Kopi Papua Kini Diminati Warga Negara Asing

citizendaily, Selain memiliki keindahan alam yang luar biasa bagaikan surga, tanah Papua juga memiliki tanah yang subur dan menghasilkan hasil alam yang tak terbatas bagi Orang Asli Papua (OAP).

Sebut saja hasil bumi seperti Kopi yang kini mulai diminati oleh warga negara asing (WNA) karena cita rasa yang klasik dan juga sangat menyentuh dengan kualitas yang tak kalah jauh dengan kopi di luar negeri.

Oleh karena itu, Gubernur Papua Lukas Enembe meminta kepada pemerintah pusat untuk terus memberikan perhatian lebih kepada hasil alam Papua tersebut karena dapat mendorong sektor ekonomi terutama bagi para petani kopi.

“Ingin mensejahterakan masyarakat gunung, maka kembangkan kopi. Dengan kopi masyarakat Papua bisa mendapatkan penghasilan yang menarik sehingga kesejahteraan menjadi lebih baik. Serta membuka interaksi orang gunung dengan orang luar,” kata Gubernur, beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi tambahan, Luas areal kopi di Papua pada tahun 2015 tercatat 10.113 ha, dengan produktivitas per ha hanya 438 kg. Dengan wilayah sentra adalah Kabupaten Jayawijaya dengan luasan hampir 3091 ha. Sedangkan sisanya tersebar di beberapa Kabupaten di Pegunungan seperti Pegunungan Bintang, Puncak Jaya, Yahukimo, Puncak, Paniai, Tolikara , Lanny Jaya, Intan Jaya, Dogiyai, Nduga dan Mimika.

Kopi Emas dari Tanah Papua

15 Juli 2016 17:42:13 Diperbarui: 15 Juli 2016 20:59:26

Kopi Amungme Gold yang dihasilkan dari perkebunan kopi Suku Amungme, Papua/RUL
Kopi Amungme Gold yang dihasilkan dari perkebunan kopi Suku Amungme, Papua/RUL

Dengan secangkir kopi kita bisa lebih akrab dan santai. Dengan secangkir kopi, segala gundah gulana terurai dengan lunglai. Dengan secangkir kopi, negara kita dikenal luas hingga ke mancanegara. Dan dengan secangkir kopi, barista ternama dan penikmat kopi dunia mengenal Indonesia bukan hanya karena Bali saja.

Negara ini dikenal sebagai penghasil kopi terbesar bersama Brazil, Vietnam dan Kolombia. Segala jenis kopi ada di tanah Nusantara. Bahkan, kopi menjadi komoditas unggulan Indonesia meski kita sendiri belum bisa menjadi pengendali harga kopi dunia yang masih terpusat di London dan New York. Di jalanan ibu kota, harum kopi kian santer dengan menjamurnya warung kopi dengan beragam konsep dan idealismenya.

Dari cara seduh pour over sampai aeropress yang dikompetisikan barista dunia akrab menyapa kita saat bertamu ke warung kopi yang senang disebut dengan cafe. Menjadi peminum kopi bukan sekedar mengecap rasa pahit di lidah. Dengan ragam aroma dan penyajiannya, meminum secangkir kopi perlu diritualkan layaknya tradisi meminum teh di timur asia.

Kopi Indonesia dikenal dengan keunikan rasa dan aroma. Kopi Sumatera identik dengan rasa yang berat dan bau hutan serta rempah. Berbeda dengan di Toraja, buah kopinya lebih mungil serta mengkilap menjadi identitas yang khas kopi yang memiliki tingkat keasaman cukup tinggi.

Di Papua, dengan alam yang masih perawan dan gugusan pegunungan yang padat, membuat kopinya memiliki tekstur yang lembut dan beraroma tajam. Tak ayal, kopi dari wilayah pegunungan Wamena dikenal luas dan menjadi merek dagang tersendiri. Apalagi, petani kopi di Papua masih mengandalkan proses alam dengan menunggu buah kopi ranum. Biasanya dikenal dengan natural process.

