Sudah saatnya Kopi Papua Go Internasional

DOGIYAI , PAPUANEWS.ID – Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Trikasih Lembong mengajak pemerhati kopi dan masyarakat dunia untuk lebih dekat dengan kopi Papua melalui Program “Dengan Bangga Menyeduh Kopi Papua”. Sebelumnya, beliau sukses mempromosikan kopi Indonesia di tingkat global melalui ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016.

Peluncuran program “Dengan Bangga Menyeduh Kopi Papua” yang dilakukan di Kabupaten Dogiyai, Papua, hari ini (11/6/2016) sekaligus menjadi bagian penting “Gerakan Papua Bekerja dan Unggul” yang merupakan program milik Kelompok Kerja Papua yang mendapat dukungan sepenuhnya oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag).

“Provinsi Papua menyimpan potensi kopi berkelas dunia. Papua menjadi salah satu daerah penghasil kopi di Indonesia yang sangat diminati, selain kopi Gayo, Mandailing, Jawa, Toraja, Sumatra, dan Sulawesi,” kata Tom Lembong.

“Kegiatan pemberdayaan dan edukasi ini bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan petani agar lebih optimal. Kita tahu bahwa konsumen rela membayar mahal untuk kopi yang nikmat, namun sayangnya petani kurang mengetahui harga jual kopi di pasaran,” lanjutnya.

Kabupaten Dogiyai memiliki 10 kecamatan yang keseluruhannya menyimpan potensi kopi, namun belum maksimal produksinya. Di kabupaten ini, Mendag melihat dari dekat tahapan produksi kopi dan fasilitas pengeringan, serta proses produksi kopi dari awal hingga akhir.

Sementara itu, Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kemendag Ni Made Ayu Marthini yang ikut dalam acara tersebut menyatakan pentingnya edukasi dan dukungan sarana dan prasarana bagi petani kopi.

“Para petani kopi di Indonesia juga harus mengetahui harga kopi di pasaran agar nilai jualnya tinggi sehingga petani dapat lebih sejahtera,” tuturnya.

Banyak petani kopi lokal yang tidak mengetahui harga jual kopi di pasaran. Harga coffee cherries-nya jarang dibicarakan, padahal banyak petani yang dibayar dalam bentuk buah cherries untuk produk kopinya.

elain itu, petani juga seharusnya mengetahui bahwa rasio yang dihasilkan pemrosesan coffee cherries menjadi green beans adalah 7 banding 1.

Artinya, 7 kg coffee cherries setelah diproses hanya bisa menghasilkan 1 kg coffee green beans. Harga buah (coffee cherries) dan biji kopi yang dijual oleh para petani kopi saat ini terbilang masih rendah.

Made mencontohkan, di Kabupaten Dogiyai, para petani tidak menjual kopi dalam bentuk cherries atau buah. Kopi yang dijual yaitu dalam bentuk biji yang sudah disangrai atau bubuk dengan harga Rp30.000-35.000/kg.

Sedangkan ada petani di Jawa Barat yang menjual coffee cherries hasil panennya seharga Rp7.000-8.000/kg, atau di bagian Jawa lainnya ada yang menjual coffee cherries hasil panennya Rp6.000-8.000/kg.

“Sudah sepantasnya petani kopi memperoleh harga yang lebih tinggi untuk memberi nilai ekonomi yang baik bagi petani,” tutup Made. (Red.DW)

Orang Muda Dogiyai Ditantang Jadi Pahlawan Kopi

DOGIYAI, SUARAPAPUA.com — Orang muda di Kabupaten Dogiyai ditantang menjadi pahlawan di bidang kopi untuk pertahankan dan kembangkan koperasi kopi yang sudah ada sejak puluhan tahun silam.

