Tak Mau ke Lain Hati, Ini Yang Dicintai Nicholas Saputra

WowKeren.com – Siapa wanita Indonesia yang tak kenal dengan . Perannya sebagai Rangga di film ““, membuat Nicho menjadi idola para wanita.

Belum lama ini Nicho mengungkapkan rasa cintanya. Namun para fans Nicho tak perlu khawatir, karena yang dimaksud bintang “” ini bukanlah seorang gadis.

Rupanya, Nicho mengakui kecintaannya terhadap kopi Indonesia. Ia mengaku sangat menyukai kopi Indonesia dan bahwa kerap membawanya saat melakukan hobi jalan-jalannya.

“Saya suka banget kopi. Kalau saya travelling, kadang bawa kopi sendiri,” ujar Nicholas Spautra di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (8/11/2016). “Di Indonesia itu banyak tempat yang punya kopi enak.”

Nicho mengaku telah mencicipi berbagai macam kopi Indonesia. Diantara semua kopi tersebut yang paling ia sukai adalah kopi dari Aceh dan Wamena.

“Hampir semua kopi sudah saya coba. Tapi paling favorit, Aceh Gayo sama Wamena,” ungkapnya. “Dari rasanya. Maksudnya kecenderungannya ada yang rasanya lebih fruity, ada yang chocolaty, ya macam-macamlah.” (wk/rs)

Read more: http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00134388.html#ixzz4Pr1Snhd7

Kerja Keras Petani Kopi Papua Maximus Lani

Dua tahun lalu, Maksimus Lani mampir ke sebuah kedai kopi modern di Jakarta. Ia memesan secangkir kopi arabika wamena. Ia kaget bukan kepalang begitu tahu harga secangkir kopi wamena mencapai Rp 100.000.

KOMPAS/FABIO M LOPES COSTA
Dari pengalaman di Jakarta, Maksimus sadar bahwa kopi yang ditanam di Lembah Baliem, Pegunungan Tengah Papua, itu punya nilai ekonomi tinggi. Ia senang mengetahui hal itu, tapi pada saat bersamaan ia merasa miris. Pasalnya, ia tahu perkebunan kopi arabika di Pegunungan Tengah belum dimanfaatkan secara maksimal.

Ketika berkunjung ke sejumlah daerah perkebunan kopi di Kabupaten Jayawijaya dan Yahukimo beberapa tahun lalu, ia melihat banyak petani membiarkan biji-biji kopi yang ranum perlahan membusuk di pohon. Itu terjadi karena harga kopi di tingkat petani sangat rendah.

Tengkulak hanya mau membayar Rp 5.000-Rp 10.000 per kilogram. Akibatnya, petani tidak bergairah membudidayakan kopi secara serius. Mereka pasrah pada alam yang berbaik hati memberikan kopi serta tengkulak yang mematok harga rendah.

Maksimus merasa bisa mengubah keadaan itu. Ia memiliki pengalaman menjadi petani kopi di Walesi, Kabupaten Jayawijaya, sejak 1997. Ia juga pernah mengikut program magang mengelola kopi di Jember, Jawa Timur, pada September 2010 yang digelar oleh Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Saat itu, ia belajar mulai dari cara menanam, mengolah biji kopi pasca panen, hingga mengemas biji kopi yang akan dijual.

Laki-laki yang semula bertani sayur, ubi, dan beternak babi itu akhirnya mengambil inisiatif untuk menularkan pengetahuannya kepada petani kopi di Pegunungan Tengah Papua sejak Januari 2014. Melalui para tetua adat, ia temui para petani di sentra-sentra perkebunan kopi.

Pertama-tama, ia menyadarkan petani bahwa kopi arabika dari Pegunungan Tengah Papua punya nilai ekonomi tinggi sehingga mesti dikembangkan untuk kesejahteraan petani. Berikutnya, ia mengajarkan dasar-dasar pengolahan biji kopi arabika mulai dari pengupasan kulit, penjemuran, hingga proses fermentasi biji kopi dan pengemasan.