Begitu juga dengan kopi Papua yang berasal dari pegunungan di daerah Timika. Aroma yang tajam serta harumnya biji kopi setelah digoreng langsung merasuk ke indera penciuman saat saya berkunjung ke sebuah koperasi di Kabupaten Mimika, Kota Timika, Papua tiga pekan silam. Koperasi Amungme Gold yang dikelola oleh lima orang ini berhasil memberdayakan suku Amungme menjadi petani kopi dengan hasil produksi yang cukup untuk mengopikan orang yang berkunjung ke situs penambangan PT Freeport Indonesia (FI), bahkan kerap dibawa ke mancanegara sebagai buah tangan yang eksotis.

Suku Amungme yang memiliki hak ulayat atau hak atas kepemilikan wilayah di daerah penambangan PT FI dominan mendapatkan binaan dan banyak fasilitas lain yang diberikan khusus oleh PT FI, termasuk Koperasi Amungme Gold. Sejak 2013, koperasi ini membina dan memberikan edukasi serta fasilitas kepada suku yang berada di daerah pegunungan dekat dengan situs penambangan. Admin Highland Economy Development Amungme Gold Harony

Harony Sedik, wanita paruh baya yang dipercaya menjadi Admin Highland Economy Development Amungme Gold menuturkan proses pembinaan kepada para petani kopi Amungme di kampung Tisinga, Hoya dan Arowano. Ketiga kampung tersebut merupakan tempat lahan penanaman pohon kopi.

“Di setiap kampung ada 5 hektar lahan perkebunan kopi dan terdiri dari 24 petani,” kata Harony seraya menunjukkan biji kopi yang masih hijau di sebuah tempat penyimpanan.

Dalam sebulan, Koperasi Amungme Gold biasa memproduksi 1 ton kopi yang sudah digoreng (roasted) dalam bentuk biji (whole beans) atau yang sudah digiling (grinded). Biasanya sudah ludes terjual dalam kurun waktu sebulan. Pembelinya bukan dari wisatawan atau menitipkannya di kedai kopi. Menurut Harony, kopi Amungme Gold kerap diborong oleh pemerintah dan karyawan atau tamu PT FI yang kebetulan berkunjung ke tempatnya serta warga di Timika.

“Produksi 1 ton dalam satu bulan sudah ludes dari Timika, Freeport dan pemerintah. Produksi paling banyak sekitar 1,5 ton dalam satu setengah bulan,” ungkap Harony.

Sejak berdirinya koperasi ini, Suku Amungme mulai serius menggarap kebun kopi dan terus berproduksi. Bibit kopi yang ditanam pun didatangkan langsung dari Wamena yang selama ini dikenal sebagai penghasil kopi jenis arabika.

Proses

Bibit kopi yang didatangkan langsung dari Wamena dibawa ke wilayah Suku Amungme di daerah pegunungan sebelum ditanam dan panen. Setelah itu, pihak koperasi bersama petani memonitor dan menghimpun hasil panen sebelum di bawa ke Koperasi Amungme Gold yang berada di Kabupaten Mimika, Papua.

Satu petani bisa menghasilkan kopi sebanyak 25 Kg dengan harga jual dari petani 35 ribu rupiah per kilonya dan masing-masing kampung bisa menghasilkan kopi sekitar 500 Kg. Kopi yang dibeli pihak koperasi masih dalam keadaan belum dikupas. Proses pengupasan, penjemuran, goreng dan giling dilakukan di luar wilayah Suku Amungme, tepatnya di kantor koperasi.

“Sekali monitoring di tiap bulan kami mengambil kepada satu petani 25 Kg dengan harga per kilo 35 ribu rupiah untuk kopi yang belum dikupas. Sekarang ada 24 petani dari tiga kampung di Amungme. Satu kampung bisa menghasilkan 500 Kg kopi,” tutur Harony.

