Kopi Terbaik Papua

KOPI TERBAIK PAPUA ( KOPI WAMENA )

Wamena adalah sebuah kota kecil yang terletak di lembah pegunungan Jayawijaya, iklimnya sangat dingin berkisar 15 derajat celcius. Kopi Arabika Wamena tumbuh di lembah Baliem pegunungan Jayawijaya, Wamena, tanpa menggunakan pupuk kimia. Meski pengolahannya organik dan tradisional, namun para petani sangat memperhatikan kualitas dari kopi tersebut.

KUALITAS KOPI PAPUA

Kopi Papua ini merupakan kopi organik dengan kualitas terbaik. Karena tanah Papua yang masih sangat subur kopi yang dihasilkan sangat baik. Aroma kopinya harum, halus dan memiliki after taste yang sangat manis. Beberapa pegiat kopi menyamakan kopi ini dengan biji kopi Jamaica Blue Mountain. Jamaica Blue Mountain Coffee adalah kopi Arabika yang ditanam di daerah Blue Mountain di Jamaica dan merupakan kopi premium. Bahkan di beberapa Negara kopi papua di nilai lebih.  Itulah sebabnya  Kopi Arabica dari Tanah Papua lebih di kenal dengan julukan “Baliem Blue Coffee” (disingkat BBCoffee).

beberapa produsen menyimpan kopi mereka selama satu hingga tiga tahun sebelum dipasarkan. Proses ini mengembangkan aroma woody dan kayu manis, dengan karakter yang sangat ringan dan hangat. Biji yang berwarna hijau akan berubah menjadi kuning tua hingga coklat. Roaster suka mengunakan kopi ini sebagai bagian dari racikan khusus, untuk saat hari Kebesaran Negara, hari raya , dan Natal misalnya, dimana aroma kayu manis hangat sangat disukai.

KELEBIHAN KOPI ARABIKA WAMENA

  1. Tumbuh di daerah pegunungan Jayawijaya Wamena dengan ketinggian 1.600 m di atas permukaan laut.
  2. Tumbuh subur secara alami tanpa menggunakan pupuk kimia.
  3. Memiliki aroma dan cita rasa yang khas
  4. Dapat digolongkan Kopi Organik berdasarkan proses pertumbuhan secara alami.
  5. Tidak terasa asam karena memiliki kadar asam yang rendah sehingga aman diminum bagi semua orang.

 

Wilayah:

Pegunungan Tengah, Dataran Tinggi Papua

 

Kabupaten:

Jayawijaya, Tolikara, Puncak Jaya, Lani Jaya, Mamberamo Tengah, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Yalimo, Puncak Papua, Nduga, Dogiyai, Enarotali

 

SCAI exporter dan kontak:

KSU Baliem Arabica

Production area:

Lembah Baliem

Jenis:

Arabica: Linie S – varietas  berasal dari India jenis S-288 dan S-795. Kemudian varietas Typica banyak dikembangkan oleh KSU Baliem Arabica belakangan ini dana akan terus dikembangkan sebagai Kopi Kedua setelah Jamaica Blue Mountain Coffee

Tanah:

Volcanic

Ketinggian:

1,200 – 1,800 meter dari atas permukaan laut

Name and cup profile:

Heavy body with low acidity.Chocolate with tobacco notes.

Proses:

Wet dan Dry; Washed and Semi-washed

Kadar air/ Moisture:

12 – 14%

Certification:

Organik dari Control Union

Rainforest Alliance

CERES

 Aroma:

Honey like chocolaty caramel fruity

 Body:

Moderate medium acid clean.  Complex Flavor, rich body, mouthfull, floral, earthy, long finished, hints of vanilla

 Ciri:

Kekentalan tinggi, keasaman rendah, rasa cokelat dengan sentuhan tembakau / rempah

 Aftertaste:

Smokey choc caramley balanced

 

Crop cycle:

