Indonesia Penghasil Kopi Terbesar Keempat di Dunia

Jambi – Direktur Executive Sustainable Coffee Platform Indonesia (Scopi), Veronica Herlina, mengatakan, Indonesia saat ini menjadi negara penghasil kopi terbesar ke-4 di dunia.

“Kondisi sekarang ini, produksi kopi di dunia masih dipasok dari Indonesia sebagai negara ke-4 penghasil kopi terbesar atau sekitar belasan persen produk kopi di dunia dipasok dari Indonesia,” kata Veronica usai memberikan materi di Jambore Masyarakat Gambut (JMG) 2016 di Jambi, Minggu.

Adapun ke-empat negara tersebar penghasil kopi di dunia itu yakni Brazil, Vietnam, Kolombia dan Indonesia, yang masih akan disusul oleh Etiopia. “Karena tidak semua negara bisa memproduksi dan menghasilkan kopi,” katanya.

Posisi Indonesia menurut dia, sangat penting dalam menjaga pasokan dan memenuhi permintaan kopi global karena Indonesia mempunyai potensi lahan kopi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

“Karena dikhawatirkan juga ke depan konsumsi kopi dan produksi kopi tidak seimbang. Sebab, orang yang minum semakin banyak, kafe-kafe baru yang menjual minuman kopi juga semakin banyak,” katanya menjelaskan.

Scopi sebagai organisasi yang menjembatani petani dan pengusaha kopi tersebut akan terus mendorong Indonesia agar menambah luas tanaman kopi yang berkelanjutan, dengan cara yang baik dan tidak merusak lingkungan. Selain itu, katanya, Indonesia juga dikenal mempunyai varian kopi terbanyak dengan jumlah hampir 100 jenis varian kopi arabika yang tumbuh pada ketinggian 1.200 MDPL.

“Beberapa diantaranya jenis kopi arabika yang terkenal adalah Gayo Aceh, Sumatera Lintong, Sumatera Solok Minang, Java Estate, Sulawesi Toraja, Papua Wamena dan lain sebagainya,” katanya.

Saat ini, lanjutnya, sebagian besar produksi kopi Indonesia adalah jenis kopi robusta yang mencapai 83 persen dari total produksi. Kemudian sisanya jenis arabika sebanyak 17 persen dan sebagian kecil jenis kopi liberika.

“Untuk robusta yang paling banyak produksinya dari Provinsi Sumsel dan Lampung, sedangkan produksi arabika yang terbesar ada di Sumut dan Aceh. Sementara liberika lumbung produksinya ada di Provinsi Jambi,” katanya menambahkan.

/FER ANTARA

Nih, Kopi Papua Arabika Organik Penuh Khasiat

BANDUNG, Indonesia2Day – Tanah yg subur membuat Indonesia kaya mulai hasil perkebunan, terutama perkebunan dataran tinggi seperti kopi. Salah sesuatu dataran tinggi di Indonesia ternyata memproduksi kopi arabika terbaik, rendah asam dan kafein.

Kwei Ing, salah sesuatu penyedia kopi arabika Papua ketika Organic Weekend Festival di Hotel Crowne Plaza Bandung, Sabtu (19/3/2016) menyampaikan kopi arabika dari dataran tinggi Papua yaitu salah sesuatu kopi terbaik yg dimiliki Indonesia.

“Kopi arabika yg ditanam di area puncak pegunungan Jayawijaya memiliki kadar asam yg mendekati nol, dan kafein yg rendah. Karena semakin tinggi tempatnya, kopi arabika mulai semakin bagus,”

ujar Ing kepada KompasTravel.

Menurut Ing, kopi arabika ditanam pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, secara geografis termasuk yg tertinggi di dunia. Sehingga bebas polusi, bebas hama, dan tak membutuhkan pupuk.

Kopi tersebut pun diekspor ke dua negara Eropa bahkan Amerika, tetapi masyarakat Indonesia banyak yg belum mengetahui kehebatan kopi Papua tersebut.

Menurutnya kopi organik tersebut memiliki antioksidan 10 kali dari buah lemon, dan digunakan sebagai obat dua penyakit di Amerika, seperti kanker payudara dan vertigo. Kafein yg didapat dari dataran tinggi papua yaitu pencegah kanker payudara terbaik.

Salah sesuatu kopi arabika organik yang berasal Papua tersebut ber label Hibo, kopi tersebut dipanen hingga diolah di Papua. Dia menambahkan proses tersebut dikerjakan bagi menjaga kualitas biji kopi yg di panen, buat segera diolah dan dikemas.

“Kopi arabika yg rentan terhadap hama, ditanam secara organik dan diberi perlakuan khusus agar bebas hama. Untuk menjaga kualitas, segera di-roasted di Papua, baru dibawa keluar setelah siap,”

ujar Ing.

Hibo sendiri cuma mengeluarkan beberapa macam atau beberapa varian rasa yg berbeda sesuai dari tahapan pengolahannya. Pertama dark french yg lebih ringan dan black italian, yg memiliki cita rasa arabika lebih kuat dan lebih hitam.

KompasTravel berkesempatan mencicipi keduanya di stand kopi organik Papua tersebut, ketika acara Organic Weekend Festival di Crowne Plaza Bandung. Dark french memiliki warna yg lebih tembus pandang, dibanding black italian.

Ketika diseruput, dark french memiliki rasa pahit yg sama seperti arabika pada umumnya tetapi rasa asamnya lebih tipis. Sedangkan black italian, memiliki aroma dan pahit yg lebih kuat, tetapi sama sekali minim rasa asamnya.

