sebanyak 400.000 ton di antaranya diekspor.

Pranoto sangat menyayangkan, Indonesia belum mampu menjadi penentu harga kopi dunia.

Justru negara-negara yang bukan produsen kopilah yang menentukan harga.

Penulis : Estu Suryowati
Editor : M Fajar Marta

Nih, Kopi Papua Arabika Organik Penuh Khasiat

BANDUNG, Indonesia2Day – Tanah yg subur membuat Indonesia kaya mulai hasil perkebunan, terutama perkebunan dataran tinggi seperti kopi. Salah sesuatu dataran tinggi di Indonesia ternyata memproduksi kopi arabika terbaik, rendah asam dan kafein.

Kwei Ing, salah sesuatu penyedia kopi arabika Papua ketika Organic Weekend Festival di Hotel Crowne Plaza Bandung, Sabtu (19/3/2016) menyampaikan kopi arabika dari dataran tinggi Papua yaitu salah sesuatu kopi terbaik yg dimiliki Indonesia.

“Kopi arabika yg ditanam di area puncak pegunungan Jayawijaya memiliki kadar asam yg mendekati nol, dan kafein yg rendah. Karena semakin tinggi tempatnya, kopi arabika mulai semakin bagus,”

ujar Ing kepada KompasTravel.

Menurut Ing, kopi arabika ditanam pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, secara geografis termasuk yg tertinggi di dunia. Sehingga bebas polusi, bebas hama, dan tak membutuhkan pupuk.

Kopi tersebut pun diekspor ke dua negara Eropa bahkan Amerika, tetapi masyarakat Indonesia banyak yg belum mengetahui kehebatan kopi Papua tersebut.

Menurutnya kopi organik tersebut memiliki antioksidan 10 kali dari buah lemon, dan digunakan sebagai obat dua penyakit di Amerika, seperti kanker payudara dan vertigo. Kafein yg didapat dari dataran tinggi papua yaitu pencegah kanker payudara terbaik.

Salah sesuatu kopi arabika organik yang berasal Papua tersebut ber label Hibo, kopi tersebut dipanen hingga diolah di Papua. Dia menambahkan proses tersebut dikerjakan bagi menjaga kualitas biji kopi yg di panen, buat segera diolah dan dikemas.

“Kopi arabika yg rentan terhadap hama, ditanam secara organik dan diberi perlakuan khusus agar bebas hama. Untuk menjaga kualitas, segera di-roasted di Papua, baru dibawa keluar setelah siap,”

ujar Ing.

Hibo sendiri cuma mengeluarkan beberapa macam atau beberapa varian rasa yg berbeda sesuai dari tahapan pengolahannya. Pertama dark french yg lebih ringan dan black italian, yg memiliki cita rasa arabika lebih kuat dan lebih hitam.

KompasTravel berkesempatan mencicipi keduanya di stand kopi organik Papua tersebut, ketika acara Organic Weekend Festival di Crowne Plaza Bandung. Dark french memiliki warna yg lebih tembus pandang, dibanding black italian.

Ketika diseruput, dark french memiliki rasa pahit yg sama seperti arabika pada umumnya tetapi rasa asamnya lebih tipis. Sedangkan black italian, memiliki aroma dan pahit yg lebih kuat, tetapi sama sekali minim rasa asamnya.

Ing menambahkan seandainya ampas dari kopi organik tersebut baik bagi detoksifikasi. Dengan cara diseduh ulang dengan memakai air pans, dan diminum tanpa campuran.

Kopi arabika organik dari Papua tersebut mampu Anda dapatkan di Natural Farm, Trans Studio Mall Bandung, dan Graha Radio Maestro, Jalan Kacapiring nomor 12, Bandung. Untuk takaran 100 gram seharga Rp 65.000 dan 200 gram seharga Rp 100.000.