April, Mar, Sept

Pengembangan Kopi Papua Harus dimulai dari yang Sudah Memulai

“Kita tidak pantas selalu berharap Jakarta berbuat banyak tentang pembangunan di Tanah Papua, sementara kita orang Papua sendiri, dari Gubernur sampai Kepala Kampung, berpikir dan bekerja hanya dengan berpatok kepada pemikiran Jakarta selalu salah kalau ada yang salah di Tanah Papua. Dana sudah banyak dikuncurkan, tetapi para pejabat di Tanah Papua selalu berkantor di Jakarta, kita lihat Jakartta sama dengan Jayapura, karena kebanyakan pejabat dari Gubernur sampai Kepala Desa mondar-mandir di Jakarta. Pergi saja ke kawasan Jalan Hayam Wuruk, Mangga Besar dan sekitarnya. Jangan pernah kaget, bahwa kantor pemerintahan Tanah Papua sesungguhnya ada di kawasan Menteng dan kawasan Jakarta Timur, pulau Jawa, bukan di Pulau New Guinea”

demikian kata Jhon Yonathan Kwano yang selama 6 bulan terakhir digutaskan oleh KSU Baliem ArabicaPAPUAmart.com untuk menjadi Kepala Gudang Kopi Papua di Jakarta.

Pernyataan ini disampaikan entrepreneur Papua, Jhon Yonathan Kwano, menanggapi pernyataan Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe yang berisi harapan Gubernur Provinsi Papua agar memperhatikan pengembangan Kopi Papua.

Dengan tidak mengurangi banyak hal yang diperjuangkan Gubernur Provinsi Papua, Jhon Kwano berpendapat, bahwa “Gerbang Mas” dan visi Papua Bangkit untuk Mandiri dan Sejahtera! yang dicanangkan kedua putra pegunungan Tengah Papua (putra Koteka) ini ditantang oleh putra Tabi sebagai single fighter dalam pengembangan entrepreneur Papua bahwa mimpi itu tidak akan terwujud.

Alasan sederhana dikemukakan oleh Jhon Kwano bahwa setiap ada kekurangan atau kesalahan, kedua belah pihak, Pemda Provinsi dan Jakarta selalu bertopeng dan selalu saling menyalahkan, selalu menganggap yang satu tidak berbuat banyak untuk Tanah Papua dan bangsa Papua.

Kata Kwano

Drama yang menarik, melihat di satu sisi Jakarta menganggap dana sudah banyak dikuncurkan tetapi dikorupsi dan disalah-gunakan oleh Pemda di Tanah Papua, sementara di sisi lain, baik Gubernur Papua maupun Gubernur Papua Barat menganggap dana-dana dimaksud masih jauh dari cukup. Kalau begini situasinya, siapa sebenarnya harus dialahkan? Apakah pekerjaan kita mencari kesalahan orang?

Kwano menyarankan agar “Pengembangan Kopi Papua Harus dimulai dari yang Sudah Memulai”.

Perhatikan dan dukung kegiatan masyarakat Papua yang sudah ada, modali dan bekali, fasilitasi dan dorong usaha pengembangan dan pemasran kopi yang sudah ada. Kami KSU Baliem Arabica sejak 2013 ada di pulau Jawa, mulai dari Yogyakarta dan kini di Jakarta, sudah punya dua gudang grosir Kopi Papua, ini semua tanpa campur-tangan pemerintah provinsi Papua ataupun provinsi Papua Barat.

Pemda jangan bicara pasar, Pemda bicara tentang fasilitas administradi, birokrasi dan akses ke sumber-sumber keuangan di Tanah Papua. Kami KSU Baliem Arabica sudah sanggup sejak tahun 2010 untuk mengekspor kopi Papua. Kami punya pasar di Pasifik Selatan, Asia dan Amerika. Pemda tinggal menyuntikkan modal

demikian ungkap Kwano.

Selanjutnya Jhon Kwano juga mengatakan

Pemerintah kedua provinsi harus duduk bersama membuat “Grand Design Pembangunan Tanah Papua” tanpa harus melibatkan Jakarta, dan dalam “grand-design” itu dilihat komoditas strategis mana saja yang harus dikembangkan dan berdasarkan pilihan itu dibuat program pengembangan ekonomi.