Didimus Tebai, ketua Koperasi Kopi St. San Isodor Moanemani, Dogiyai, usai kegiatan Bina Koperasi di aula Pemda Dogiyai, Jumat (9/9/2016), mengatakan, “Saya sudah tua, sehingga orang muda Dogiyai, siapa yang berani untuk mempertahankan kopi yang telah ada lama ini?”

Di mata Didimus, ini satu tantangan. “Sampai sekarang, yang datang jual kopi dan jadi anggota koperasi ini, rata-rata sudah berambut putih, sudah tua tidak berdaya.”

Menurutnya, kopi memunyai kualitas yang diakui di Indonesia bahkan manca negara, beberapa tahun ke depan. Sayangnya, kata Tebai, kuantitas kopi terbatas.

“Menjadi masalah dalam pengembangan kopi adalah bukan mesin penggiling dan pemasaran, tetapi yang menjadi masalah adalah bahan bakunya,” kata Tebai.

Diakuinya, hingga kini konsumen suka kopi Moanemani, tetapi para petani tidak disibukkan agen-agen pembangunan atau instansi terkait untuk menanam kopi. “Itu juga satu persoalan,” ujarnya.

Sementara itu, Andrias Gobai, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Kabupaten Dogiyai, mengatakan, semua orang harus berpikir mengenai kopi.

Kata Andy, kopi harus dikembangkan menjadi ikon Kabupaten Dogiyai.

Ia juga sepakat, “Anak muda Dogiyai harus melanjutkan apa yang sudah dibuat oleh orang tua kami. Kopi-kopi yang ada mesti dibangkitkan kembali, gereja harus bangkitkan kembali kopi milik gereja.”

Peluang ini harus direbut. Sebab, kata dia, sekarang mereka sudah tua dan anak muda yang harus lanjutkan. “Kita harus pikir kopi dan kopi,” tegas Andy.

Lanjut Andy, “Kita orang muda memang ditantang oleh tokoh yang sejak lama telah mempertahankan koperasi kopi yang ada sejak dulu di Dogiyai.”

Pewarta: Agustinus Dogomo

Editor: Mary Monireng

Makin Berkembang, Kopi Suku Amungme Dilirik Franchise Ternama

Rabu 22 Jun 2016, 02:55 WIB, Elza Astari Retaduari – detikNews

Mimika – Kopi yang ditanam petani dari Suku Amungme, Kabupaten Mimika, Papua, semakin berkembang dan terkenal. Bahkan karena rasanya yang nikmat, kopi Amungme dilirik oleh franchise kopi kenamaan.

Suku Amungme yang tinggal di pegunungan dekat tambang Tembagapura merupakan salah satu suku utama binaan PT Freeport Indonesia. Satu suku utama lainnya adalah Suku Kamoro.

Bisnis kopi Amungme sendiri dimulai sekitar tahun 1998 atas dukungan Freeport melalui program Highland Agriculture Development (HAD) dengan membuka perkebunan kopi di dataran tinggi. Awalnya bibit kopi dibawa dari sekitar Nabire atau Paniai dan terus dikembangkan.

“Sekarang perkebunan ada di tiga desa di daerah pegunungan dekat pertambangan, di dataran tinggi. Desa Tsinga, Hoya, dan Arwanop tapi Arwanop tidak terlalu produktif,” ungkap staf HAD Harony Sedik saat detikcom berkunjung ke pabrik pengolahan Kopi Amungme di Kota Timika, Sabtu (18/6/2016).

Kopi Amungme berjenis Arabica dan memiliki kandungan kafein cukup kuat. Setelah cukup berkembang, HAD yang merupakan program CSR Freeport di bawah Sosial Local Development Departement mereka lalu memfasilitasi pembentukan koperasi bagi para petani kopi dengan merk Amungme Gold tersebut.

“Sebelum ada koperasi, kami yang urus dari HAD, langsung pihak Freeport. Dengan koperasi sudah ada karyawan. Koperasi berdiri sendri, bahkan kerjasama dengan koperasi lain. Kami sudah ada kerja sama dengan Koperasi dari Wamena dan Paniai,” ucap Harony.

