Industri Pengolahan Kopi Nasional Perlu Dikembangkan

Qommarria Rostanti/ Red: Budi Raharjo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Industri pengolahan kopi nasional masih perlu dikembangkan. Pasalnya saat ini, hanya 40 persen produksi kopi nasional yang diolah di dalam negeri, sedangkan 60 persen sisanya diekspor.

Indonesia adalah negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam dan Kolombia dengan produksi rata-rata sebesar 739 ribu ton per tahun atau sekitar 9 persen dari produksi kopi dunia. Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin Willem Petrus Riwu optimistis kinerja industri pengolahan kopi dalam negeri akan mengalami peningkatan yang signifikan seiring dengan pertumbuhan kelas menengah dan perubahan gaya hidup masyarakat di Indonesia.

“Untuk itu, kami juga terus melakukan kegiatan budaya minum kopi yang sudah mengakar kuat di masyarakat Indonesia,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima Republika.co.id, Ahad (2/10).

Apalagi, konsumsi kopi masyarakat Indonesia baru mencapai 1,1 kilogram per kapita per tahun atau masih di bawah negara-negara pengimpor kopi. Sebut saja konsumsi kopi di Amerika sebesar yang sebesar 4,3 kilogram, Jepang 3,4 kilogram, Austria 7,6 kilogram, Belgia 8,0 kilogram, Norwegia 10,6 kilogram dan Finlandia 11,4 kilogram per kapita per tahun.

Kemenperin bersama pemangku kepentingan komunitas dan penikmat kopi di seluruh Indonesia menyelenggarakan acara ‘It’s Coffee Day: No More Buffering’ bersamaan dengan Perayaan Ke-2 Hari Kopi Internasional di Indonesia. Selain dirayakan di Semarang, perayaan ini juga dilaksanakan di beberapa daerah mulai dari Aceh sampai dengan Papua oleh pemerintah daerah, pelaku usaha, dan komunitas pecinta kopi.

Perayaan ini rencananya akan dilakukan setiap tahun di dalam negeri dengan semangat gerakan peningkatan produktivitas dan kualitas kopi nusantara, mempromosikan peningkatan konsumsi kopi di dalam negeri, serta menggairahkan ekspor produk kopi Indonesia ke pasar internasional.

Perayaan Hari Kopi Internasional ini juga bertujuan meningkatkan kesejahteraan seluruh pelaku pada rantai nilai perkopian Indonesia dari petani, industri sampai dengan penyedia jasa retail kopi. Para pemangku kepentingan yang terlibat pada kegiatan ini, antara lain Kementerian Pertanian, Kementerian Luar Negeri, Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI), Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), Asosiasi Kopi Indonesia (AKI), Asosiasi Kopi Luwak Indonesia (AKLI) serta industri pengolahan kopi dalam negeri.

Kopi Asal Pegunungan Bintang Meriahkan Pameran ICBE 2016

JAYAPURA [PAPOS] – Kopi Papua asal Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin) meriahkan pameran International Conference on Biodiversity, Eco-Tourism and Creative Economy/ Ekonomi Kreatif, Keanekaragaman Hayati dan Eko Wisata (ICBE) 2016 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua berlangsung 7-10 September 2016 di GOR Cenderawasih, APO.
Sekretaris Koperasi Ok-Yum asal Pegunungan Bintang, Nicolaus Bukega, SP menyebut, kopi yang mulai berproduksi pada 2013 itu telah dipasarkan hingga keluar Papua.

“Pemasarannya sudah sampai keluar Papua yaitu ke daerah Jakarta, Yogyakarta. Bandung dan Bali serta Surabaya, “ujar Nicolaus saat ditemui Papua Pos, di pameran ICBE, Jumat (9/9).

Diakuinya, peminat kopi asli Papua asal Pegubin cukup tinggi, namun sayangnya permintaan dari masyarakat belum terpenuhi lantaran keterbatasan tempat penyimpanan.

“Per bulan kita hanya kirim sekitar 14 ton untuk biji kopi basah, dan 7 ton untuk biji kopi kering, karena gudang penyimpanan terbatas, saat ini kita fokus untuk memperluas tempat penyimpanan kopi, “terang Nicolaus.

Awal keberadaan kopi asli Papua asal Pegubin sekitar tahun 1960 an. Ketika itu Missionaris dari Belanda datang ke daerah tersebut dan menanam kopi jenis Arabica.

Missionaris tersebut merahasiakan keberadaan kopi yang diyakini mampu menyembuhkan penyakit asma akut itu dengan kadar nol persen asam.

Setelah masa tugas missionaris itu selesai dan akan kembali ke Belanda, barulah mereka menyampaikan kepada masyarakat setempat bahwa ada buah yang bisa diolah menjadi minuman.

“Mereka baru menyampaikan kepada masyarakat setempat setelah masa tugas mereka berakhir di Pegunungan Bintang, “kata Nicolaus.

Kebun kopi tersebut akhirnya diambil alih oleh masyarakat setempat dan diolah menjadi minuman. Namun, cara memasarkan kopi tersebut, kata Nicolaus, belum diketahui masyarakat.