“Biasanya proses penjemuran biji kopi memakan waktu hingga sepekan karena cuaca di wilayah ini sejuk. Tetapi, proses fermentasi biji kopi hanya memakan waktu sehari,” papar Maksimus yang ditemui di Okesa, sekitar 20 kilometer dari Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, pertengahan Agustus lalu.

Nekat

Perlahan tapi pasti, kegairahan petani untuk memproduksi kopi muncul. Sejak pertengahan 2014, mereka giat merawat perkebunan kopi yang ada di Lembah Baliem pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut di tengah udara yang sejuk. Lingkungan seperti ini menghasilkan kopi beraroma kuat dan harum.

Persoalan berikutnya adalah siapa yang mau membeli kopi petani dengan harga lebih tinggi daripada yang ditawarkan tengkulak? Maksimus dengan setengah nekat bersedia membeli kopi petani. Ia menawarkan harga Rp 30.000-Rp 40.000 per kilogram biji kopi, bergantung pada kadar airnya. Harga itu 3-5 kali lipat harga yang dipatok tengkulak. Pembelian dilakukan melalui Koperasi Okesa yang didirikan Maksimus dengan bantuan modal dari Pemerintah Kabupaten Jayawijaya. Saat ini, jumlah anggotanya sekitar 500 petani.

Mendapatkan harga yang tinggi, petani semakin giat mengembangkan kopi. Dari anggota Koperasi Okesa, Maksimus bisa mendapatkan 20 ton biji kopi kering per tahun dari perkebunan kopi seluas 272 hektar. Perkebunan itu terdiri dari 152 hektar di Jayawijaya serta 120 hektar di Tangma dan Kurima yang masuk wilayah Kabupaten Yahukimo.

Dengan setoran kopi sebanyak itu, Maksimus mesti bekerja keras memasarkan lagi kopi yang dibeli dari petani ke distributor dan pabrik pengolahan kopi. Ia terbang ke Jayapura, ibu kota Papua, membawa sampel kopi untuk ditawarkan kepada PT Garuda Mas. Ia juga menemui pengurus Koperasi Kopi Amungme bernama Arnold di Kabupaten Mimika.

“Saya hanya modal nekat memasarkan biji kopi milik petani di Jayapura dan Timika (ibu kota Kabupaten Mimika). Puji Tuhan, usaha saya berhasil,” ujar Maksimus.

Ia menjual biji kopi kepada pembeli di Jayapura seharga Rp 70.000 per kilogram dan di Timika seharga Rp 80.000 per kilogram. Harga penjualan masih tinggi karena biaya angkut kopi dengan pesawat dari Wamena cukup mahal.

Meski begitu, permintaan kopi dari Pegunungan Tengah, yang di pasar sering disebut kopi wamena, terus mengalir. Dalam satu pengiriman, Maksimus bisa memasok 1 ton-2 ton kopi ke Jayapura dan Timika.

Di Jayapura, satu kemasan biji kopi arabika seberat 250 gram dijual pedagang Rp 70.000. Setelah masuk ke kota-kota besar lain, seperti Jakarta, harganya lebih tinggi lagi.

Buah kerja keras

Kini petani kopi di Pegunungan Tengah Papua bisa tersenyum. Pada masa panen raya kopi yang berlangsung Juni-Agustus dan November-Desember, petani semakin rajin mendatangi Koperasi Okesa untuk menyetor biji kopi. Mereka berasal dari tujuh sentra perkebunan kopi di Jayawijaya, yakni Jagara, Piramid, Hubi Kosi, Muliama, Kurulu, Jalengga, dan Pugima, serta dua distrik di Kabupaten Yahukimo, yakni Tangma dan Kurima.

Kamis pagi, pertengahan Agustus lalu, terlihat 20 petani daerah Tangma dan Kurima datang ke kantor Koperasi Okesa yang terletak di Kampung Jagara, Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya. Petani masing-masing membawa dua karung biji kopi kering. Mereka disambut oleh dua pegawai koperasi yang segera menimbang biji kopi kering yang mereka bawa.