Kopi yang dihimpun dari petani akan melalui proses pengupasan dan penjemuran agar kadar air di dalam biji kopi berkurang. Kadar air dalam kopi dapat memengaruhi rasa dan aroma. Makin sedikit kadar airnya akan meningkatkan rasa dan aroma kopi.

“Di sini kami proses semua, pertama pengupasan kulit, ukur kadar air, harus di bawah 15 langsung di-roasting, kalau di atas 15 kami jemur lagi secara manual, setelah itu kami sortir,” kata Harony.

Kopi baru masuk ke proses goreng atau roasting jika kadar air sudah di bawah 15 persen dengan menggunakan mesin roasting dari Brazil. Mesin roasting yang efektif digunakan oleh koperasi hanya satu unit. Sebenarnya mereka memiliki satu mesin roasting lain buatan dalam negeri. Karena tidak adanya fitur monitor di mesin tersebut, hasil kopi menjadi kurang bagus dan cenderung lengket. Dengan alasan itu pihak koperasi memutuskan untuk tidak lagi memakainya.

Setelah digoreng, kopi didinginkan sejenak sebelum proses pengemasan atau digiling untuk memberikan pilihan kepada pembeli. Hal tersebut melihat pembeli dari luar negeri yang cenderung menyukai kopi yang masih dalam bentuk biji. Koperasi Amungme Gold hanya dapat menyediakan kemasan yang berisikan 250 gram kopi. Tingkat produksi dan alat yang terbatas membuat koperasi ini tidak mampu memproduksi kopi dengan kuantitas besar.

Kopi “Mahal”

Sejak memasuki ruangan koperasi, saya langsung menanyakan harga kopi yang sudah siap jual dengan kemasan 250 gram kepada Harony. Menurutnya, koperasi tersebut tidak mencari untung yang besar. Tujuan mereka adalah membina Suku Amungme sekaligus mengenalkan kopi Amungme yang rasanya tak kalah dari kopi yang ditanam di Distrik Wamena, Jayawijaya, Papua.

Tak ayal, kalau mereka hanya membandrol harga kopi Rp 50.000/kemasan. Hal ini berbanding terbalik dengan biaya proses monitoring dari petani yang membutuhkan biaya dan alat transportasi yang super mahal.

Mereka membawa kopi dari petani ke tempat koperasi menggunakan helikopter PT FI yang biaya sewanya mencapai 3.000 dollar (USD) atau jika dirupiahkan senilai 30 juta rupiah untuk durasi sewa selama 60 menit. Meski koperasi ini mengaku hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk membawa semua hasil kopi dari petani yang artinya membutuhkan biaya sekitar 17 jutaan sekali angkut, banderol 50 ribu rupiah untuk tiap kemasan dinilai terlalu murah bahkan kalau mereka berorientasi mencari keuntungan, koperasi ini pasti sudah tutup dan bangkrut.

Apalagi membandingkannya dengan harga kopi dengan kemasan yang sama di kedai kopi ibu kota. Kopi dari berbagai daerah dengan kemasan 250 gram bisa dibandrol hingga 150 ribu rupiah per kemasan. Belum lagi jika jenis kopi specialty yang bisa menembus sampai 500 ribu per kemasan. Tidak salah kalau menjuluki Amungme Gold sebagai kopi emas.

Menolak Starbucks

Sebagian besar masyarakat di perkotaan mungkin sudah akrab dengan kedai kopi asal Amerika, Starbucks. Kedai kopi yang konon meningkatkan status sosial tetamunya ini juga pernah tergiur dengan Kopi Amungme Gold. Pihak Starbucks pernah mengungkapkan ketertarikannya membeli dan menjadi pelanggan Kopi Amungme Gold untuk disajikan di seluruh kedai mereka. Namun, pihak koperasi menolak tawaran tersebut.
Hal itu disebabkan tingkat produksi yang terbatas. Koperasi Amungme Gold sampai saat ini belum mampu menghasilkan produk kopi dengan kuantitas yang besar. Alasan ini pula yang membuat Kopi Amungme Gold belum dikenal di tanah air. Mereka baru memasarkan produknya kepada para tamu PT FI, pemerintah dan warga di sekitar Kabupaten Mimika. Meski begitu, kopi ini cukup dikenal dikalangan ekspatriat. Mereka selalu membeli dan membawa Kopi Amungme Gold ke negara masing-masing setelah berkunjung ke PT FI.

