“Kopi Senang” Produksi 5.000 Bungkus Per Hari

Financial Manager PT. Senang Abadi Sorong Iwan Kurniawan – Jubi/Niko
Financial Manager PT. Senang Abadi Sorong Iwan Kurniawan – Jubi/Niko

Sorong, Jubi – PT. Senang Abadi Kopi Senang di di Km 8, Kota Sorong, Papua Barat memproduksi sedikitnya 5.000 bungkus kopi tiap hari.

Kopi jenis robusta dan torabika dengan produksi sebesar itu didistribusikan di Papua dan Papua Barat dengan harga bervariasi.

Financial Manager PT. Senang Abadi Sorong Iwan Kurniawan kepada Jubi, Jumat (2/9/2016) mengatakan bahan baku kopi yang diproduksi pihaknya didatangkan dari Sumatera dan Kalimantan tiap minggu.

“Khawalitasnya mampu terjaga, sedang untuk biji kopi wilayah Papua didatangkan dari Manokwari dan Nabire,” katanya.

Salah seorang pelanggan kopi Yasmin menyebutkan “Kopi Senang” menjadi incaran para pelanggan.

“Apalagi kopi yang menjadi oleh-oleh dari Sorong ini tidak menggunakan bahan kimia,” kata Yasmin. (*)

Kopi Senang di Sorong

Pusat Penjualan Kopi Senang ~ picthewayitis
Pusat Penjualan Kopi Senang ~ picthewayitis

 

Aku tak menduga jika temanku menyangka twitku tentang #KopiSenang adalah bukan tentang kopi. Ia menyangka aku mencari kesenangan sambil ngopi. Maklum saat itu aku sedang ngamen di Sorong, wajar saja jika ia menganggap begitu, sebab ia tak tahu kalau di Sorong ada kopi pabrikan, namanya Kopi Senang.

Dua malam di Sorong aku tak menemukan kedai kopi. Dua malam itu padahal aku selalu makan malam di pusat kuliner dekat pelabuhan. Semua masakan berbahan dasar ikan dan hewan laut lainnya, tumplek-blek di pusat kuliner tersebut. Satu yang tak kudapatkan: kedai kopi.

Menurut teman yang mengantarkan ke mana-mana dengan mobilnya, di Sorong memang sulit mencari kedai kopi. “Orang sini tak biasa berkumpul untuk minum kopi. Biasanya minum yang lainnya.”

Aku tak puas, kucari informasi lainnya. Kebetulan pada malam terakhir, aku bertemu dengan seseorang yang enggan diberitahukan identitasnya. Ia adalah kawan lama yang kucari untuk mencari kawan kami lainnya yang tak kunjung jelas nasibnya. Ia memberitahukan, di Sorong ada satu-satunya pabrik kopi, namanya Kopi Senang. Ia memberikan ancer-ancer lokasi pabrik kopi tersebut. Pagi hari sebelum kembali ke Jakarta, akan kusempatkan mencari lokasi gudang pemasakan dan penggilingan Kopi Senang.

17 November 2014, hujan tak berhenti sejak pagi. Siang ini aku akan kembali ke Jakarta tetapi belum kujalani agenda mencari Kopi Senang. Kuminta kawan yang biasa mengantarkanku dengan mobilnya, sama-sama hunting Kopi Senang. Ia jujur mengatakan tak tahu menahu kalau ada pabrik kopi di Sorong. Meskipun begitu, ia berjasa mempercepat pencarian lokasi karena ia mengerti seluk beluk jalan di Sorong. Menembus hujan, memanfaatkan waktu pulang yang hanya tinggal 3 jam lagi ke Bandara, akhirnya kutemukan pabriknya. Sayang sekali tutup. Tetapi aroma kopinya semerbak ke luar. Seorang ibu yang membuka warung rokok tepat di pintu gerbang Pabrik Kopi, memberitahukanku lokasi penjualan kopinya bukan di Pabrik tetapi di jalan pendidikan. Di sanalah, Pak Budi sang pengusaha Kopi Senang menjajakan kopinya. Kami pun meluncur ke sana.

Di Jalan Pendidikan KM. 8, patokannya setelah bertemu masjid di kiri jalan, setelah itu aku sampai ke pusat penjualan Kopi Senang. Tandanya gampang banget. Cari saja bangunan bagus yang bertuliskan SENANG. Itu dia tempat pak Budi Fauzi Tios mengatur perdagangan kopi yang ia perjuangkan sejak 1985. What? Iya, sudah 29 tahun pak Budi menjadi pengusaha kopi di Sorong. Lama nian!