“Pohonnya tumbuh sekitar 8-12 meter karena belum dikelola secara baik. Setelah saya menyelesaikan pendidikan di luar daerah dan kembali ke tengah-tengah masyarakat Pegubin, mulai saya kelola dan arahkan para petani kopi dengan baik, termasuk mendirikan koperasi Ok Yum, “jelasnya.

Nicolaus menuturkan, luas lahan kopi mencapai 60 hektar, digarap oleh 1.300 petani yang merupakan penduduk asli Pegubin.

Menyoal kemasan kopi, Nicolaus mengatakan, dipesan khusus dari pulau Jawa, namun merek yang tertera pada kemasan merupakan hasil karyanya.

“Brand/merek hasil karya saya, dalam waktu dekat akan kami patenkan merek tersebut. Saat ini sudah saya daftarkan di Kementerian Hukum dan HAM, “katanya. [srb]

Terakhir diperbarui pada Sabtu, 10 September 2016 00:23

Ekspor Kopi Indonesia Terus Berpeluang Meningkat

JAKARTA, KOMPAS.com – Berdasarkan data yang dilansir UN Comtrade, pada 2014, Amerika Serikat (AS) mengimpor kopi dari dunia sebesar 5,88 miliar dollar AS atau setara 19,10 persen dari total impor dunia.

Nilai tersebut meningkat 10,48 persen dibanding tahun sebelumnya.

Dari nilai ini, sebesar 81,23 persen merupakan kopi biji tidak digongseng tidak dihilangkan kafeinnya (HS 090111 coffee, not roasted, not decaffeinated).

Pada 2015, nilai ekspor kopi Indonesia ke dunia tercatat 1,19 miliar dollar AS atau meningkat 15,21 persen jika dibanding periode yang sama pada 2014.

Dari nilai tersebut, AS masih tetap menduduki peringkat pertama negara tujuan ekspor kopi Indonesia dengan nilai 281,15 juta dollar AS (pangsa 23,47 persen).

Selanjutnya disusul Jepang dengan nilai 104,96 juta dollar AS (pangsa 8,7 persen), Jerman dengan nilai 88,4 juta dollar AS (pangsa 7,4 persen).

Lalu Italia dengan nilai 84 juta dollar AS (pangsa 7 persen), dan Malaysia dengan nilai 70,8 juta dollar AS (pangsa 5,9 persen).

Ekspor Indonesia ke AS didominasi oleh kopi biji tidak digongseng tidak dihilangkan kafeinnya sebesar 99,97 persen (HS 090111 coffee, not roasted, not decaffeinated).

Sedangkan ekspor biji kopi digongseng ke AS hanya sebesar 0,03 persen (HS 090121 coffee, roasted, not decaffeinated).

Saat ini, pangsa pasar kopi Indonesia di pasar AS sebesar 5,5 persen atau urutan ke-6 di bawah Brasil, Kolombia, Viet Nam, Kanada, dan Guatemala.

Menurut International Coffee Organization, Indonesia menduduki urutan ke-4 sebagai produsen kopi terbesar di dunia pada 2014 dengan perkiraan produksi mencapai 622 ribu metrik ton per tahun.

Indonesia juga dikenal memiliki varian kopi terbanyak dengan jumlah hampir 100 jenis varian kopi arabika yang dikenal sejak 1699.

Beberapa yang terkenal antara lain Sumatra Lintong, Sumatra Solok Minang, Java Preanger, Java Ijen Raung, Java Estate, Sulawesi Toraja, dan Papua Wamena.

Dengan hadirnya Indonesia di ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016 yang digelar di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat (AS) pada 14-17 April 2016 mendatang, peluang ekspor kopi dari Indonesia akan meningkat.

Di ajang ini, Indonesia akan menampilkan 17 specialty coffee.

Eksotisme kopi Indonesia terbukti menarik pembelian specialty coffee oleh Royal Coffee USA. Pada 15 April 2016 mendatang, perusahaan Amerika itu tengah menyiapkan MoU pembelian senilai 18 juta dollar AS.

MoU akan ditandatangani Royal Coffee USA dengan beberapa eksportir kopi Indonesia, yaitu PT. Indokom Citra Persada, PT. Mandago, PT. Ihtiyeri Keti Ara, dan CV. Yudiputra di ajang SCAA.

Kopi terbaik Indonesia ini akan menjadi sorotan utama dari lebih dari 12 ribu pengunjung SCAA Expo 2016,” ujar Menteri Perdagangan Thomas Lembong pada konferensi pers bertajuk “Celebrating Indonesia as Portrait Country SCAA 2016” di Alun-Alun Indonesia, Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta, Jumat (8/4/2016).