Koperasi yang berusia hampir 4 tahun ini telah memiliki anggota yang berasal dari para petani kopi di Amungme. Selain membina bagaimana cara bertani dan menghasilkan sebuah produk unggulan khas daerah sehingga memiliki penghasilan yang lumayan besar, koperasi juga menjadi medium tempat belajar mengelola suatu perhimpunan atau organisasi.

Satu petani kopi di Amungme bisa mendapatkan gaji 10 juta rupiah per bulan. Lebih besar dari gaji kebanyakan angkatan kerja baru di ibu kota. Selain mengolah dan memasarkan kopi khas Amungme, Koperasi Amungme Gold juga menyediakan jenis kopi asli dari Wamena dan Paniai yang merupakan daerah penghasil kopi ternama di tanah Papua.

Nurul Uyuy, Co-Founder @komunitasteplok | Editor @kompasiana | Journalist @kompascom

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/

Makin Berkembang, Kopi Suku Amungme Dilirik Franchise Ternama

Rabu 22 Jun 2016, 02:55 WIB, Elza Astari Retaduari – detikNews

Mimika – Kopi yang ditanam petani dari Suku Amungme, Kabupaten Mimika, Papua, semakin berkembang dan terkenal. Bahkan karena rasanya yang nikmat, kopi Amungme dilirik oleh franchise kopi kenamaan.

Suku Amungme yang tinggal di pegunungan dekat tambang Tembagapura merupakan salah satu suku utama binaan PT Freeport Indonesia. Satu suku utama lainnya adalah Suku Kamoro.

Bisnis kopi Amungme sendiri dimulai sekitar tahun 1998 atas dukungan Freeport melalui program Highland Agriculture Development (HAD) dengan membuka perkebunan kopi di dataran tinggi. Awalnya bibit kopi dibawa dari sekitar Nabire atau Paniai dan terus dikembangkan.

“Sekarang perkebunan ada di tiga desa di daerah pegunungan dekat pertambangan, di dataran tinggi. Desa Tsinga, Hoya, dan Arwanop tapi Arwanop tidak terlalu produktif,” ungkap staf HAD Harony Sedik saat detikcom berkunjung ke pabrik pengolahan Kopi Amungme di Kota Timika, Sabtu (18/6/2016).

Kopi Amungme berjenis Arabica dan memiliki kandungan kafein cukup kuat. Setelah cukup berkembang, HAD yang merupakan program CSR Freeport di bawah Sosial Local Development Departement mereka lalu memfasilitasi pembentukan koperasi bagi para petani kopi dengan merk Amungme Gold tersebut.

“Sebelum ada koperasi, kami yang urus dari HAD, langsung pihak Freeport. Dengan koperasi sudah ada karyawan. Koperasi berdiri sendri, bahkan kerjasama dengan koperasi lain. Kami sudah ada kerja sama dengan Koperasi dari Wamena dan Paniai,” ucap Harony.

Ke depan, Koperasi Amungme Gold Coffe juga berharap bisa bekerja sama dengan petani kopi lain. Seperti petani kopi Robusta yang ditanam di Distrik Agimuga, Timika, daerah yang ada di pesisir di Kabupaten Mimika. Dengan harapan agar koperasi juga dapat memberdayakan petani kopi lain selain dari Suku Amungme.

