Pengembangan Kopi Papua Harus dimulai dari yang Sudah Memulai

“Kita tidak pantas selalu berharap Jakarta berbuat banyak tentang pembangunan di Tanah Papua, sementara kita orang Papua sendiri, dari Gubernur sampai Kepala Kampung, berpikir dan bekerja hanya dengan berpatok kepada pemikiran Jakarta selalu salah kalau ada yang salah di Tanah Papua. Dana sudah banyak dikuncurkan, tetapi para pejabat di Tanah Papua selalu berkantor di Jakarta, kita lihat Jakartta sama dengan Jayapura, karena kebanyakan pejabat dari Gubernur sampai Kepala Desa mondar-mandir di Jakarta. Pergi saja ke kawasan Jalan Hayam Wuruk, Mangga Besar dan sekitarnya. Jangan pernah kaget, bahwa kantor pemerintahan Tanah Papua sesungguhnya ada di kawasan Menteng dan kawasan Jakarta Timur, pulau Jawa, bukan di Pulau New Guinea”

demikian kata Jhon Yonathan Kwano yang selama 6 bulan terakhir digutaskan oleh KSU Baliem ArabicaPAPUAmart.com untuk menjadi Kepala Gudang Kopi Papua di Jakarta.

Pernyataan ini disampaikan entrepreneur Papua, Jhon Yonathan Kwano, menanggapi pernyataan Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe yang berisi harapan Gubernur Provinsi Papua agar memperhatikan pengembangan Kopi Papua.

Dengan tidak mengurangi banyak hal yang diperjuangkan Gubernur Provinsi Papua, Jhon Kwano berpendapat, bahwa “Gerbang Mas” dan visi Papua Bangkit untuk Mandiri dan Sejahtera! yang dicanangkan kedua putra pegunungan Tengah Papua (putra Koteka) ini ditantang oleh putra Tabi sebagai single fighter dalam pengembangan entrepreneur Papua bahwa mimpi itu tidak akan terwujud.

Alasan sederhana dikemukakan oleh Jhon Kwano bahwa setiap ada kekurangan atau kesalahan, kedua belah pihak, Pemda Provinsi dan Jakarta selalu bertopeng dan selalu saling menyalahkan, selalu menganggap yang satu tidak berbuat banyak untuk Tanah Papua dan bangsa Papua.

Kata Kwano

Drama yang menarik, melihat di satu sisi Jakarta menganggap dana sudah banyak dikuncurkan tetapi dikorupsi dan disalah-gunakan oleh Pemda di Tanah Papua, sementara di sisi lain, baik Gubernur Papua maupun Gubernur Papua Barat menganggap dana-dana dimaksud masih jauh dari cukup. Kalau begini situasinya, siapa sebenarnya harus dialahkan? Apakah pekerjaan kita mencari kesalahan orang?

Kwano menyarankan agar “Pengembangan Kopi Papua Harus dimulai dari yang Sudah Memulai”.

Perhatikan dan dukung kegiatan masyarakat Papua yang sudah ada, modali dan bekali, fasilitasi dan dorong usaha pengembangan dan pemasran kopi yang sudah ada. Kami KSU Baliem Arabica sejak 2013 ada di pulau Jawa, mulai dari Yogyakarta dan kini di Jakarta, sudah punya dua gudang grosir Kopi Papua, ini semua tanpa campur-tangan pemerintah provinsi Papua ataupun provinsi Papua Barat.

Pemda jangan bicara pasar, Pemda bicara tentang fasilitas administradi, birokrasi dan akses ke sumber-sumber keuangan di Tanah Papua. Kami KSU Baliem Arabica sudah sanggup sejak tahun 2010 untuk mengekspor kopi Papua. Kami punya pasar di Pasifik Selatan, Asia dan Amerika. Pemda tinggal menyuntikkan modal

demikian ungkap Kwano.

Selanjutnya Jhon Kwano juga mengatakan

Pemerintah kedua provinsi harus duduk bersama membuat “Grand Design Pembangunan Tanah Papua” tanpa harus melibatkan Jakarta, dan dalam “grand-design” itu dilihat komoditas strategis mana saja yang harus dikembangkan dan berdasarkan pilihan itu dibuat program pengembangan ekonomi.