Sumber: http://travel.kompas.com

Kopi Papua sudah miliki Gudang di Jakarta per Desember 2015

Sebagaimana diberitakan oleh PAPUAmart.com dalam blognya, Kopi Papua, pertama-tama Wamena Single Origin kini telah tersedia di Gudang PAPUAmart.com atau Gudang Kopi Papua di Jakarta dengan alamat lengkap berikut:

Jl. Muhammad Kahfi no. 1
Gg, Nila No. 75
Kel. Ciganjur
Kec. Jagakarsa
Jakarta Selatan
SMS: 0856-9135-0287 (Mas Gito) / WA: 085769223000 (Jhon Kwano)

Email: info@pas.coffee; info@papua.coffee; info@kopipapua.biz; info@baliemarabica.com; papuamart@gmail.com

Social Media:
Twitter @papuamart  & @bbcoffee
FB: @papuamart  @bbcoffee
Linkedin @papuamart @bbcoffee
Tumblr: @papuamart @baliemarabica

Harga Kopi yang kami sediakan di Jakarta per kg Green Beans ialah Rp.130.000,-

Anda dapat membelinya sebanyak 1 kg – 599 kg dengan harga Rp.130.000,-

Kami berikan harga khusus untuk pembelian lebih dari 600 kg.

Dengan ini maka kami berharap para tengkulak yang telah lama menipu dengan memanipulasi dan mencampur kopi sembarangan lalu memberi nama “Kopi Papua” dapat kami hentikan dan kami maju memperbaiki nama “Kopi Papua” sebagai Kopi Specialty yang memiliki citarasa tersendiri dan unik.

Kopi Amungme Papua, Kopi “Termahal” di Dunia Binaan PT Freeport Indonesia

“Mencium aroma kopi, rasanya sudah berada di zona penyangga (buffer zone) surga..

” Kurang lebih itulah yang sering kali terucap oleh om Syam, sahabat bloggerku yang juga berprofesi sebagai petani di daerah Cijapun, Sukabumi.
Dulu, saya sering tertawa saja mendengar kalimat ini. Namun sekarang, apa yang dikatakannya terasa sangat benar. Apalagi jika dikaitkan dengan arti harfiah surga dalam sudut pandang agama Islam yaitu : jannah.

Jannah sendiri juga secara bahasa Arab berarti “kebun”. Kebun yang dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti sebidang tanah yg ditanami pohon musiman. Tanaman itu boleh saja karet, jagung atau kopi itu sendiri.

Menariknya lagi, tak lama sebelum tanggal 1 Oktober 2015 ini dinyatakan sebagai Hari Kopi sedunia yang dinyatakan oleh Internasional Coffee Organization di Milan, Italia—pada pameran Specialty Coffee Association of America (SCAA) 9-12 April 2015 di Seattle Amerika Serikat (AS), Indonesia mendapatkan predikat baru, yakni “Surga Kopi Dunia”.

Hal yang tentu bukan suatu kebetulan. Ada keterikatan semesta yang kuat dan diluar jangkauan akal manusia atas segala hubungan kopi dan surga ini, khususnya di Indonesia.

Julukan sebagai surga kopi dunia ini juga bukan atas dasar mengada-ada atau asal-asalan. Keberagaman varian kopi yang ada di Indonesia menjadi salah satu alasan yang kuat. Sebuah hadiah dari alam Indonesia yang berada di belahan Khatulistiwa. Dimana dalam sabuk geografis ini, iklim dan alamnya sangat potensial untuk tumbuh dan berkembangnya aneka tumbuhan dengan subur, tak terkecuali kopi sendiri.

Dalam sebuah catatan perdagangan kopi, Indonesia pernah berada di posisi ketiga eksportir kopi terbesar di dunia. Berada dibawah Brazil dan Vietnam. Namun sekarang, posisinya melorot di posisi ke empat karene disusul oleh Kolombia.

Padahal, ekspor kopi sangat strategis bagi perekonomian sebuah bangsa. Coba cek negara bernama Kosta Rika. Sebuah negara bekas koloni Spanyol ini, pendapatan terbesar negaranya dari ekspor kopi-nya. Padahal, Kosta Rika tidak masuk 10 besar negara pengekspor kopi terbesar di dunia. Negara ini, hanya termasuk daerah penghasil kopi dunia yang masuk dalam area yang disebut “The Coffee Bean-Growing Belt” saja.

Dalam sabuk kopi dunia ini, boleh dikatakan seluruh wilayah Indonesia masuk didalamnya. Semua pulau-pulau dalam wilayah Nusantara sangat potensial untuk area pengembangan kebun kopi. Dari kopi Aceh, Kopi Jambi, Kopi Lampung, Kopi Jawa, Kopi Malinau-Kalimantan, Kopi Toraja–Sulawesi dan kini muncul varian baru kopi dari daratan Papua. Kopi itu bernama kopi Amungme. Kopi yang di tanam di pegunungan Nawangkawi yang berada di ketinggian 3000 meter dpl.

