Baliem Blue Coffee

III. Baliem Blue Coffee

Tanaman kopi adalah salah satu komoditas pertanian yang mempunyai prospek pasar yang terus meningkat sehingga beberapa daerah di Indonesia misalnya di Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Sulawesi telah membudidayakan tanaman kopi menjadi andalan eksport untuk meningkatkan pendapatan asli daerah terutama para petani di pedesaan. Kenyataan ini mendorong daerah lain untuk mengembangkan budidaya tanaman kopi agar dapat meningkatkan pendapatan para petani.

Pengembangan tanaman kopi di Provinsi Papua sudah lama dikenal sejak Pemerintahan Hindia Belanda. Jenis tanaman kopi yang dikembangkan di tanah Papua terutama di daerah pedalaman adalah jenis Coffea arabica, sedangkan jenis Coffea robusta dikembangkan di daerah pesisir pulau Papua. Setelah Papua berintegrasi dengan Indonesia, maka budidaya tanaman kopi menjadi salah satu komoditas andalan untuk meningkatkan pendapatan petani di pedesaan Propinsi Papua.

Kabupaten Yahukimo, Jayawijaya, dan Lani Jaya adalah kabupaten di daerah pedalaman Provinsi Papua, yang sudah lama mengembangkan tanaman kopi terutama jenis Coffea arabica.

Sebagian wilayah di tiga kabupaten ini berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Taman Nasional Lorentz dan masyarakatnya sudah membudidayakan tanaman kopi sebagai komoditas unggulan untuk meningkatkan pendapatan keluarga petani di desa.

Jenis tanaman kopi (Coffea arabica) menjadi pilihan untuk pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Lorentz, karena beberapa alasan, antara lain :

– Jenis tanaman ini jika dibudidayakan memerlukan tanaman pelindung (naungan) yang dapat berfungsi mencegah erosi tanah dan meningkatkan kesuburan tanah melalui daun dan ranting yang gugur dan membusuk.

– Tanaman pelindung dapat berfungsi menstabilkan iklim mikro serta menjadi tempat berlindung berbagai jenis burung dan hewan lain sehingga lokasi atau lahan pertanian kopi menjadi kawasan hutan atau habitat hidup hewan dan tumbuhan sebagai dampak dari hasil budidaya tanaman kopi.

– Tanaman pelindung dapat berfungsi sebagai pengatur tata air pada saat musim hujan karena sistim perakarannya menembus lapisan tanah yang dalam sehingga air dapat merembes masuk ke dalam tanah pada saat musim hujan dan tertampung dalam tanah. Pada saat musim kemarau; air itu tetap mengalir karena persediaan air tanah banyak.

– Para petani di kabupaten Yahukimo, Jayawijaya, dan Lani Jaya telah membudidayakan tanaman kopi dan mendapat manfaat ekonomi dari hasil budidaya tanaman kopi.

– Tanaman kopi masyarakat di kabupaten Yahukimo, Jayawijaya, dan Lani Jaya merupakan produk pertanian yang ramah lingkungan (green produck) karena tidak menggunakan pupuk an-organik (pupuk buatan pabrik) dan pertisida untuk pemberantasan hama dan penyakit tanaman yang cenderung merusak tanah dan membunuh satwa lain.

A. KOPI BIJI KERING (GREEN BEAN)

Kopi Biji Kering diolah dengan menggunakan mesin pengupas kulit kopi sekaligus disaring atau ditapis sehingga diperoleh biji kopi yang utuh dengan kualitas terbaik atau Grade A.

Kopi Biji Kering sudah mulai digemari oleh beberapa pengusaha cafe dengan alasan lebih menguntungkan karena dapat disimpan lebih lama dan dapat disangrai sesuai dengan kebutuhan.