Selain itu Kwano juga berpendapat bahwa para Kepala Dinas Provinsi yang diangkat, terutama Kepala Dinas Perkebunan dan PerindagKop selama ini bekerja untuk Partai Politik pengusung mereka, sehingga para petani kopi Papua menjadi korban. Menurut Kwano

Kalau para gubernur tanam benalu di pohon-pohon Kopi Papua, maka pekerjaannya menghisap dan lama-lama mengeringkan dan akhirnya mematikan kopi-kopi Papua. Gubernur jangan tanam benanu, jangan tanam anggrek di pohon Kopi Papua, tetapi tanam buah merah atau matoa. Benalu politik di Tanah Papua adalah biang keladi kambing-hitam antara Jakarta dan Papua. Waktu benalu ini ditiadakan, semua tanaman kopi dan buah merah akan tumbuh subur. Tetapi saya tahu, benalu itu bagian dari politik Indonesia, jadi untuk menghilangkan benalu, kita harus sikat mereka dari pusat, tetapi apakah itu bisa dilakukan oleh Presiden Joko Widodo? Kelihatannya itu hanya menjadi mimpi tak kunjung datang.

Sebagai jalan keluar menghadapi situasi ini Jhon Kwano menyarankan para gubernur di Tanah Papua agar bersyukur atas apa yang telah diberikan Tuhan lewat Otsus ini, dan berusaha mendaya-upayakan apa yang ada, sedikit dan banyak-nya itu relatif, yang terpenting ialah kita tahu bersyukur, mensyukuri apa yang telah kita dapatkan setelah perjuangan dengan keringat, waktu dan pengorbanan nyawa yang tidak sedikit sejak tahun 1961 sampai hari ini.

Jangan kita anggap Otsus itu pemberian, tetapi itu hasil perjuangan. Oleh karena itu kedua Gubernur harus mempertanggungjawabkan hasil perjuangan dengan nyawa ini kepada bangsa dan Tanah Papua. Jangan tiap hari pikir alasan untuk salahkan Jakarta.

Kedua Gubernur harus membantu badan usaha dalam bentuk koperasi yang sudah nyata berhasil mengekspor produk kopi ke pulau-pulau lain di Indonesia dan ke pasar Amerika Serikat, Korea Selatan, Hong Kong dan Eropa.

kata Kwano.

Arah Bisnis Kopi Papua: Memenuhi Permintaan di Indonesia sampai 100%

Barisa Kopi Papua, D.R. Kwano
Barisa Kopi Papua, D.R. Kwano

KSU Baliem Arabica sebagai produsen Kopi Papua, dan exportir tunggal Kopi Papua menyampaikan kepada seluruh penikmat dan pengusaha Kopi di Indonesia bahwa untuk panen tahun 2016 ini akan difokuskan untuk memenuhi permintaan Kopi Papua yang ada di Indonesia secara 100%, artinya kami upayakan untuk memenuhi semua permintaan kopi Papua yang ada di Indonesia.

Menurut Kepala Unit Marketing & Sales KSU Baliem Arbabica (Direktur PAPUAmart.com), Jhon Yonathan Kwano, kami dari Petani Kopi Papua, yang adalah Masyarakat Adat Papua di Kabupaten Lanny Jaya, Mamberamo Tengah, Jayawijaya dan Tolikara telah mengambil keputusan utnuk memenuhi permintaan kopi di Indonesia sebelum berbicara mengenai pengiriman Kopi Papua ke pasar di Asia atau Amerika Serikat.

Menurut Kwano alasan utama fokus produksi Kopi Papua untuk pemenuhan kebutuhan di pasar di Indonesia ialah kapasitas produksi Kopi Papua standard export yang masih belum dapat dijamin dari sisi stabilitas total produksi.

“Kalau sudah mausk pasar global, maka kita harus pastikan berapa ton kami produksi setiap tahun. Kami tidak bisa masuk ke pasar internasional kalau produksi kopi Papua selalu naik-turun, antara 5 – 20 ton per tahunnya. Nanti kalau para pemain kopi Papua mengatur diri kami sendir di  tanah Papua sendiri, menyingkirkan para pemain yang tidak bermoral yang berkeliaran saat ini, itu baru kita akan dengan yakin masuk ke pasar global. Sebenarnya kita sudah masuk pasar global, tetapi dengan total produksi yang tidak stabil maka kita tidak dapat mempertahankan reputasi kita. jadi, persoalannya bukan dari sisi standard, atau kemampuan finansial dan administrasi, tetapi terutama dari sisi total produksi yang selalu berubah-ubah.”

demikiankata Kwano.

Masih menurut Kwano, pemasaran Kopi Papua difokuskan ke pasar Indonesia selain karena faktor total produksi yang tidak stabil, dari sisi bisnis, “pasar kopi di Indonesia sudah cukup menjanjikan, dikaitkan dengan jumlah kopi yang sanggup diproduksi oleh KSU Baliem Arabica. Oleh karena itu, kami memfokuskan diri kepada pasar di Indonesia dulu.,

Bukan itu saja, masyarakat Papua juga sudah semakin banyak meminum kopi. Banyak cafe telah dibuka di Jayapura saja dapat dikataan lebih dari 50 cafe sudah ada, belum lagi di seluruh kabupaten dan di provinsi Papua Barat. Ditambah lagi, KSU Baliem Arabica sendiri lewat BANANA Leaf Cafe telah membuka cafe-cafe dalam bentuk warung maupun meja kopi Papua di berbagia tempat di Tanah Papua sehingga banyak kopi yang dikonsumsi di Tanah Papua sendiri. Hal ini berakibat kopi yang dikirim keluar dari Tanah Papua sudah mulai berkurang.