Saat itu juga, Maksimus membayar biji kopi yang dijual anggota koperasi. Hari itu, para petani bisa membawa pulang uang Rp 800.000. Dengan wajah gembira, mereka meninggalkan kantor Koperasi Okesa menuju Wamena untuk membeli berbagai kebutuhan pokok.

Ketika mereka sibuk berbelanja, Maksimus dan pegawai koperasi sibuk mengolah biji kopi yang baru tiba. Mereka mengupas kulit tanduk kopi dengan menggunakan alat khusus yang biasa disebut huller. Setelah itu, mereka memilah biji kopi berkualitas baik.

Begitulah rutinitas Maksimus beberapa tahun terakhir. Berkat kengototannya mengembangkan kopi Pegunungan Tengah, banyak petani yang mulai meningkat taraf hidupnya. Mereka tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga membiayai anak-anaknya sekolah.

Namun, Maksimus masih belum puas. “Saya ingin petani tak hanya memasok bahan baku. Suatu hari, kami mesti memiliki industri pengolahan kopi sendiri sehingga bisa mendapat keuntungan yang layak,” tutur ayah tujuh anak ini.

Kopi Terbaik Papua

KOPI TERBAIK PAPUA ( KOPI WAMENA )

Wamena adalah sebuah kota kecil yang terletak di lembah pegunungan Jayawijaya, iklimnya sangat dingin berkisar 15 derajat celcius. Kopi Arabika Wamena tumbuh di lembah Baliem pegunungan Jayawijaya, Wamena, tanpa menggunakan pupuk kimia. Meski pengolahannya organik dan tradisional, namun para petani sangat memperhatikan kualitas dari kopi tersebut.

KUALITAS KOPI PAPUA

Kopi Papua ini merupakan kopi organik dengan kualitas terbaik. Karena tanah Papua yang masih sangat subur kopi yang dihasilkan sangat baik. Aroma kopinya harum, halus dan memiliki after taste yang sangat manis. Beberapa pegiat kopi menyamakan kopi ini dengan biji kopi Jamaica Blue Mountain. Jamaica Blue Mountain Coffee adalah kopi Arabika yang ditanam di daerah Blue Mountain di Jamaica dan merupakan kopi premium. Bahkan di beberapa Negara kopi papua di nilai lebih.  Itulah sebabnya  Kopi Arabica dari Tanah Papua lebih di kenal dengan julukan “Baliem Blue Coffee” (disingkat BBCoffee).

beberapa produsen menyimpan kopi mereka selama satu hingga tiga tahun sebelum dipasarkan. Proses ini mengembangkan aroma woody dan kayu manis, dengan karakter yang sangat ringan dan hangat. Biji yang berwarna hijau akan berubah menjadi kuning tua hingga coklat. Roaster suka mengunakan kopi ini sebagai bagian dari racikan khusus, untuk saat hari Kebesaran Negara, hari raya , dan Natal misalnya, dimana aroma kayu manis hangat sangat disukai.

KELEBIHAN KOPI ARABIKA WAMENA

  1. Tumbuh di daerah pegunungan Jayawijaya Wamena dengan ketinggian 1.600 m di atas permukaan laut.
  2. Tumbuh subur secara alami tanpa menggunakan pupuk kimia.
  3. Memiliki aroma dan cita rasa yang khas
  4. Dapat digolongkan Kopi Organik berdasarkan proses pertumbuhan secara alami.
  5. Tidak terasa asam karena memiliki kadar asam yang rendah sehingga aman diminum bagi semua orang.