Kesohoran Kopi Amungme kerap membuat pihak koperasi kehabisan stok. Apalagi untuk mendapatkan biji kopi dari daerah pegunungan itu terkendala pada masalah transportasi. Sebab untuk mengangkut biji kopi dari perkebunan petani, kata Harony, pihak koperasi perlu terbang dengan menyewa helikopter.

“Kapasitas 1 ton itu kami tidak sampai 2 bulan sudah habis. Makin hari makin banyak peminat. 1 Ton 1 bulan, bahkan kadang nggak sampai. Kami sendiri kewalahan, langsung habis. Peminat dari Timika, dari luar juga,” tuturnya.

“Ambilnya pakai chopper. Makanya agak sedikit mahal, tapi memang enak. Sewa chopper 3.000 USD satu jam. Bisa ke tiga desa lalu kembali ke Timika. Ambilnya setiap bulan sekali langsung tiga kampung. Sebulan sekali monitoring sekalian ambil,” imbuh Harony.

Biji kopi diambil dari petani dalam kondisi belum dikupas seharga Rp 35 ribu/kg. Satu kali monitoring, pihak koperasi membeli 25 kg biji kopi yang belum dikupas dari satu petani. Satu kampung sekitar 500 kg. Sehingga untuk satu kali pengangkutan, koperasi bisa membawa kurang lebih 1,5 ton.

Terkadang koperasi yang mulai berdiri pada tahun 2013 itu mengambil biji kopi jenis Arabica dari Wamena atau Paniai namun dalam kondisi yang sudah dikupas dengan harga Rp 90 ribu/kg. Hal tersebut untuk memenuhi permintaan pembeli yang makin terus meningkat.

“Kalau dari Wamena dan Paniai, sudah green bean. Kualitas sama, tapi dari 3 desa Amungme lebih fresh. Karena memang diambilnya pakai chopper maka lebih banyak cari yang Amungme,” kata dia.

Saat ini ada 24 petani dari tiga desa Amungme yang menjadi binaan koperasi dengan total perkebunan 3 hektar. Beberapa petani ada yang diberdayakan menjadi karyawan koperasi untuk monitoring, pembina petani, dan juga untuk melakukan pengolahan di pabrik. Untuk yang terakhir, petani mendapat fasilitas mess di daerah kota Timika.

“Petani sekaligus pengurus koperasi kami gaji Rp 10 juta per bulan.Tapi kalau petani pure, kami hanya beli biji kopinya. Bibit dari kami. Di sini (pabrik) mulai dari pengupasan, pengeringan, fermentasi, roasting, granding, dan packaging,” jelas Harony.

Melihat besarnya modal produksi, sebenarnya koperasi tidak mendapat untung dari bisnis kopi Amungme. Hingga saat ini bisnis kopi bagi warga Suku Amungme sebagai pemilik hak ulayat daerah tambang masih mendapat bantuan CSR Freeport.

Kopi Amungme dikemas untuk ukuran 250 gram dan harganya dibanderol Rp 50 ribu dari koperasi. Ada beberapa tipe yang dijual. Kopi yang telah dihaluskan seperti kopi tubruk, kopi yang sedikit masih kasar, dan ada juga biji kopi matang.

“Kalau mau beli tergantung mereka. Kalau bule biasanya maunya yang bean, kalau masyarakat kita maunya yang halus. Ada yang minta dikirim lewat paket,” sebut dia.

Meski koperasi menjual dengan harga Rp 50 ribu per kemasan, namun harga di pasaran bisa lebih tinggi. Seperti toko di dalam Bandara Mozes Kilangin yang menjual Kopi Amungme dengan harga Rp 100 ribu per kemasan.

Awalnya kopi Amungme hanya dijual terbatas bagi kalangan ekspatriat di kawasan Tembagapura. Saat ini penjualan sudah umum bahkan terus dipromosikan dan menjadi salah satu jenis yang dicari para penikmat atau pecinta kopi.

