Amungme Gold

Chapter 1 Amungme Gold: Kopi Dari Pegunungan Nemangkawi

Amungme Gold Arabica Coffee

Amungme Gold Arabica Coffee

(Aviable English Version , under Indonesia Language) PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui bagian Community Economic Development dari Departemen Social Outreach & Local Development (SLD) mendirikan Amungme Agro Forestry Group (AAF) pada tahun 1998, yang dikelola oleh Yayasan Jayasakti Mandiri (YJM). Di penghujung tahun 1999, AAF mulai menanam kopi jenis Arabika di beberapa daerah di dataran tinggi. Nama kopi tersebut, Amungme Gold digunakan mewakili kultur masyarakat ‘Amungme’ yang membudidayakan kopi ini, sementara ‘Gold’ merepresentasikan logam mulia yang ditambang di sekitar daerah tersebut.

Kopi Amungme Gold berkembang, semakin dikenal sehingga pada tahun 2011 dilakukan peningkatan ekstensifikasi lahan seluas 1,1 hektar (atau penambahan pohon kopi sebesar 1.226 pohon), sehingga total pohon kopi yang sudah ditanam di lapangan hingga tahun 2011 mencapai 15.972 pohon, dan tersebar di 3 lokasi (Tsinga, Hoea dan Aroanop).

Pada akhir tahun 2011, beberapa kelompok masyarakat di Desa Aroanop Dan Desa Nasoalanop- Tsinga melihat peluang kopi amungme yang cukup baik sehingga dengan inisiatif mereka membuat suatu kelompok tani ( Petani Mandiri ) yang di pimpin langsung oleh kepala desa. Sampai saat ini terdapat 56 petani binaan dalam program tersebut, 34 petani diantaranya adalah petani mandiri. Sr. Liaison Officer, HL Agricultural Development Arnoldus Sanadi menjelaskan bahwa proses pengolahan biji kopi dilakukan dengan cara sederhana. “Biji kopi merah dikupas lalu difermentasikan selama 2-3 malam agar pulp/lendirnya hilang, selanjutnya dijemur sehingga menjadi parchment, kemudian dikupas kembali kulit tanduknya sehingga tampak biji berwarna hijau (green bean).

Pada tahap terakhir melalui proses pembakaran sehingga menghasilkan whole bean yang berwarna hitam. “Semua proses dilakukan secara manual dan mandiri di desa atau kampung setempat, ceritanya. Proses pasca panen pada tahap hulling (pengupasan kopi parchment, sorting, roasting, packing, dan delivery) dilakukan di Timika tepatnya di Basecamp, sedangkan proses panen sampai dengan pengeringan bijih parchment dilakukan di masing-masing sentra produksi kopi glondong yaitu; di kampung Tsinga, Hoea dan Aroanop, tambahnya. “Tim dari Institut Pertanian Bogor (IPB) telah memuji keunikan Amungme Gold dengan aromanya yang kental, cita rasa yang kuat, dan proses pengolahan yang tanpa menggunakan bahan kimia (organik)”, bangganya.

Bukan hanya itu, bekerjasama dengan USAID AMARTA pada tahun 2009 Kopi Amungme Gold mengikuti kontes kopi dunia di Amerika Serikat dan berhasil meraih kategori kopi kelas Premium.Kopi Amungme Gold saat ini sudah tergabung sebagai member Asosiasi Kopi Seluruh Indonesia (AKSI). Distribusi kopi Amungme Gold saat ini diminati konsumen PTFI seperti karyawan dan keluarga karyawan juga komunitas PTFI yang sering menjadikan kopi Amungme Gold sebagai oleholeh/ gift untuk keluarga pulau lain di luar Papua dan di Papua sendiri.

Selain para tamu Manajemen dan tamu PTFI yang bekunjung ke PTFI, beberapa kalangan instansi swasta seperti kantor Jiwasraya Jayapura, dan Makassar, membeli sebagai kopi bingkisan. Di Timika beberapa kedai kopi sepeti Yummi Bakery dan di Jayapura juga menjual kopi Amungme Gold. Sejak didirikan Kopi Amungme Gold semakin dikenal, pada akhir tahun 2011, telah dilakukan program kerja sama dengan Dinas Teknis Pemerintah Mimika, yaitu Dinas Perkebunan dalam rangka pengembangan tanaman kopi di kampung Tsinga. Program ini akan mulai direalisasikan pada tahun 2012. (ay)

(English Version) PT Freeport Indonesia (PTFI), through its Social Outreach and Local Development Deparment’s Community Economic Development Section, established the Amungme Agro Forestry group in 1998, managed by Jayasakti Mandiri Foundation (YJM).

Towards the end of 1999, AAF began planting Arabica coffee in several highland areas. The coffee was named Amungme Gold, in honor of the Amungme people who are managing the coffee production and the gold that is mined in the area. Amungme Gold coffee is growing, and increasingly getting well known that in 2011 there was an increase of extensive land area around 1.1 hectares (or the addition of 1.226 coffee trees), therefore in 2011 the total coffee trees that have been planted are 15.972 trees, and spread over 3 location (Tsinga, Hoea and Aroanop). In 2011, several community groups in Aroanop and Nasoalanop-Tsinga see this good opportunity and initiated to make a group of farmers lead directly by their village Chief. Currently there is 56 assisted farmers in this program where 34 of them are independent farmers.

Sr. Liaison Officer of the Agricultural Development Highlands, Sanadi Arnold explained process of making this coffee is simple. The coffee beans are peeled and then fermented for 2-3 nights until the pulp is lost. Then they are dried into parchment that will be peeled until we see the green bean. The final process is the whole bean roast, which turns the green beans black. “The entire process is done manually and independently in the highland village area”, he said. The hulling stage of the post-harvest process (coffee parchment peeling, sorting, roasting, packing, and delivery) is done in Timika precisely in Basecamp, while the harvest process to the parchment drying is done in each of the coffee production center namely in Tsinga, Hoea and Aroanop, he added. “A team from the Bogor Agricultural Institute (IPB) has commended the Amungme Gold for its unique aroma, strong flavor, and organic processing that does not use chemicals” he proudly stated.

Not only that, in collaboration with the USAID AMARTA in 2009 the Amungme Gold coffee entered the world coffee contest in the United States and achieved Premium class coffee category also Amungme Gold Coffee is now incorporated as a member of the Indonesian Coffee Association. The Amungme Gold Coffee distribution currently is demanded by PTFI consumers, the employees and their families, also the PTFI communities who often make the Amungme Gold coffee as a souvenir /gift to family living outside of the Papuan islands and in Papua itself. In addition to the Management guests and guests visiting PTFI, private institutions such as Jiwasraya Jayapura, and Makassar, buys the Amungme Gold as gifts. Some coffee shops such as Yummi Bakery in Timika and Jayapura also sells the Amungme Gold coffee.

Since its founding the Amungme Gold coffee is continuously recognized, by the end of 2011, work plan has been conducted with the Office of Government Technical Mimika, the Plantation Office in order to develop coffee plants in the Tsinga. The program will begin in 2012. (ay)

silahkan comment-nya/masukan/sharing-nya … thanks from marlonkambuaya@yahoo.com

 Length: [1011] words., and modified on May 31st, 2016.