Ke depan, Koperasi Amungme Gold Coffe juga berharap bisa bekerja sama dengan petani kopi lain. Seperti petani kopi Robusta yang ditanam di Distrik Agimuga, Timika, daerah yang ada di pesisir di Kabupaten Mimika. Dengan harapan agar koperasi juga dapat memberdayakan petani kopi lain selain dari Suku Amungme.

Kesohoran Kopi Amungme kerap membuat pihak koperasi kehabisan stok. Apalagi untuk mendapatkan biji kopi dari daerah pegunungan itu terkendala pada masalah transportasi. Sebab untuk mengangkut biji kopi dari perkebunan petani, kata Harony, pihak koperasi perlu terbang dengan menyewa helikopter.

“Kapasitas 1 ton itu kami tidak sampai 2 bulan sudah habis. Makin hari makin banyak peminat. 1 Ton 1 bulan, bahkan kadang nggak sampai. Kami sendiri kewalahan, langsung habis. Peminat dari Timika, dari luar juga,” tuturnya.

“Ambilnya pakai chopper. Makanya agak sedikit mahal, tapi memang enak. Sewa chopper 3.000 USD satu jam. Bisa ke tiga desa lalu kembali ke Timika. Ambilnya setiap bulan sekali langsung tiga kampung. Sebulan sekali monitoring sekalian ambil,” imbuh Harony.

Biji kopi diambil dari petani dalam kondisi belum dikupas seharga Rp 35 ribu/kg. Satu kali monitoring, pihak koperasi membeli 25 kg biji kopi yang belum dikupas dari satu petani. Satu kampung sekitar 500 kg. Sehingga untuk satu kali pengangkutan, koperasi bisa membawa kurang lebih 1,5 ton.

Terkadang koperasi yang mulai berdiri pada tahun 2013 itu mengambil biji kopi jenis Arabica dari Wamena atau Paniai namun dalam kondisi yang sudah dikupas dengan harga Rp 90 ribu/kg. Hal tersebut untuk memenuhi permintaan pembeli yang makin terus meningkat.

“Kalau dari Wamena dan Paniai, sudah green bean. Kualitas sama, tapi dari 3 desa Amungme lebih fresh. Karena memang diambilnya pakai chopper maka lebih banyak cari yang Amungme,” kata dia.

Saat ini ada 24 petani dari tiga desa Amungme yang menjadi binaan koperasi dengan total perkebunan 3 hektar. Beberapa petani ada yang diberdayakan menjadi karyawan koperasi untuk monitoring, pembina petani, dan juga untuk melakukan pengolahan di pabrik. Untuk yang terakhir, petani mendapat fasilitas mess di daerah kota Timika.

“Petani sekaligus pengurus koperasi kami gaji Rp 10 juta per bulan.Tapi kalau petani pure, kami hanya beli biji kopinya. Bibit dari kami. Di sini (pabrik) mulai dari pengupasan, pengeringan, fermentasi, roasting, granding, dan packaging,” jelas Harony.

Melihat besarnya modal produksi, sebenarnya koperasi tidak mendapat untung dari bisnis kopi Amungme. Hingga saat ini bisnis kopi bagi warga Suku Amungme sebagai pemilik hak ulayat daerah tambang masih mendapat bantuan CSR Freeport.

Kopi Amungme dikemas untuk ukuran 250 gram dan harganya dibanderol Rp 50 ribu dari koperasi. Ada beberapa tipe yang dijual. Kopi yang telah dihaluskan seperti kopi tubruk, kopi yang sedikit masih kasar, dan ada juga biji kopi matang.

“Kalau mau beli tergantung mereka. Kalau bule biasanya maunya yang bean, kalau masyarakat kita maunya yang halus. Ada yang minta dikirim lewat paket,” sebut dia.