Kebetulan sekali, saya termasuk yang beruntung untuk bisa mengunjungi langsung sentra produksi dan pengolahan kopi ini. Pada awal Mei 2015, di tempat yang dinamakan Highland Agriculture Development – Unit Coffee Processing , saya berkesempatan bertemu dengan pak Hery Aibekob.
Pace Papua yang satu ini sangat dikenal oleh warga suku Amungme, khususnya warga Desa Metember, Opitawak, Aroanop dan sekitarnya yang menjadi pusat pengembangan usaha perkebunan kopi Amungme di daerah ini.

Tidak mengherankan, memang semenjak awal tahun 2012—Hery telah memulai mendatangi dan mensosialisasi kan program Petani Mandiri, khususnya pada tanaman kopi yang berkerjasama dengan salah satu departemen di PT Freeport Indonesia.

Hal ini ternyata merupakan pengembangan dari inisatif warga yang pada tahun 2009 mulai menanam kopi dengan bibit mengambil dari lahan petani yang sudah ada di Emtawarki-Tsinga.

Dari inisiatif inilah, akhirnya pak Hery dan perusahaan tempatnya berkerja melakukan usaha dan program pendampingan untuk petani mandiri ini. Sedikitnya tiap desa terdapat 35 petani mandiri dengan luas lahan 10 hektar/petani yang ditanami pohon kopi. Hasil panen petani inilah yang akhirnya diproses dan didistribusikan oleh tim pak Hery.

Dari kisahnya tersebut, dengan sedikit bencanda saya mengatakan bahwa kopi Amungme adalah kopi “termahal” di dunia. Bukan termahal pada harga produk jadi kopi “Amungme Gold” yang perbungkusnya seberat 250 gram tersebut. Harganya sih masih kalah dengan kopi Luwak asli. Tetapi termahal dibiaya menjemput kopinya.

Disaat daerah lain di Indonesia atau belahan dunia yang lain, panen kopi diantar dengan truk, mobil, gerobak atau motor—maka hanya kopi Amungme-lah yang transport antar jemput panen kopinya menggunakan helikopter. Hahaha…

Usai mendapatkan informasi asal muasal biji kopinya, saya diajak untuk melihat bagaimana proses roasting dan pengepakannya. Dalam ruangan kerja pak Hery, saya melihat sudah terdapat beberapa mesin roaster semi otomatis. Agak terkejut, selain mesin roaster buatan luar negeri, disana ternyata terdapat mesin roaster lokal buatan Bandung. Ya, Bandung! Itu pun mempunyai hasil olahan dengan kualitas yang sama. Hanya saja, memang harga mesin roaster lokal jauh lebih murah. Wah wah wah…!

Setelah puas dengan melihat tempat memasak kopi ini, akhirnya sampilah pada waktu yang saya tunggu-tunggu. Yaitu: coffee tasting atau dalam bahasa kita adalah “icip-icip kopi”.

Tidak menyesal kiranya, beberapa saat sebelumnya pernah mengikuti pelatihan coffee tasting dari Doddy Samura–salah satu barista Indonesia yang sudah berkelas dunia. Jadi saya tidak terlalu malu ketika diberi jebakan ujian coffee tasting dari pak Hery. Beliau menyediakan gula dalam pengetesannya. Alhamdulillah, saya sukses menyingkirkan gula dan diakui keabsahannya sebagai sesama pecinta berat kopi sejati. Hahaha…
Nah, sayangnya—saat melihat proses pengepakannya, mendadak saya menjadi sedih. Ternyata ruang pengepakannya kecil dan lebih mirip laboratorium. Tidak seperti pabrik-pabrik kopi yang sering saya lihat di televisi.

Kalau sekedar besar, saya yakin perusahaan tempat pace Hery berkerja mampu membuatnya. Saya paham, kecilnya ruangan ini sebanding dengan produksi biji kopi Amungme yang disetor oleh para petani mandiri.

Hal ini pulalah yang akhirnya membuat pertanyaan kenapa Starbuck—gerai kopi terbesar di dunia batal mengeluarkan menu kopi Amungme di list produknya? Bukan karena kualitas. Tetapi lebih dkarenakan produksi yang tidak sebanding dengan permintaan.
Video Reportase: https://www.youtube.com/watch?v=V6xGo3dr9-8
[Hazmi Srondol]

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/srondol/kopi-amungme-papua-kopi-termahal-di-dunia-binaan-pt-freeport-indonesia_560e045f739773620fdf6745