“Bule setelah mereka kerja sini baru tahu, lalu kalau kembali ke negaranya mereka bawa. Kebanyakan karyawan ekspat awalnya yang beli. Sekarang warga banyak cari. Kalau ada event, kayak kemarin di Turki, Bupati bawa untuk promosi,” terang Harony.

Memiliki cita rasa yang khas dan nikmat, Kopi Amungme mulai diperhitungkan untuk masuk ke dunia usaha besar. Apalagi dengan aromanya yang kuat, Amungme Gold tak bisa dipandang sebelah mata.

Waralaba kopi dengan lingkup usaha internasional, dikatakan Harony, bahkan ingin menggunakan jenis Kopi Amungme untuk produk mereka. “Starbucks mau ngadain kerjasama tapi kami stok masih terbatas. Jadi belum bisa. Ini saja sekarang kami tidak ada stok. Harus ambil biji kopi dulu pakai chopper untuk kami produksi lagi,” pungkasnya.

(elz/Hbb)

Kopi Amungme Papua, Kopi “Termahal” di Dunia Binaan PT Freeport Indonesia

“Mencium aroma kopi, rasanya sudah berada di zona penyangga (buffer zone) surga..

” Kurang lebih itulah yang sering kali terucap oleh om Syam, sahabat bloggerku yang juga berprofesi sebagai petani di daerah Cijapun, Sukabumi.
Dulu, saya sering tertawa saja mendengar kalimat ini. Namun sekarang, apa yang dikatakannya terasa sangat benar. Apalagi jika dikaitkan dengan arti harfiah surga dalam sudut pandang agama Islam yaitu : jannah.

Jannah sendiri juga secara bahasa Arab berarti “kebun”. Kebun yang dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti sebidang tanah yg ditanami pohon musiman. Tanaman itu boleh saja karet, jagung atau kopi itu sendiri.

Menariknya lagi, tak lama sebelum tanggal 1 Oktober 2015 ini dinyatakan sebagai Hari Kopi sedunia yang dinyatakan oleh Internasional Coffee Organization di Milan, Italia—pada pameran Specialty Coffee Association of America (SCAA) 9-12 April 2015 di Seattle Amerika Serikat (AS), Indonesia mendapatkan predikat baru, yakni “Surga Kopi Dunia”.

Hal yang tentu bukan suatu kebetulan. Ada keterikatan semesta yang kuat dan diluar jangkauan akal manusia atas segala hubungan kopi dan surga ini, khususnya di Indonesia.

Julukan sebagai surga kopi dunia ini juga bukan atas dasar mengada-ada atau asal-asalan. Keberagaman varian kopi yang ada di Indonesia menjadi salah satu alasan yang kuat. Sebuah hadiah dari alam Indonesia yang berada di belahan Khatulistiwa. Dimana dalam sabuk geografis ini, iklim dan alamnya sangat potensial untuk tumbuh dan berkembangnya aneka tumbuhan dengan subur, tak terkecuali kopi sendiri.

Dalam sebuah catatan perdagangan kopi, Indonesia pernah berada di posisi ketiga eksportir kopi terbesar di dunia. Berada dibawah Brazil dan Vietnam. Namun sekarang, posisinya melorot di posisi ke empat karene disusul oleh Kolombia.

Padahal, ekspor kopi sangat strategis bagi perekonomian sebuah bangsa. Coba cek negara bernama Kosta Rika. Sebuah negara bekas koloni Spanyol ini, pendapatan terbesar negaranya dari ekspor kopi-nya. Padahal, Kosta Rika tidak masuk 10 besar negara pengekspor kopi terbesar di dunia. Negara ini, hanya termasuk daerah penghasil kopi dunia yang masuk dalam area yang disebut “The Coffee Bean-Growing Belt” saja.