Selain itu Kwano juga berpendapat bahwa para Kepala Dinas Provinsi yang diangkat, terutama Kepala Dinas Perkebunan dan PerindagKop selama ini bekerja untuk Partai Politik pengusung mereka, sehingga para petani kopi Papua menjadi korban. Menurut Kwano

Kalau para gubernur tanam benalu di pohon-pohon Kopi Papua, maka pekerjaannya menghisap dan lama-lama mengeringkan dan akhirnya mematikan kopi-kopi Papua. Gubernur jangan tanam benanu, jangan tanam anggrek di pohon Kopi Papua, tetapi tanam buah merah atau matoa. Benalu politik di Tanah Papua adalah biang keladi kambing-hitam antara Jakarta dan Papua. Waktu benalu ini ditiadakan, semua tanaman kopi dan buah merah akan tumbuh subur. Tetapi saya tahu, benalu itu bagian dari politik Indonesia, jadi untuk menghilangkan benalu, kita harus sikat mereka dari pusat, tetapi apakah itu bisa dilakukan oleh Presiden Joko Widodo? Kelihatannya itu hanya menjadi mimpi tak kunjung datang.

Sebagai jalan keluar menghadapi situasi ini Jhon Kwano menyarankan para gubernur di Tanah Papua agar bersyukur atas apa yang telah diberikan Tuhan lewat Otsus ini, dan berusaha mendaya-upayakan apa yang ada, sedikit dan banyak-nya itu relatif, yang terpenting ialah kita tahu bersyukur, mensyukuri apa yang telah kita dapatkan setelah perjuangan dengan keringat, waktu dan pengorbanan nyawa yang tidak sedikit sejak tahun 1961 sampai hari ini.

Jangan kita anggap Otsus itu pemberian, tetapi itu hasil perjuangan. Oleh karena itu kedua Gubernur harus mempertanggungjawabkan hasil perjuangan dengan nyawa ini kepada bangsa dan Tanah Papua. Jangan tiap hari pikir alasan untuk salahkan Jakarta.

Kedua Gubernur harus membantu badan usaha dalam bentuk koperasi yang sudah nyata berhasil mengekspor produk kopi ke pulau-pulau lain di Indonesia dan ke pasar Amerika Serikat, Korea Selatan, Hong Kong dan Eropa.

kata Kwano.

Bisnis Kopi Papua, KSU Baliem Arabica dan PAPUAmart.com

Lukas Enembe di Lapangan SPMA Gudang BBCoffee
Lukas Enembe di Lapangan SPMA Gudang BBCoffee

Sejak tahun 2015, tepatnya pertengahan tahun lalu, bulan Mei 2015, telah dilakukan berbagai penyesuaian berarti dalam bisnis Kopi Papua. Penyesuaian utama dan terpenting dalam sejarah bisnis Kopi Papua ialah perombahan struktur organisasi dan jalur distribusi Kopi Papua.

Perombakan dimaksud sebagai tindak-lanjut dari kebijakan pembentukan Unit Marketing & Sales Kopi Papua yang telah didirikan tahun 2013, berkantor pusat di pulau Jawa: Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dengan pembentukan Unit Markting dan Sales KSU Baliem Arabica pada tahun 2013, maka secara otomatis pemasaran Kopi Papua berorientasi kadada konsumen dan pebisnis Kopi di Indonesia, sebuah perubahan yang berarti, karena pada tahun-tahun sebelumnya telah terjadi export kopi Papua secara berturut-turut sejak tahun 2009.

Setelah toko Online PAPUAmart.com didirikan tahun 2014, maka disusul dengan proposal kepada KSU Baliem Arabica untuk membentuk sebuah Minimarket PAPUamart.com di Tanah Papua

PAPUAmart.com dimaksudkan untuk melanjutkan fungsi dan tugas Unit Marketing & Sales KSU Baliem Arabica, mempromosikan dan menjual Kopi Papua produk KSU Baliem Arabica kepada konsumen di Indonesia.

Perombahan cukup berarti yang terjadi pertengahan tahun 2015 dimaksudkan untuk menyelamatkan bisnis Kopi Papua karena banyak tengkulak dan mafia Kopi Papua. Menyusul strukturisasi Unit Marketing & Sales, maka dilakukan pembenahan di Gudang Produksi Kopi Papua.