Meski koperasi menjual dengan harga Rp 50 ribu per kemasan, namun harga di pasaran bisa lebih tinggi. Seperti toko di dalam Bandara Mozes Kilangin yang menjual Kopi Amungme dengan harga Rp 100 ribu per kemasan.

Awalnya kopi Amungme hanya dijual terbatas bagi kalangan ekspatriat di kawasan Tembagapura. Saat ini penjualan sudah umum bahkan terus dipromosikan dan menjadi salah satu jenis yang dicari para penikmat atau pecinta kopi.

“Bule setelah mereka kerja sini baru tahu, lalu kalau kembali ke negaranya mereka bawa. Kebanyakan karyawan ekspat awalnya yang beli. Sekarang warga banyak cari. Kalau ada event, kayak kemarin di Turki, Bupati bawa untuk promosi,” terang Harony.

Memiliki cita rasa yang khas dan nikmat, Kopi Amungme mulai diperhitungkan untuk masuk ke dunia usaha besar. Apalagi dengan aromanya yang kuat, Amungme Gold tak bisa dipandang sebelah mata.

Waralaba kopi dengan lingkup usaha internasional, dikatakan Harony, bahkan ingin menggunakan jenis Kopi Amungme untuk produk mereka. “Starbucks mau ngadain kerjasama tapi kami stok masih terbatas. Jadi belum bisa. Ini saja sekarang kami tidak ada stok. Harus ambil biji kopi dulu pakai chopper untuk kami produksi lagi,” pungkasnya.

(elz/Hbb)

Mendag Luncurkan Gerakan ‘Dengan Bangga Menyeduh Kopi Papua’ Di Dogiyai

Jayapura, Jubi – Setelah sukses promosi kopi Indonesia di tingkat global melalui ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016. Menteri Perdagangan Republik Indonesia (Mendag RI), Thomas Trikasih Lembong kali ini mengajak pemerhati kopi dan masyarakat dunia untuk lebih dekat dengan kopi Papua melalui Program “Dengan Bangga Menyeduh Kopi Papua”.

Peluncuran program ini dilakukan di Kabupaten Dogiyai,Papua, Sabtu (11/06/2016). Peluncuran ini sekaligus menjadi bagian penting “Gerakan Papua Bekerja dan Unggul” yang merupakan program milik Kelompok Kerja (Pokja) Papua yang mendapat dukungan sepenuhnya oleh Kemendag RI.

“Provinsi Papua menyimpan potensi kopi berkelas dunia. Papua menjadi salah satu daerah penghasil kopi di Indonesia yang sangat diminati, selain kopi Gayo, Mandailing, Jawa, Toraja, Sumatra, dan Sulawesi,”

kata Menteri Perdagangan RI, Thomas Lembong melalui release yang diterima Jubi, Senin (13/06/2016).

Mendag mengatakan, data Dinas Perkebunan Provinsi Papua mencatat terdapat 16 petani kopi di Papua yang tersebar di Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, dan Kabupaten Dogiyai.

Dia menjelaskan, sejumlah pemerhati kopi di Jakarta turut serta dalam kampanye ini. Bersama Pemerintah Pusat, mereka diajak memberikan edukasi mengenai teknik budi daya,pengolahan pascapanen, dan pemasaran.

“Kegiatan pemberdayaan dan edukasi ini bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan petani agar lebih optimal. Kita tahu bahwa konsumen rela membayar mahal untuk kopi yang nikmat, namun sayangnya petani kurang mengetahui harga jual kopi di pasaran,”

lanjut Mendag Tom.

Kabupaten Dogiyai memiliki 10 kecamatan yang keseluruhannya menyimpan potensi kopi, namun belum maksimal produksinya. Di kabupaten ini, Mendag melihat dari dekat tahapan produksi kopi dan fasilitas pengeringan, serta proses produksi kopi dari awal hingga akhir.