Penulis : Aprillia Ika
Editor : Aprillia Ika

Pengembangan Pengolahan Kopi Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Dalam Peluang Akses Pemasaran

Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua yang memiliki luas area kebun kopi di berjumlah 655 ha terdiri dari tanaman yang sudah berproduksi sebesar 110 ha dan yang belum berproduksi sebesar 545 ha dan tersebar di beberapa distrik antara lain: Distrik Okbibab, Okbab, Kiwirok, Kiwirok Timur, Borme, Okhika, Weime, Bime dan Pepera, dengan rata-rata produksi 500 kg/ha/tahun…… Chapter 1 Rabu, 05 Ags 2015

Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua yang memiliki luas area kebun kopi di berjumlah 655 ha terdiri dari tanaman yang sudah berproduksi sebesar 110 ha dan yang belum berproduksi sebesar 545 ha dan tersebar di beberapa distrik antara lain: Distrik Okbibab, Okbab, Kiwirok, Kiwirok Timur, Borme, Okhika, Weime, Bime dan Pepera, dengan rata-rata produksi 500 kg/ha/tahun atau ± 55 ton/tahun dan melibatkan 375 KK.

Tanaman kopi salah satu tanaman primadona di Kabupaten Pegunungan Bintang. Tanaman kopi sangat menjanjikan untuk dikembangkan, petani Kopi di Kabupaten Pegunungan Bintang menggunakan proses semi washed. Setelah melakukan pengupasan, kopi difermentasi selama 8 hingga 10 jam. Kemudian dibersihkan dari getah dan biji kopi dikeringkan hingga memiliki kandungan air 12%, atau dikupas dalam keadaan basah dan dikeringkan sebagai biji hijau. Kopi di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua ditanam oleh petani tradisional tanpa menggunakan pupuk organik ataupun pupuk kimia juga tanpa pestisida sehingga menghasilan kopi dengan kualitas baik dan dengan aroma dan rasa yang khas dibandingkan dengan kopi yang tumbuh di daerah lain di Indonesia. Penduduk Kabupaten Bintang yang dihuni oleh Suku Ngalum ini. Sama dengan suku-suku lain di Papua, Suku Ngalum yang sebagian besar hidup di dataran tinggi.

Komoditi Kopi sebagai sumber daya dari hasil perkebunan didaerah Pegunungan Bintang tersebut dapat di daya gunakan dengan seoptimal mungkin, ini semua sangat tergantung cara dan pendekatan yang diambil. Perlu adanya pendampingan serius sangat diperlukan dalam mengembangkan kekuatan sumber daya alam dengan mengajak belajar membaca peluang dan potensi pengembangan prospek Pemasaran dan potensinya.

Diharapkan prospek kopi dari Papua, Khususnya juga Kabupaten Pegunungan Bintang dengan memperhatikan kualitas dan kuantitas serta sustainable untuk rantai pasokan kopi dalam persaingan pemasaran domestik dan internasional. (Sumber: Disbun Papua, data diolah hero13)

Kopi Papua Pegunungan Bintang

by Fulcaff Coffee | Dec 7, 2015 | and kamapo.org

Kopi Arabika Papua Pegunungan Bintang dijuluki Kopi Bintang oleh Nova Panggabean, seorang peneliti bahasa dari Balai Bahasa Provinsi Papua. Kami termasuk pihak yang sepakat dengan Nova, karena kopi yang berasal dari Pegunungan Bintang ini memang memiliki karakter yang unik dan meriah. Kopi Pegunungan Bintang, jika diroasting di level jelang fullcity seperti yang diproduksi Fulcaff, punya aroma dan cita rasa yang nano-nano seperti fruity, chocolaty, nutty, honey, sweet notes dan tingkat kekentalan yang tinggi.

Kopi Bintang berasal dari Kabupaten Pegunungan Bintang Papua. Ibukotanya terletak di Oksibil. Kabupaten Pegunungan Bintang menjadi satu-satunya kabupaten di Pegunungan Jayawijaya yang berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini. Kopi Arabika Pegunungan Bintang Papua ini dijamin alami, tanpa pupuk kimia dan jelas organik.

Kopi Pegunungan Bintang merupakan salah satu dari koleksi kami.

Surabaya-Komnews, Dalam ajang Pemeran Kopi Se-Indonesia yang diselenggarakan di Surabaya pada hari sabtu tanggal 05 september 2015, kopi asli Pegunungan Bintang-Papua berhasil menjadi bintang, yakni berhasil menjadi juara I dan II se-Indonesia dalam hal cita rasa dan aromanya.
Kopi yang dipamerkan ini berasal dari kampung Sabin (Okbab) dan Okbi.

Kopi ini dipamerkan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan, yang dikordinir oleh Kepala Dinas Sadar Purwanto dan Niko Bukega.

Ungkapan syukur atas torehan prestasi ini disampaikan Kepala Dinas melalui akun Facebooknya, yakni: “Puji dan syukur kepada Tuhan karena dalam acara pameran, kopi Pegunungan Bintang mendapat apresiasi dari penikmat kopi yang mengunjungi stand kita. Bahkan tester internasional pun memberikan apresiasinya atas karakter kopi Bintang”, ungkapnya.

Lebih lanjut melalui media sosial, Sadar Purwanto berharap dengan adanya respon positif dari sejumlah kalangan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat petani Kopi. “Semoga harga kopi petani Kabupaten Pegunungan Bintang bisa kita dongkrak naik demi peningkatan kesejahteraan petani”, tuturnya. (Mecko)