Dalam sabuk kopi dunia ini, boleh dikatakan seluruh wilayah Indonesia masuk didalamnya. Semua pulau-pulau dalam wilayah Nusantara sangat potensial untuk area pengembangan kebun kopi. Dari kopi Aceh, Kopi Jambi, Kopi Lampung, Kopi Jawa, Kopi Malinau-Kalimantan, Kopi Toraja–Sulawesi dan kini muncul varian baru kopi dari daratan Papua. Kopi itu bernama kopi Amungme. Kopi yang di tanam di pegunungan Nawangkawi yang berada di ketinggian 3000 meter dpl.

Kebetulan sekali, saya termasuk yang beruntung untuk bisa mengunjungi langsung sentra produksi dan pengolahan kopi ini. Pada awal Mei 2015, di tempat yang dinamakan Highland Agriculture Development – Unit Coffee Processing , saya berkesempatan bertemu dengan pak Hery Aibekob.
Pace Papua yang satu ini sangat dikenal oleh warga suku Amungme, khususnya warga Desa Metember, Opitawak, Aroanop dan sekitarnya yang menjadi pusat pengembangan usaha perkebunan kopi Amungme di daerah ini.

Tidak mengherankan, memang semenjak awal tahun 2012—Hery telah memulai mendatangi dan mensosialisasi kan program Petani Mandiri, khususnya pada tanaman kopi yang berkerjasama dengan salah satu departemen di PT Freeport Indonesia.

Hal ini ternyata merupakan pengembangan dari inisatif warga yang pada tahun 2009 mulai menanam kopi dengan bibit mengambil dari lahan petani yang sudah ada di Emtawarki-Tsinga.

Dari inisiatif inilah, akhirnya pak Hery dan perusahaan tempatnya berkerja melakukan usaha dan program pendampingan untuk petani mandiri ini. Sedikitnya tiap desa terdapat 35 petani mandiri dengan luas lahan 10 hektar/petani yang ditanami pohon kopi. Hasil panen petani inilah yang akhirnya diproses dan didistribusikan oleh tim pak Hery.

Dari kisahnya tersebut, dengan sedikit bencanda saya mengatakan bahwa kopi Amungme adalah kopi “termahal” di dunia. Bukan termahal pada harga produk jadi kopi “Amungme Gold” yang perbungkusnya seberat 250 gram tersebut. Harganya sih masih kalah dengan kopi Luwak asli. Tetapi termahal dibiaya menjemput kopinya.

Disaat daerah lain di Indonesia atau belahan dunia yang lain, panen kopi diantar dengan truk, mobil, gerobak atau motor—maka hanya kopi Amungme-lah yang transport antar jemput panen kopinya menggunakan helikopter. Hahaha…

Usai mendapatkan informasi asal muasal biji kopinya, saya diajak untuk melihat bagaimana proses roasting dan pengepakannya. Dalam ruangan kerja pak Hery, saya melihat sudah terdapat beberapa mesin roaster semi otomatis. Agak terkejut, selain mesin roaster buatan luar negeri, disana ternyata terdapat mesin roaster lokal buatan Bandung. Ya, Bandung! Itu pun mempunyai hasil olahan dengan kualitas yang sama. Hanya saja, memang harga mesin roaster lokal jauh lebih murah. Wah wah wah…!

Setelah puas dengan melihat tempat memasak kopi ini, akhirnya sampilah pada waktu yang saya tunggu-tunggu. Yaitu: coffee tasting atau dalam bahasa kita adalah “icip-icip kopi”.

Tidak menyesal kiranya, beberapa saat sebelumnya pernah mengikuti pelatihan coffee tasting dari Doddy Samura–salah satu barista Indonesia yang sudah berkelas dunia. Jadi saya tidak terlalu malu ketika diberi jebakan ujian coffee tasting dari pak Hery. Beliau menyediakan gula dalam pengetesannya. Alhamdulillah, saya sukses menyingkirkan gula dan diakui keabsahannya sebagai sesama pecinta berat kopi sejati. Hahaha…
Nah, sayangnya—saat melihat proses pengepakannya, mendadak saya menjadi sedih. Ternyata ruang pengepakannya kecil dan lebih mirip laboratorium. Tidak seperti pabrik-pabrik kopi yang sering saya lihat di televisi.