Saat ini, proses pengolahan kopi di Dogiyai masih tradisional. Mesin-mesin seperti mesin penumbuk yang digunakan pun masih sisa peninggalan Belanda dan belum ada peremajaan. Proses penjemuran dan pengupasan kulit masih manual, serta kopi disangrai dengan kompor dan ditumbuk. Perkebunan kopi di Kabupaten Dogiyai merupakan perkebunan peninggalan misionaris Belanda di tahun 1890-an. Pada era tersebut, sebagian besar masyarakat Dogiyai adalah petani kopi.

Seiring perubahan zaman, masyarakat mulai jarang menanam kopi dan beralih profesi menjadi buruh bangunan untuk mendapatkan uang lebih cepat.

Sebelumnya, Mendag juga meninjau salah satu perkebunan kopi di Kabupaten Tolikara dan berdialog dengan pengusaha kopi setempat. Mendag berharap kopi asli Papua ini menjadi kebanggaan masyarakat Papua dan menjadi komoditas yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat Papua.

Sementara itu, Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kemendag Ni Made Ayu Marthini yang ikut dalam acara tersebut menyatakan pentingnya edukasi dan dukungan sarana dan prasarana bagi petani kopi.

“Para petani kopi di Indonesia juga harus mengetahui harga kopi di pasaran agar nilai jualnya tinggi sehingga petani dapat lebih sejahtera,” kata Ni Made Ayu Marthini.

Banyak petani kopi lokal yang tidak mengetahui harga jual kopi di pasaran. Harga coffee cherries-nya jarang dibicarakan, padahal banyak petani yang dibayar dalam bentuk buah cherries untuk produk kopinya. Selain itu, petani juga seharusnya mengetahui bahwa rasio yang dihasilkan pemrosesan coffee cherries menjadi green beans adalah 7 banding 1. Artinya, 7 kg coffee cherries setelah diproses hanya bisa menghasilkan 1 kg coffee green beans.

Harga buah (coffee cherries) dan biji kopi yang dijual oleh para petani kopi saat ini terbilang masih rendah. Made mencontohkan, di Kabupaten Dogiyai, para petani tidak menjual kopi dalam bentuk cherries atau buah. Kopi yang dijual yaitu dalam bentuk biji yang sudah disangrai atau bubuk dengan harga Rp30.000-35.000/kg. Sedangkan ada petani di Jawa Barat yang menjual coffee cherries hasil panennya seharga Rp7.000-8.000/kg, atau di bagian Jawa lainnya ada yang menjual coffee cherries hasil panennya Rp6.000-8.000/kg

“Sudah sepantasnya petani kopi memperoleh harga yang lebih tinggi untuk memberi nilai ekonomi yang baik bagi petani,” ungkap Made.

Plt. Kepala Dinas Perindagkop Kabupaten Dogiyai, Andrias Gobai mengungkapkan, Kabupaten Dogiyai memiliki 5 UKM kopi yang salah satunya dibina Pastor Gereja Katolik. Selain kebun peninggalan Belanda, di Kabupaten Dogiyai juga terdapat kebun kopi SMP Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK) seluas 1 hektare.

“Sekolah ini menyelipkan pendidikan mengenai kopi pada kurikulum ajarnya sehingga murid-murid diajarkan memetik dan mengolah kopi di sekolah. Kami harap, kopi Papua, khususnya dari Dogiyai dengan nama Kopi Arabika Moanemani bisa menembus pasar ekspor dalam tiga tahun ke depan dan dapat disajikan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua tahun 2020,” jelas Gobai. (*)

Petani Minta Perhatian Serius dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Dogiyai

Kopi Moanemani Mengalami Degradasi

Dogiyai, Majalah Beko – – Kopi Moanemani mengalami degradasi, sehingga Dinas Pertanian dan Perkebunanan Kabupaten Dogiyai mengadakan Pembinaan Petani Kopi di Kabupaten Dogiyai Tahun 2016 di Balai P-3, Kampung Putapa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Kamis (28/04) siang.