Saat bertemu pak Budi, kuajak ia berbincang tentang pergulatan hidupnya berjualan kopi di Sorong. Ini sangat menarik. Pak Budi membuka bisnis kopi di daerah yang mana tak ada perkebunan kopinya. Tentu tantangannya besar. Ia pun berusaha mencari biji kopi di beberapa daerah. Ia berburu biji kopi berkualitas di tanah Sumatera, Sulawesi, dan Manokwari. Racikan beragam biji kopi kualitas ekspor itulah yang ia mix menjadi Kopi Senang.

Kenapa namanya Kopi Senang? Tanyaku. Bapak yang murah senyum ini mengisahkan sekilas bahwa nama tersebut terinspirasi dari pesan orang tuanya, saat ia dan istrinya mohon restu untuk bisnis kopi di Sorong. “Ya, semoga saja usaha kalian bisa bikin senang!” kenangnya. Nah, nama itulah yang akhirnya dijadikan brand oleh pak Budi.

Sempat kubilang, sejak dua hari lalu aku mencari kedai kopi di Sorong tetapi tak menemukannya. Temanku di Twitter memberitahukan ada kedai kopi Phoenam. Tapi aku mencari yang khas. Aku sudah beberapa kali ke Phoenam. Pak Budi mengarahkan lokasi satu-satunya kedai kopi yang menyeduhkan Kopi Senang miliknya, yaitu Kedai Kopi Anda. “Dekat lampu merah yang tadi kamu mengarah ke Pabrik. Di situ tanya saja sama orang-orang, warung kopi Anda!” Jelasnya.

Kopi Senang. Seperti namanya, menemukannya membuatku senang. Lalu bagaimana dengan rasanya? Dibandingkan dengan kopi sachet yang terkenal di toko-toko, aku lebih menyukai yang 3 in 1. Rasa kopinya tetap dominan walaupun susunya tetap terasa. Kalau untuk yang kopi hitam (hanya kopi dan gula), menurutku nikmatnya masih di bawah Kopi cap Liong Bulan. Nah, kalau kemasan bubuknya, yang isinya hanya kopi saja, itu sangat tergantung dari bagaimana kita menyajikannya. Aku menyukai rasa kopi yang dominan. Asamnya pun sedikit. Sebagai penyuka kopi pahit, tentu aku senang menyeruput Kopi Senang.

Yang tertarik memesan Kopi Senang, langsung saja menghubungi pak Budi. Aku tak sempat jadi perantara atau pun agen. Sila dikontak saja lewat kartu nama yang ia izinkan aku menyebarkannya.

Sumber: Artikel, Mataharitimour.com

Kisah Unik Kopi Senang dari Sorong, Papua

October 07, 2013, http://www.pegbintangkab.go.id/

Ada yang menarik dari Sorong, Papua Barat. Di sana, ada kopi yang bernama cukup unik yaitu Kopi Senang. Seperti apa kopi tersebut, ini kisahnya!

Lain timur lain barat. Di Aceh, masyarakat dan wisatawan pada umumnya suka berkumpul sambil minum kopi. Itu sebabnya, di Indonesia bagian barat ini, banyak warung kopi yang mudah ditemukan di tepi jalan.

Kondisi tersebut kontras dengan Kota Sorong yang ada di Indonesia bagian timur. Hampir di sepanjang jalan yang ada di kota, jarang terlihat kedai kopi. Satu-satunya warung kopi yang terlihat adalah Phoenam, cabang dari Makassar.

Minum kopi sambil ngobrol berjam-jam mungkin belum sepenuhnya jadi budaya kuliner masyarakat di pulau Kepala Burung ini. Tapi saya penasaran untuk mencicipi kopi setempat. Hampir semua yang saya tanya merekomendasikan Kopi Senang yang memang populer.

Maka bertandanglah detikTravel bersama rombongan dari Kemenparekraf ke rumah produksi sekaligus pemasaran Kopi Senang pada pekan lalu. Perjalanannya hanya sekitar 15 menit dari Hotel Mariatt di pusat kota. Begitu tiba di pintu gerbang bangunan tiga tingkat itu, kami disambut aroma kopi yang sedap.

“Di Sorong hanya ada kami satu-satunya produsen kopi,” kata pemilik Kopi Senang, Pak Budi yang berumur 53 tahun.