Kalau sekedar besar, saya yakin perusahaan tempat pace Hery berkerja mampu membuatnya. Saya paham, kecilnya ruangan ini sebanding dengan produksi biji kopi Amungme yang disetor oleh para petani mandiri.

Hal ini pulalah yang akhirnya membuat pertanyaan kenapa Starbuck—gerai kopi terbesar di dunia batal mengeluarkan menu kopi Amungme di list produknya? Bukan karena kualitas. Tetapi lebih dkarenakan produksi yang tidak sebanding dengan permintaan.
Video Reportase: https://www.youtube.com/watch?v=V6xGo3dr9-8
[Hazmi Srondol]

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/srondol/kopi-amungme-papua-kopi-termahal-di-dunia-binaan-pt-freeport-indonesia_560e045f739773620fdf6745

Dari Kopi Menjadi Uang Ala Suku Amungme

Kebudayaan Indonesia – Keunikan suku Amungme adalah dari mata pencahariannya dengan cara bercocok tanam. Kopi merupakan hasil yang cukup memuaskan, bukan hanya untuk dikonsumsi masyarakat, melainkan kopi ini diproduksi ke berbagai daerah dan menambah penghasil masyarakat. Suku Amungme di Kabupaten Mimika, Papua kini bisa memetik keuntungan dari lahan kopi milik mereka. Dari penjualan terbatas kepada ekspatriat, kini kopi Amungme bisa menjelajah Papua.

Kopi ini tumbuh di empat lembah dataran tinggi di Papua, yaitu Lembah Hoea, Tsinga, Utekini, dan Aroanop. Melihat dari kualitas kopi tersebut, kini kopi jenis varietas Arabica ini telah dikembangkan di dataran tinggi Papua selama 40 tahun secara organik dan ditanam oleh suku asli Papua, dipupuk satu-satunya dengan tanaman bernitrogen serta material alami hutan seperti kompos dan multus. Tidak ada pupuk kimia dan pestisida yang dipakai dalam penanaman tumbuhan kopi Amungme. Pohon kopi ditanam berdampingan dengan tanaman pangan lainnya, dalam sistem tanam campuran dan bertingkat.

Bisnis kopi Amungme dimulai pada tahun 1998. Saat itu PT Freeport Indonesia melalui program Highland Agriculture Developmet (HAD) membuka perkebunan kopi di dataran tinggi.

Adalah Carolyn Cook, warga negara AS yang bekerja di Freeport yang memulai pembinaan kepada suku Amungme. Bibit kopi yang dibawa kemudian dicoba ditanam di Desa Banti, Tembagapura. Hasilnya dikelola masyarakat dengan proses pengolahan masih manual dan dijual di Tembagapura.

Dalam program pendampingan, petani binaan dimodali segala kebutuhan penanaman. Hasil panen akan dibawa ke pabrik pengolahan dekat Bandara Mozes Kilangin menggunakan helikopter sewaan Freeport.

Per harinya produksi pengolahan kopi bisa mencapai 400 bungkus kemasan 250 gram. Per kemasan dijual Rp 45 ribu bila dibeli langsung. Namun kopi Amungme juga dijual di swalayan tentunya dengan harga yang lebih tinggi.

Ada 4 tahapan pengolahan kopi yang ditanam di tebing dengan ketinggian 1.500 meter ini, yaitu kupas, pengeringan, fermentasi dan roasting. Kopi Amungme memiliki cita rasa nikmat ditambah aromanya kuat.

Sebelum ada pabrik pengolahan, mereka menyewa ruko kecil di Timika dilengkapi dengan mesin pengolahan. Petani binaan suku Amungme bisa mendapatkan uang hingga Rp 4 juta atas hasil panen.