Kegiatan ini dibuka Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Dogiyai, Emanuel Dogomo dan dihadiri Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Provinsi Papua, Yogi A. Kaiwai, serta puluhan petani kopi asal Putapa.

Dalam sambutan Gubernur Papua, Lukas Enembe yang diwakili Kepala Biro Perekonomian dan SDA Papua itu mengatakan, petani kopi Dogiyai perlu dibina.

“Pemprov Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) mau dengar suara masyarakat Dogiyai soal Kopi Moanemani. Kabupaten Dogiyai lebih dikenal karena satu potensi hasil karya masyarakat Dogiyai adalah kopi. Kemampunan berbasis masyarakat Dogiyai perlu dibina melalui hasil karya mereka, yakni kopi ini,” katanya.

Menurut Yogi, pembinaan ini perlu dilakukan demi meningkatkan dan memberdayakan kualitas Kopi Moanemani yang mengalami degradasi akhir-akhir ini. Pasalnya, kopi pegunungan Papua bagian Barat ini sudah diekspor dan dikenal sampai ke luar negeri.

“Kami sudah kenal lama Kopi Moanemani yang unggul ini. Produksi kopi unggulan ini sudah terkenal dari Kabupaten Dogiyai hingga Nabire dan lebih populer di daerah Papua, bahkan di Belanda,” jelasnya.

Kata Yogi, Gubernur Papua mengharapkan, Kopi Moanemani harus diberdayakan dan ditingkatkan melalui pembinaan yang digelar ini.

“Gubernur Papua berharap dan ingin agar keunggulan Kopi Moanemani dipertahankan dan lebih ditingkatkan lagi dengan pembinaan ini. Mari berdayakan kopi unggulan ini dengan mengolah dan menjual kepada orang lain, selebihnya ekspor dengan kerja sama yang baik,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Dogiyai, Emanuel Dogomo di kesempatan yang sama.

“Kami, pihak Pemerintah Dogiyai melalui dinas terkait mengadakan pembinaan khusus kepada masyarakat supaya lebih meningkatkan usaha Kopi Moanemani,” katanya.

Pembinaan ini perlu dilakukan, kata Dogomo, pasalnya, perkembangan kopi ini sedang mengalami degradasi dalam pengelolaan dan pengeksporan.

“Melihat dengan perkembangan di Dogiyai, khususnya kopi unggulan yang sedang menuju kemunduran ini, maka kami mengadakan pembinaan. Sehingga, saya selaku kepala dinas meminta, mari kita meningkatkan pengembangan yang berpotensi bermasyarakat ini supaya komoditi Kopi Moanemani dapa kita ola dan ekspor,” pintanya.

Sementara, Kepala Kampung Putapa sekaligus petani kopi, Simon Dogomo mengatakan, kurangnya perhatian dari dinas terkait membuat degradasi itu terjadi.

“Warga Putapa khususnya dan umum masyarakat Dogiyai mulai lupakan kebun kopi karena kurang perhatian serius dari dinas terkait. Apabila ada perhatian dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Dogiyai, maka saya pikir, masyarakat Dogiyai mampu mengembalikan kopi unggulan yang ada,” katanya.

Selain itu, tambahnya, gaji petani pun dipangkas hingga tidak ada sisa.

Sehingga, di kesempatan ini, dirinya meminta Pemprov Papua turun lapangan melihat usaha petani Dogiyai.

“Kami minta pemprov boleh melihat kemampuan kami, seperti saat ini, mulai dari kebun kopi, sayuran dan umbi-umbian,” pintanya.