Pada akhir tahun 2015, sejalan dengan peluncuran MEA (Masyarakat Ekonomi Eropa) maka KSU Baliem Arbaica juga membuka Gudang Kopi PAPUAmart.com di Jakarta.

Pada tahun 2016 ini diharapkan agar semua penjualan Kopi Papua dipusatkan dari Jakarta, sehingga dapat dibagikan secara merata di seluruh pulau Jawa dan Sumatera, sementara penjualan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur dilakukan dari Yogyakarta, dan penjualan ke Bali dan Sulawesi serta Borneo dilakukan langsung dari Tanah Papua.

Minta Kejelasan Dana, Petani Kopi Kembali Gelar Aksi

Petani kopi menggelar aksi damai di halaman kantor Dinas Perkebunan Papua – Jubi/Abeth You
Petani kopi menggelar aksi damai di halaman kantor Dinas Perkebunan Papua – Jubi/Abeth You
Jayapura, Jubi – Petani Kopi Papua dari Koperasi Serba Usaha (KSU) Baliem Arabica sebagai exportir tunggal kopi dari Tanah Papua kembali menggelar aksi damai di halanan Kantor Dinas Perkebunan Provinsi Papua, Kotaraja, Kota Jayapura, Kamis (7/4/2016).

Koordinator lapangan (Korap) aksi, Tinus Uaga mengatakan, aksi lanjutan tersebut menuntut kembali perjanjian dari Kepala Dinas Perkebunan, Provinsi Papua pada aksi sebelumnya, bahwa dalam waktu yang dekat pihaknya akan menggelar pertemuan bersama Gebernur Papua bersama para petani kopi tersebut guna mendapatkan penjelasan dana KSU tepat pada sasaran.

“Kami petani kopi Papua ini mengawal program Gubernur Papua, Lukas Enembe sekaligus program yang kami buat. Yakni kerakyatan ekonomi Papua menuju kemandirian,” tegas Tinus Uaga di hadapan massa aksi yang disambut tepukan tangan.

Dikatakan Uaga, dana untuk petani kopi Papua harus diturunkan ke lapangan agar sesuai tepat pada sasarana kepada masyarakat yang sedang kerja di perkebunan Kopi yang ada di LaPago dan MeePago, serta wilayah adat lainnya.

Apalah artinya ada Dinas Perkebunan, tanpa ada pembinaan kepada petani di lapangan. Pihaknya menuding Kepala Disbun Papua sedang menghalangi visi dan misi serta program kerja dari Gubernur Papua, yakni Sehat, Mandiri dan Sejahtera.

“Padahal program koperasi ini kepemimpinan Gubernur Barnabas Suebe kami sudah 6 kali mengekspor hasil kopi. Tetapi, pada masa Gubernur Papua Lukas Enembe melalui Dinas ini (Perkebunan) tidak ada,” terangnya.

Ia menegaskan, selama tiga tahun kepemimpinan Lukas Enembe tidak buat apa-apa untuk petani kopi. Padahal, banyak rencana yang telah dilakukan, yakni buah merah menjadi sabun, sampoo, jus dan sebagainya.

“Tapi, kami rencana semua telah gagal. Ini digagalkan oleh Dinas Perkebunan Papua. Ini adalah hasil karya anak negeri, anak adat Pegunungan Papua yang bekerja di atas negerinya sendiri,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Disbun Papua, Ir. John D. Nahumury mengatakan, pihaknya akan segera memfasilitasi para petani kopi tersebut untuk bertemu dengan Gubernur Papua, Lukas Enembe agar dapat menyapaikan sendiri keinginannya.