 

Wilayah:

Pegunungan Tengah, Dataran Tinggi Papua

 

Kabupaten:

Jayawijaya, Tolikara, Puncak Jaya, Lani Jaya, Mamberamo Tengah, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Yalimo, Puncak Papua, Nduga, Dogiyai, Enarotali

 

SCAI exporter dan kontak:

KSU Baliem Arabica

Production area:

Lembah Baliem

Jenis:

Arabica: Linie S – varietas  berasal dari India jenis S-288 dan S-795. Kemudian varietas Typica banyak dikembangkan oleh KSU Baliem Arabica belakangan ini dana akan terus dikembangkan sebagai Kopi Kedua setelah Jamaica Blue Mountain Coffee

Tanah:

Volcanic

Ketinggian:

1,200 – 1,800 meter dari atas permukaan laut

Name and cup profile:

Heavy body with low acidity.Chocolate with tobacco notes.

Proses:

Wet dan Dry; Washed and Semi-washed

Kadar air/ Moisture:

12 – 14%

Certification:

Organik dari Control Union

Rainforest Alliance

CERES

 Aroma:

Honey like chocolaty caramel fruity

 Body:

Moderate medium acid clean.  Complex Flavor, rich body, mouthfull, floral, earthy, long finished, hints of vanilla

 Ciri:

Kekentalan tinggi, keasaman rendah, rasa cokelat dengan sentuhan tembakau / rempah

 Aftertaste:

Smokey choc caramley balanced

 

Crop cycle:

April, Mar, Sept

Abimana Favoritkan Kopi Wamena dan Flores

Suara.com – Sebagai penggila kopi, aktor Abimana Aryasatya tak pernah melewatkan rutinitas menyeruput minuman dengan citarasa pahit ini setiap pagi.

Suami Inong Nindya Ayu ini memang sudah menyandang kopiholik sejak usia 19 tahun. Kecintaannya pada kopi karena ditularkan dari orang-orang di sekelilingnya yang juga pencinta kopi.

 Ada dua jenis kopi yang paling disukai lelaki 34 tahun ini karena citarasanya yang nikmat, yakni kopi Wamena dan Flores.

“Suka kopi karena budaya. Hampir semua orang Indonesia suka ngopi. Ketemuan sama teman ngajaknya ngopi. Jadi ngopi sudah kayak keharusan,” ujar Abimana pada temu media yang dihelat Top White Coffee di Senayan City, Jakarta, Rabu (26/10/2016).

Tak sedikit masyarakat Indonesia yang menikmati kopi sembari menikmati cemilan, bapak empat anak ini justru tak ingin ada makanan lain yang bisa merusak cita rasa kopinya. Sehingga, aktor Warkop DKI Reborn ini pun bisa lancar mengkhayal.

“Kalau saya sukanya minum kopi sambil mikir atau mengkhayal cukup lama,” kata dia.

Beruntung meski tak bisa hidup tanpa kopi, Abimana belum pernah punya keluhan dengan kondisi lambungnya. “Sampai saat ini nggak punya masalah karena saya milihnya kopi yang nggak mengiritasi lambung.”

Tomi Tresnady | Firsta Nodia Rabu, 26 Oktober 2016 | 18:16 WIB

Pengusaha: produksi kopi Wamena belum penuhi permintaan

Jayapura (Antara Papua) – Pieter Tan, salah seorang pengusaha kopi di Papua menyebut hingga kini jumlah produksi kopi Wamena, Kabupaten Jayawijaya, belum bisa memenuhi permintaan pasar, baik dari luar maupun dalam negeri.

Kopi Wamena cukup banyak permintaannya di dunia. Dari luar negeri mereka minta dengan kuantitis cukup besar,” ujarnya di Jayapura,Minggu.

“Seperti kita ketahui di Wamena sistemnya masih perkebunan rakyat, jadi kalau dengan `buyer` dari luar negeri, kita harus kontrak, dengan kondisi produksi terbatas saya tidak berani kontrak,” sambungnya.

Ia menyebut bila untuk permintaan dari dalam negeri saja jumlah biji kopi dari Wamena masih belum mencukupi.

Kopi Papua saya jual di lokal Indonesia saja sudah tidak cukup, jadi tetap saya prioritaskan yang di Indonesia, kalau ada lebih baru saya kirim ke luar negeri,” katanya.