(YD)

Pemprov Minta Prioritaskan Komoditas Unggulan

Emanuel Dogomo, S.Pt., M.Si Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dogiyai, saat membuka Kegiatan Pembinaan Petani Kopi di Balai Aula, Putapa, Distrik Kamuu, di Kabupaten Dogiyai, Kamis (28/04/2016) siang. Foto: YD/Beko.com
Emanuel Dogomo, S.Pt., M.Si Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dogiyai, saat membuka Kegiatan Pembinaan Petani Kopi di Balai Aula, Putapa, Distrik Kamuu, di Kabupaten Dogiyai, Kamis (28/04/2016) siang. Foto: YD/Beko.com

Foto: YD/Beko.com

Dogiyai, KAJPNews -Pemerintah Kabupaten Dogiyai Melalui Dinas Pertanian dan Perkebunanan Gelar Kegiatan“Pembinaan Bagi Petani Kopi di Kabupaten Dogiyai Tahun 2016” di Balai Aula P-3, Putapa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Kamis (28/04/2016) siang lalu.

Dalam sambutan Gubernur Papua Lukas Enembe, S.IP, MH, yang diwakili Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Propinsi Papua, Yogi. A. Kaiwai, S.Sos., MPA, mengatakan, Pemerintah Provinsi Papua melalui bidang perekomian berkomitmen untuk mengembalikan komidatas unggulan yang ada di kabupaten Dogiyai seperti kopi, sayur-mayur dan umbi-umbian.

“Kami sudah kenal lama kopi murni Moanemani,” ujar Yogi. A. Kaiwai, S.Sos., MPA

Dikatakannya bahawa kedatangan mereka hanya untuk mendengar aspirasi masyarakat tentang kendala yang mereka alami.

“Kami Pemerintah Provinsi Papua melalui Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) ingin mau dengar aspirasi para petani kopi kabupaten Dogiyai. Pasalnya, kopi murni moanemani terharum namanya di daerah Papua hingga Belanda,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menghimbau agar para petani kopi maupun pemerintah daerah setempat mestinya membangun kerjasama yang baik agar komidatas kopi bisa kedepannya bias diekspor ke daerah lain.

“Mari kita mengangkat komoditas unggulan yang sudah lama dikenal. Sehingga komoditas ini bisa diolah dengan baik dan dijual kepada orang lain selebihnya eksport ke daerah ataupun negara lain,” ajaknya.

Selain itu, Emanuel Dogomo, S.Pt., M.Si Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dogiyai, sepakat bahwa kopi Moanemani memang cukup dikenal masyarakat luas.

“Kopi Moanemani memang lama dikenal masyarakat di tingkat daerah, nasioanal bahkan internasioanal,” jelasnya.

Kata dia, Pemerintah Dogiyai melalui dinas terkait mengadakan pembinaan khusus kepada masyarakat supaya lebih meningkatkan komoditas kopi yang sedang menuju kemunduran.

“Saat ini, kami mengadakan pembinaan secara khusus kepada para petani kopi karena produksi kopi seakan berjalan di tempat karena masyarakat sekarang tidak lagi merawat kebun kopi mereka.”

Sementara itu, Simon Dogomo Kepala Kampung Putapa, juga menyayangkan,kondisi itu karena masyarakat Dogiyai, sudah tidak berkebun kopi. Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah karena kurangnya perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Dogiyai.

“Jika bisa, Pemerintah Provinsi Papua , dalam hal ini bidang perekomian dan sumber daya alam (SDA) memberi bantauan secara langsung kepada petani kopi, sayuran dan umbi-umbian. Karena selama ini belum ada perhatian dari dinas terkait,”

harap Dogomo.

Ia juga mengatakan bahwa, apabila ada perhatian dari dinas pertanian dan perkebunan, maka dirinya yakin kalau keunggulan kopi Moanemani itu akan kembali seperti sedia kala.

“Jika ada perhatian dari dinas terkait, saya ada pikir masyarakat Dogiyai mampu mengembalikan “Kopi Unggulan” yang ada,” pungkasnya (Yohanes Dogomo)

Labels: Berita