Ing menambahkan seandainya ampas dari kopi organik tersebut baik bagi detoksifikasi. Dengan cara diseduh ulang dengan memakai air pans, dan diminum tanpa campuran.

Kopi arabika organik dari Papua tersebut mampu Anda dapatkan di Natural Farm, Trans Studio Mall Bandung, dan Graha Radio Maestro, Jalan Kacapiring nomor 12, Bandung. Untuk takaran 100 gram seharga Rp 65.000 dan 200 gram seharga Rp 100.000.

Sumber: http://travel.kompas.com

Kopi Arabica Indonesia Paling Digemari di Eropa

Oleh

Sayangnya produksi kopi Arabica di Indonesia masih tergolong kurang banyak. “Sekitar 80 persen produksi kopi Indonesia masih dikuasai oleh jenis Robusta,” kata van der Put, ketika ditemui Liputan6.com dalam peluncuran SCOPI, Sustainable Coffee Platform of Indonesia di Erasmus Huis, Jakarta, Selasa (31/3/2015).

Kopi Arabica asal Indonesia, dikatakan van der Put memiliki cita rasa yang kuat dan khas, berbeda dengan kopi Arabica dari negara penghasil kopi lainnya. “Apabila dikembangkan dengan lebih baik lagi, Indonesia bisa menjadi salah satu negara pengekspor kopi terbaik di dunia,” katanya.

Kopi arabika saat ini telah menguasai sebagian besar pasar kopi dunia dan harganya jauh lebih tinggi daripada jenis kopi lainnya. Lahan Indonesia yang subur merupakan sumber tanam yang tepat untuk tanaman kopi. Sayangnya, perubahan iklim ditambah dengan kurangnya inovasi bagi para petani masih menjadi kendala bagi 1,5 juta petani kopi di Indonesia. Di Indonesia kita dapat menemukan sebagian besar perkebunan kopi arabika di daerah pegunungan toraja, Sumatera Utara, Aceh dan di beberapa daerah di pulau Jawa.

IDH melalui program SCOPI menggalakkan program yang memberikan penyuluhan bagi para petani kopi di Indonesia untuk melakukan inovasi dalam bercocok tanam kopi, terutama dari sisi teknologi. Dengan adanya SCOPI ini, van der Put melalui IDH berharap kualitas kopi dari para petani di Indonesia dapat lebih baik secara stabil. (Liz)

Hingga Beberapa Bulan ke Depan, Harga Kopi Bakal Melambung

Kamis , 17 April 2014 00:05 | Ekonomi & Bisnis

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Kekeringan yang melanda Brasil, salah satu negara produsen kopi dunia ditelah mengerek harga kopi dan akan terus mendorong kenaikan harga di pasar global. Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) memprediksi tren kenaikan harga akan berlanjut hingga enam bulan ke depan.

Pranoto Soenarto, Ketua Kompartemen Industri dan Spesialti Kopi AEKI menuturkan, dalam tiga pekan terakhir harga kopi naik cukup signifikan gara-gara kondisi di Brazil tersebut. Kenaikan harga kopi itu terjadi baik untuk jenis kopi arabika maupun kopi robusta. “Naiknya harga kopi internasional juga berpengaruh pada harga kopi Indonesia,” jelasnya kepada KONTAN Senin (10/3/2014).

Pranoto bilang, saat ini harga kopi arabika ada di kisaran US$ 4 per kilogram (kg), naik 81,8% ketimbang tiga pekan lalu yang ada di kisaran US$ 2,2 per kg. Sedangkan harga kopi robusta saat ini ada di kisaran US$ 2,1 per kg, naik 31,25% dari tiga pekan yang lalu yang ada di kisaran US$ 1,6 per kg.

Pranoto memperkirakan, dalam enam bulan ke depan harga kopi arabika akan mencapai US$ 5 per kg. Sementara untuk harga kopi robusta diprediksi bakal terkerek ke kisaran US$ 2,5 per kg.

Saimi Saleh, Presiden Direktur PT Indokom Citra Persada bilang, fluktuasi harga kopi sangat dipengaruhi oleh hasil panen di negara produsen kopi dunia. Selain itu kondisi ekonomi global seperti adanya perlambatan ekonomi di Eropa dan Amerika juga turut berpengaruh terhadap permintaan kopi.

Seperti dikutip Bloomberg pekan lalu, cuaca kering dan panas melanda Brasil yang merupakan salah satu sentra produksi kopi pada Januari hingga Februari lalu. Kondisi tersebut diperkirakan bakal berdampak pada produksi kopi dunia di dua tahun ini, yaitu 2014 – 2015.

Mengenai Indonesia sendiri, menurut data Kementerian Pertanian, realisasi produksi kopi 2013 mencapai 670.000 ton, naik 1,97% dari 657.000 ton di tahun 2012. Sementara itu, secara global produksi kopi dunia untuk periode 2013-2014 sekitar 526,77 juta ton, turun dari periode 2012-2013 sekitar 542,56 juta ton.

Tahun ini AEKI memperkirakan produksi biji kopi nasional sekitar 480.000-500.000 ton. Jenis produksi kopi Indonesia ini terdiri dari 75% merupakan jenis kopi robusta, dan sekitar 25% kopi arabika. Sementara itu, ekspor kopi Indonesia tahun ini diperkirakan sama seperti tahun lalu yang sekitar 400.000 ton.

Selama ini Indonesia mengekspor kopi ke lebih dari 80 negara. Diantaranya, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, Belgia, Italia, Inggris, Afrika, Timur Tengah, dan negara-negara ASEAN seperti Filipina, Malaysia dan Singapura.