Namun Pieter menyebut kini sudah ada peningkatan jumlah produksi kopi Wamena, namun angkanya ia perkirakan baru akan naik secara signifikan pada beberapa tahun ke depan.

“Jumlah produksi di Papua tidak tentu. Tahun ini agak bagus, hanya panennya belum selesai jadi kita belum dapat angka yang pasti. Tahun lalu hasil produksinya tidak sampai 40 ton,” ujarnya.

“Pemerintah cukup mendukung, jadi pemerintah ada kasih penyuluhan kepada petani kopi di Wamena. Sekarang ada penanaman terus, kita harapkan empat sampai lima tahun mendatang hasil produksinya sudah bisa meningkat,” sambungnya lagi. (*)
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Makin Berkembang, Kopi Suku Amungme Dilirik Franchise Ternama

Rabu 22 Jun 2016, 02:55 WIB, Elza Astari Retaduari – detikNews

Mimika – Kopi yang ditanam petani dari Suku Amungme, Kabupaten Mimika, Papua, semakin berkembang dan terkenal. Bahkan karena rasanya yang nikmat, kopi Amungme dilirik oleh franchise kopi kenamaan.

Suku Amungme yang tinggal di pegunungan dekat tambang Tembagapura merupakan salah satu suku utama binaan PT Freeport Indonesia. Satu suku utama lainnya adalah Suku Kamoro.

Bisnis kopi Amungme sendiri dimulai sekitar tahun 1998 atas dukungan Freeport melalui program Highland Agriculture Development (HAD) dengan membuka perkebunan kopi di dataran tinggi. Awalnya bibit kopi dibawa dari sekitar Nabire atau Paniai dan terus dikembangkan.

“Sekarang perkebunan ada di tiga desa di daerah pegunungan dekat pertambangan, di dataran tinggi. Desa Tsinga, Hoya, dan Arwanop tapi Arwanop tidak terlalu produktif,” ungkap staf HAD Harony Sedik saat detikcom berkunjung ke pabrik pengolahan Kopi Amungme di Kota Timika, Sabtu (18/6/2016).

Kopi Amungme berjenis Arabica dan memiliki kandungan kafein cukup kuat. Setelah cukup berkembang, HAD yang merupakan program CSR Freeport di bawah Sosial Local Development Departement mereka lalu memfasilitasi pembentukan koperasi bagi para petani kopi dengan merk Amungme Gold tersebut.

“Sebelum ada koperasi, kami yang urus dari HAD, langsung pihak Freeport. Dengan koperasi sudah ada karyawan. Koperasi berdiri sendri, bahkan kerjasama dengan koperasi lain. Kami sudah ada kerja sama dengan Koperasi dari Wamena dan Paniai,” ucap Harony.

Ke depan, Koperasi Amungme Gold Coffe juga berharap bisa bekerja sama dengan petani kopi lain. Seperti petani kopi Robusta yang ditanam di Distrik Agimuga, Timika, daerah yang ada di pesisir di Kabupaten Mimika. Dengan harapan agar koperasi juga dapat memberdayakan petani kopi lain selain dari Suku Amungme.

Kesohoran Kopi Amungme kerap membuat pihak koperasi kehabisan stok. Apalagi untuk mendapatkan biji kopi dari daerah pegunungan itu terkendala pada masalah transportasi. Sebab untuk mengangkut biji kopi dari perkebunan petani, kata Harony, pihak koperasi perlu terbang dengan menyewa helikopter.

“Kapasitas 1 ton itu kami tidak sampai 2 bulan sudah habis. Makin hari makin banyak peminat. 1 Ton 1 bulan, bahkan kadang nggak sampai. Kami sendiri kewalahan, langsung habis. Peminat dari Timika, dari luar juga,” tuturnya.

“Ambilnya pakai chopper. Makanya agak sedikit mahal, tapi memang enak. Sewa chopper 3.000 USD satu jam. Bisa ke tiga desa lalu kembali ke Timika. Ambilnya setiap bulan sekali langsung tiga kampung. Sebulan sekali monitoring sekalian ambil,” imbuh Harony.