Saat ini, KSU Baliem Arabica memproduksi kopi biji sangrai dengan berbagai ukuran dan kemasan:

No Berat/ gram Harga
 1  500 gram  Rp. 40.000,- FOB Jayapura dan  Rp. 50.000,- FOB Yogyakarta
 2  1.000 gram/ 1 kg  Rp. 70.000,- FOB Jayapura dan  Rp. 90.000,- FOB Yogyakarta

 B. KOPI BIJI SANGRAI (ROASTED BEAN)

Kopi Biji Sangrai diolah dengan menggunakan mesin penggorengan sederhana yang berkapasitas 5 Kg sekali goreng. Diopeasikan oleh

Dengan mesin pengorengan ini, dihasilkan biji kopi sangrai yang matang dengan warna coklat dan dengan aroma yang kuat dan khas, bukan warna hitam seperti hasil penggorengan dengan menggunakan wajan. Pada umumnya Kopi Sangrai banyak diminati oleh  pengusaha warung kopi dan cafe. Selain itu ada beberapa penikmat kopi dari berbagai kota telah mencoba kopi wamena sebagai pilihannya. Pelanggan kami berasal dari beberapa pihak seperti PT Freeport Indonesia, serta pelanggan di Jakarta, Makassar, Jawa Tengah dan Amerika Serikat.

Saat ini, KSU Baliem Arabica memproduksi kopi biji sangrai dengan berbagai ukuran dan kemasan:

 No  Berat/ gram  Harga
 1.  250 gram  Rp.40.000,- (ready)
 2.  500 gram *)  Rp.80.000,-
 3.  1.000 gram/ 1 kg *)  Rp.160.000,-

*) Dapat dipesan

C. KOPI BUBUK BBCOFFEE (GROUNDED BEAN/ COFFEE POWDER)

Kopi Bubuk BBCoffee adalah kopi bubuk Arabika Asli produksi KSU Baliem Arabica yang diolah dari biji kopi Papua Specialty Coffee. Kopi Bubuk BBCoffee diolah menggunakan mesin penggilingan kopi dengan kapasitas 10 Kg sekali giling.

Kopi bubuk halus dan kopi bubuk kasar dihasilkan oleh mesin giling ini dan kini dapat dinikmati dengan menurut selera. Kopi Bubuk Baliem Blue dijual dalam berbagai kemasan, dengan mengutamakan dalam bentuk sebagai oleh-oleh khas Wamena yang banyak dicari  saat mau kembali dari Wamena ke tempat asal. Saat ini, KSU Baliem Arabica memproduksi kopi bubuk dengan berbagai ukuran dan kemasan:

 

 No. Berat/ gram  Harga Keterangan
 1.  7 gram   Rp.2.000,-  Cukup untuk diminum 1 gelas kopi (Dalam bungkusan plastik)
 2.  15 gram   Rp.4.000,-  Cukup untuk diminum 2 gelas kopi (Dalam bungkusan plastik)
 3.  25 gram   Rp.10.000,-  Cukup untuk diminum 2 gelas kopi (Dalam bungkusan plastik)
 4.  50 gram   Rp.15.000,-  Cukup untuk diminum 2 gelas kopi (Dalam bungkusan plastik)
 5.  100 gram   Rp.35.000,-  Dalam bungkusan aluminium coil
 6.  250 gram   Rp.50.000,-  Dalam bungkusan aluminium coil
 7.  1000 gram/ 1 kg   Rp.200.000,-  Dalam bungkusan aluminium coil

IV. Papua Robusta Coffee

Kopi Robusta dari Tanah Papua sampai saat ini (Juli 2013) belum dikelola secara baik. Oleh karena itu,KSU Baliem Arabica sebagai perintis pengembangan kopi di Tanah Papua akan mengambil berbagai langkah untuk meingkatkan produksi dan penjualan Kopi Robusta Papua.