Melihat ada potensi bisnis, pria Tionghoa asal Padang ini mulai mendirikan rumah pengolahan kopinya pada tahun 1985. Sorong bukanlah wilayah penghasil kopi. Bahkan, hampir tak ada perkebunan kopi di daerah ini. Tapi Budi tak habis pikir dan memutar otak untuk mencari biji kopi. Dia berkeliling “mengimpor” kopi Robusta dari berbagai daerah yang memang terkenal punya kopi enak

Kisah Unik Kopi Senang dari Sorong, Papua

Festival Sorong, Ropesta Sitorus – d’traveler – Senin, 07/10/2013 09:19 WIB

Kopi Senang (Ropesta/detikTravel)
Kopi Senang (Ropesta/detikTravel)

Sorong – Ada yang menarik dari Sorong, Papua Barat. Di sana, ada kopi yang bernama cukup unik yaitu Kopi Senang. Seperti apa kopi tersebut, ini kisahnya!

Lain timur lain barat. Di Aceh, masyarakat dan wisatawan pada umumnya suka berkumpul sambil minum kopi. Itu sebabnya, di Indonesia bagian barat ini, banyak warung kopi yang mudah ditemukan di tepi jalan.

Kondisi tersebut kontras dengan Kota Sorong yang ada di Indonesia bagian timur. Hampir di sepanjang jalan yang ada di kota, jarang terlihat kedai kopi. Satu-satunya warung kopi yang terlihat adalah Phoenam, cabang dari Makassar.

Minum kopi sambil ngobrol berjam-jam mungkin belum sepenuhnya jadi budaya kuliner masyarakat di pulau Kepala Burung ini. Tapi saya penasaran untuk mencicipi kopi setempat. Hampir semua yang saya tanya merekomendasikan Kopi Senang yang memang populer.

Maka bertandanglah detikTravel bersama rombongan dari Kemenparekraf ke rumah produksi sekaligus pemasaran Kopi Senang pada pekan lalu. Perjalanannya hanya sekitar 15 menit dari Hotel Mariatt di pusat kota. Begitu tiba di pintu gerbang bangunan tiga tingkat itu, kami disambut aroma kopi yang sedap.

“Di Sorong hanya ada kami satu-satunya produsen kopi,” kata pemilik Kopi Senang, Pak Budi yang berumur 53 tahun.

Melihat ada potensi bisnis, pria Tionghoa asal Padang ini mulai mendirikan rumah pengolahan kopinya pada tahun 1985. Sorong bukanlah wilayah penghasil kopi. Bahkan, hampir tak ada perkebunan kopi di daerah ini. Tapi Budi tak habis pikir dan memutar otak untuk mencari biji kopi. Dia berkeliling “mengimpor” kopi Robusta dari berbagai daerah yang memang terkenal punya kopi enak.

“Sorong tak ada kopi, jadi kita keliling cari kopi. Mulai dari Sulawesi, Sumatera Utara, Lampung, sampai Manokwari. Kita ambil biji mentah kualitas ekspor lalu mengolahnya di sini,” lanjut Budi saat ditemui di kantor sekaligus kediamannya.

Perpaduan biji kopi dari berbagai daerah membuat aroma kopinya sungguh harum. Namun menurut beberapa penikmat kopi, citarasa kopi Senang masih kalah dibanding dengan hasil racikan biji kopi yang tumbuh di Papua seperti kopi Moanemani, Pogapa, dan Amungme Gold.

Meski begitu, kerja keras Budi tak sia-sia. Sasarannya sejak awal memang ingin memasyarakatkan budaya ngopi di Papua Barat, sekaligus membidik pasar wisatawan. Kopinya kini tenar di kalangan masyarakat Papua, bahkan hingga ke pedalaman dan pesisir.

“Pasar kita Sorong, Papua dan sekitarnya. Tapi kopi kita juga sampai ke Sumatera dan Jawa sebagai oleh-oleh khas,” ujarnya.

Lalu kenapa namanya ‘Senang’? Sambil terkekeh, Budi mengatakan nama tersebut punya cerita tersendiri. Saat memutuskan merantau ke Papua Barat, Budi dan istrinya ingin berbisnis kopi. Mereka lalu bercerita kepada orangtua mereka.

“Orangtua saya cuma bilang, ‘oke bisnis kopi itu bagus juga, semoga bisa bikin senang ya’. Saat mau memberi nama merek, saya terpikir untuk membuat ‘Senang’ karena mudah diingat. Sekarang memang kopi ini bikin kami senang dan orang yang meminumnya pun mudah-mudahan bisa senang,” ujarnya sambil memasukkan kopi pesanan kami ke dalam boks karton.

Sayangnya, Budi belum menyediakan kafe atau kedai di tokonya. Dalam waktu dekat dia berencana mendirikan warung tempat para wisatawan bisa bersenang-senang menikmati Kopi Senang. Kita lihat saja nanti.

(sst/sst)