Biji kopi diambil dari petani dalam kondisi belum dikupas seharga Rp 35 ribu/kg. Satu kali monitoring, pihak koperasi membeli 25 kg biji kopi yang belum dikupas dari satu petani. Satu kampung sekitar 500 kg. Sehingga untuk satu kali pengangkutan, koperasi bisa membawa kurang lebih 1,5 ton.

Terkadang koperasi yang mulai berdiri pada tahun 2013 itu mengambil biji kopi jenis Arabica dari Wamena atau Paniai namun dalam kondisi yang sudah dikupas dengan harga Rp 90 ribu/kg. Hal tersebut untuk memenuhi permintaan pembeli yang makin terus meningkat.

“Kalau dari Wamena dan Paniai, sudah green bean. Kualitas sama, tapi dari 3 desa Amungme lebih fresh. Karena memang diambilnya pakai chopper maka lebih banyak cari yang Amungme,” kata dia.

Saat ini ada 24 petani dari tiga desa Amungme yang menjadi binaan koperasi dengan total perkebunan 3 hektar. Beberapa petani ada yang diberdayakan menjadi karyawan koperasi untuk monitoring, pembina petani, dan juga untuk melakukan pengolahan di pabrik. Untuk yang terakhir, petani mendapat fasilitas mess di daerah kota Timika.

“Petani sekaligus pengurus koperasi kami gaji Rp 10 juta per bulan.Tapi kalau petani pure, kami hanya beli biji kopinya. Bibit dari kami. Di sini (pabrik) mulai dari pengupasan, pengeringan, fermentasi, roasting, granding, dan packaging,” jelas Harony.

Melihat besarnya modal produksi, sebenarnya koperasi tidak mendapat untung dari bisnis kopi Amungme. Hingga saat ini bisnis kopi bagi warga Suku Amungme sebagai pemilik hak ulayat daerah tambang masih mendapat bantuan CSR Freeport.

Kopi Amungme dikemas untuk ukuran 250 gram dan harganya dibanderol Rp 50 ribu dari koperasi. Ada beberapa tipe yang dijual. Kopi yang telah dihaluskan seperti kopi tubruk, kopi yang sedikit masih kasar, dan ada juga biji kopi matang.

“Kalau mau beli tergantung mereka. Kalau bule biasanya maunya yang bean, kalau masyarakat kita maunya yang halus. Ada yang minta dikirim lewat paket,” sebut dia.

Meski koperasi menjual dengan harga Rp 50 ribu per kemasan, namun harga di pasaran bisa lebih tinggi. Seperti toko di dalam Bandara Mozes Kilangin yang menjual Kopi Amungme dengan harga Rp 100 ribu per kemasan.

Awalnya kopi Amungme hanya dijual terbatas bagi kalangan ekspatriat di kawasan Tembagapura. Saat ini penjualan sudah umum bahkan terus dipromosikan dan menjadi salah satu jenis yang dicari para penikmat atau pecinta kopi.

“Bule setelah mereka kerja sini baru tahu, lalu kalau kembali ke negaranya mereka bawa. Kebanyakan karyawan ekspat awalnya yang beli. Sekarang warga banyak cari. Kalau ada event, kayak kemarin di Turki, Bupati bawa untuk promosi,” terang Harony.

Memiliki cita rasa yang khas dan nikmat, Kopi Amungme mulai diperhitungkan untuk masuk ke dunia usaha besar. Apalagi dengan aromanya yang kuat, Amungme Gold tak bisa dipandang sebelah mata.

Waralaba kopi dengan lingkup usaha internasional, dikatakan Harony, bahkan ingin menggunakan jenis Kopi Amungme untuk produk mereka. “Starbucks mau ngadain kerjasama tapi kami stok masih terbatas. Jadi belum bisa. Ini saja sekarang kami tidak ada stok. Harus ambil biji kopi dulu pakai chopper untuk kami produksi lagi,” pungkasnya.

(elz/Hbb)