“Sebenarnya hari ini kami bisa fasilitasi. Tapi, pak Gubernur lagi menerima tamu dari BPK RI dan juga membuka Musrenbag Papua. Sehingga, kami usahakan pekan depan. Kami minta petani kopi bisa pahami kondisi ini. Yang jelasnya kami mendukung aspirasi dari petani, sekaligus kerja mereka di lapangan,” terangnya. (Abeth You)

Kioson.com, PAPUAmart.com dan Bisnis Kopi Papua

Atas kerjasama yang telah dirintis oleh Kepala Unit Sales dan Marketing KSU Baliem Arbaica, Jhon Yonathan Kwano, dengan merintis sebuah bisnis Online, Offline dan Barter Produk Spesialti, maka pada tanggal 27 Januari 2016 telahd iserahkan sebanyak sepuluh (10) unit Usaha atau Paket Kios Online yang dalam minggu ini akan segera di implementasikan ke dalam sistem jaringan minimarket PAPUAmart.com dan Kios-Kios KKLingkar.com milik KSU Baliem Arabica yang telah tersebar di berbagai tempat di seluruh Tanah Papua.

Menurut Jhon Kwano, dengan kerjasama yang strategis ini, penjualan Kopi Papua ke depan tidak perlu dilakukan seperti sediakala, dengan membanngun titik distribusi kopi di Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Jawa Barat, dan sejenisnya. Kopi Papua juga tidak perlu memikirkan lagi membangun jaringan bisnis dengan reseller atau agen Kopi Papua. Katanya,

Semua produk PAPUAmart.com diharapkan akan masuk ke dalam jaringan Toko Online dari Kios Online, sebuah startup yang baru saja diluncurkan pada bulan Mei 2015, yaitu waktu yang sama dengan pembukaan minimarket PAPUAmart.com di Jalan Raya Sentani, Hawai No. 05. Kedua startup diluncurkan pada waktu yang sama, dan keduanya memberikan solusi kepada masalah yang sama, itu soal isolasi, transportasi dan jaringan komunikasi dengan menghadirkan barang-barang kebutuhan pembeli alngsung ke kios-kios dan minimarket yang bisa langsung didatangi oleh konsumen.

Atas kerjasama Kios On dan PAPUAmart.com ini, maka selanjutnya kami bersedia memberikan pelayanan keapda masyarakat Papua untuk membeli barang-barang yang dijual di mana saja di seluruh Indonesia, dan pada saat yang sama, orang Papua dapa tmenjual barang produk mereka kepada siapa saja di seluruh Indonesia.

Penawaran Kopi dengan Harga Spesial

Penawaran Kopi dengan Harga Spesial untuk 10 Pembeli Pertama Musim Kopi Juli – September 2014

Dear Penikmat dan Pengusaha Kopi di Seluruh Indonesia dan Team Kerja KSU Baliem Arabica,
Selamat Pagi!, semangat Pagi!
Dari Kantor Pusat KSU Baliem Arabica sebagai pusat pembelian Kopi di Pegunungan Tengah Papua dengan ini kami sampaikan PENAWARAN KHUSUS kepada 10 Pembeli Pertama untuk Musim Panen 2014 (Juli – September 2013) dengan harga khusus.
Koperasi Baliem Arabica ingin menawarkan penjualan kopi Biji ke beberapa Pembeli lokal yang selama ini aktif dengan harga special. Bagi pembeli baru, kami sarankan menjelaskan kepada Koperasi seberapa sering mereka akan beli dan berapa jumlah pembelian regular yang direncanakan untuk kami ketahui sebelum memutuskan apakah kami akan jual kepada pembeli baru atau tidak.
Karena Tahun ini kami punya stock beberapa ton.
Berikut Informasi Kopi.
1. Coffee Variety : Arabica
2. Kadar Air/ Moisture : 11,5-12,5 %
3, Grade : Grade One
4. Certification : Organic RA
5. Price : FOB Sentani Wirehouse, Jayapura dengan harga special Rp. 67.000/ kg.

Info Selengkapnya silahkan hubungi

  1.  Email: coffeebaliemblue@yahoo.com; info@coffea.asia; info@baliemarabica.com
  2. SMS/ Telepon: 081248129978 / 081238301001
Demikian informasi penawaran, jika ingin membeli/ memesannya mohon info balik dalam waktu dekat.
Terima kasih atas kerja sama dan jawaban anda sangat kami nantikan.
wa wa wa
On behalf KBA Wamena

SUmber: PapuaCoffees.com