 

V. Klasifikasi Kopi

Tanaman kopi merupakan kelompok tumbuhan berbentuk pohon dalam marga Coffea. Genus ini memiliki sekitar 100 spesies tanaman tetapi hanya 3 jenis yang memiliki nilai ekonomis bagi manusia sehingga dibudidayakan oleh masyarakat, yaitu Robusta,Arabica dan Liberica. Kedua jenis tanaman kopi yakni, Robusta & Arabica, umumnya dibudidayakan di Indonesia – termasuk di Papua. Klasifikasi jenis tanaman ini sebagai berikut :

  • Kingdom     : Plantea
  • Divisi      : Magnoliophyta
  • Kelas       : Magnoliopsida
  • Ordo        : Gentianacea
  • Famili      : Rubiaceae
  • Genus       : Coffea
  • Spesies     :  – Coffea arabica

–   Coffea robusta

–   Coffea liberica

Kopi Arabica (Coffea arabica) tumbuh baik di daerah dengan ketinggian 700 – 1.700 m diatas permukaan laut, suhu 16 – 20°C, beriklim kering selama 3 bulan setiap tahun berturut-turut. Kopi arabica sangat peka terhadap penyakit HV, terutama bila ditanam didaerah yang ketinggiannya kurang dari 500 m diatas permukaan laut.

Kopi robusta merupakan turunan spesies kopi jenis cenephora. Tanaman ini tumbuh baik pada ketinggian 400 – 700 m diatas permukaan laut, suhu atau temperatur udara 21 – 24° C, dengan bulan kering 3 – 4 bulan secara berturut-turut dan 3 – 4 kali hujan kiriman. Kualitas buahnya lebih rendah dari kopi Arabica dan Liberika.

VI. Potensi Kopi

Berdasarkan penelitian dan kajian yang dilakukan terhadap potensi dan tata niaga kopi di kabupaten Yahukimo, Jayawijaya, dan Lani Jaya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Potensi kopi di kabupaten Yahukimo, Jayawijaya dan Lani Jaya cukup besar, dengan jumlah petani kopi 2007 orang dan luas lahan 1.102 ha serta kemampuan produksi 193,25 ton pertahun.

2. Potensi produk kopi terbesar terdapat di kabupaten Jayawijaya, yaitu sebesar 138,75 ton pertahun, kemudian Lani Jaya, yaitu sebesar 28,25 ton pertahun, dan disusul oleh Yahukimo, yaitu 26,25 ton pertahun. Produksi kopi di kabupaten Yahukimo dan Lani Jaya diperkirakan dapat bertambah karena semua distrik tidak didata pada penelitian ini.

3. Berdasarkan kemampuan produksi kopi diatas, maka potensi pendapatan asli daerah di tiga kabupaten yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat adalah sebesar Rp 1.932.500.000 – 2.898.750.000 pertahun, rincian pendapatan perkabupaten sebagai berikut : (1). Yahukimo, yaitu Rp 262.500.000 – 393.750.000, (2). Jayawijaya, yaitu Rp 1.387.500.000 – 2.081.250.000, (3). Lani Jaya, yaitu Rp 282.500.000 – 423.750.000,-

4. Beberapa anggota petani di kabupaten Yahukimo dan Lani Jaya masih melakukan pengupasan kulit biji kopi secara manual (dimasukan kedalam karung dan di injak-injak) sehingga kemampuan produksinya rendah.

5. Hasil pengamatan lapangan di distrik Kurima & Tangma kabupaten Yahukimo,  distrik Asolokobal, Hubikossi, Pelebaga, dan Asologaima di kabupaten Jayawijaya, dan distrik Tiom, Pirime, dan Makki kabupaten Lani Jaya diketahui bahwa banyak petani yang belum mengelola kebun kopi dengan baik.

6. Berdasarkan hasil kajian terhadap indikator kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pengembangan kopi disekitar kawasan Lorentz, maka disimpulkan bahwa program ini layak untuk dilaksanakan dan memiliki prospek bisnis yang baik dikelola secara profesional.

7. Program pengembangan kopi di kabupaten Yahukimo, Jayawijaya, dan Lani Jaya dapat dilakukan dengan mempertimbangkan isu-isu strategis dan rancangan program yang disampaikan dalam kajian ini.

 Length: [1552] words., and modified on June 12th, 2017.