Jhon Kwano melihat tidak lama lagi memang Kopi Papua akan diekspor ke pasar global, tetapi ia memperingatkan

BANANA Leaf Cafe, Cafe Kopi Papua
BANANA Leaf Cafe, Cafe Kopi Papua

Kita jangan punya pikiran kalau kopi grade A dan segala barang kualitas bagus orientasinya diekspor keluar. Kita harus rubah cara berpikir budak dan kaum terjajah. Kita harus minum kopi Grade A, standard export di Tanah Papua, kalau kita produksi kopi itu di sini. Kita sudah export emas, perak, tembaga, kayu, kakao, sekarang kualitas terbaik kopi juga ke pasar global, ini murni cara berpikir pengusaha mental budak.

Kita harus mampu memenuhi kebutuhan kopi di Tanah Papua. Semua penikmat kopi di Tanah Papua minum Kopi Papua Grade A, lalu kita penuhi permintaan kopi di Indonesia dalam bentuk Green Beans Grade A itu, setelah itu baru kita pikir tentang export ke negara dan bangsa lain.

Mental budak itu apa? Kalau tuannya senang, dia ikut senang. Dan kalau tuannya makan di meja, hambanya makan di luar meja. Tuannya makan yang inti, hambanya makan yang bekas dan yang tidak mau dimakan si tuan. Kami tidak menghitung nilai diri kita dari berapa ton kita export, tetapi berapa ton kita sendiri habiskan di tanah Papua dan di Indonesia.

Kioson.com, PAPUAmart.com dan Bisnis Kopi Papua

Atas kerjasama yang telah dirintis oleh Kepala Unit Sales dan Marketing KSU Baliem Arbaica, Jhon Yonathan Kwano, dengan merintis sebuah bisnis Online, Offline dan Barter Produk Spesialti, maka pada tanggal 27 Januari 2016 telahd iserahkan sebanyak sepuluh (10) unit Usaha atau Paket Kios Online yang dalam minggu ini akan segera di implementasikan ke dalam sistem jaringan minimarket PAPUAmart.com dan Kios-Kios KKLingkar.com milik KSU Baliem Arabica yang telah tersebar di berbagai tempat di seluruh Tanah Papua.

Menurut Jhon Kwano, dengan kerjasama yang strategis ini, penjualan Kopi Papua ke depan tidak perlu dilakukan seperti sediakala, dengan membanngun titik distribusi kopi di Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Jawa Barat, dan sejenisnya. Kopi Papua juga tidak perlu memikirkan lagi membangun jaringan bisnis dengan reseller atau agen Kopi Papua. Katanya,

Semua produk PAPUAmart.com diharapkan akan masuk ke dalam jaringan Toko Online dari Kios Online, sebuah startup yang baru saja diluncurkan pada bulan Mei 2015, yaitu waktu yang sama dengan pembukaan minimarket PAPUAmart.com di Jalan Raya Sentani, Hawai No. 05. Kedua startup diluncurkan pada waktu yang sama, dan keduanya memberikan solusi kepada masalah yang sama, itu soal isolasi, transportasi dan jaringan komunikasi dengan menghadirkan barang-barang kebutuhan pembeli alngsung ke kios-kios dan minimarket yang bisa langsung didatangi oleh konsumen.

Atas kerjasama Kios On dan PAPUAmart.com ini, maka selanjutnya kami bersedia memberikan pelayanan keapda masyarakat Papua untuk membeli barang-barang yang dijual di mana saja di seluruh Indonesia, dan pada saat yang sama, orang Papua dapa tmenjual barang produk mereka kepada siapa saja di seluruh Indonesia.

Kopi Papua sudah miliki Gudang di Jakarta per Desember 2015

Sebagaimana diberitakan oleh PAPUAmart.com dalam blognya, Kopi Papua, pertama-tama Wamena Single Origin kini telah tersedia di Gudang PAPUAmart.com atau Gudang Kopi Papua di Jakarta dengan alamat lengkap berikut:

Jl. Muhammad Kahfi no. 1
Gg, Nila No. 75
Kel. Ciganjur
Kec. Jagakarsa
Jakarta Selatan
SMS: 0856-9135-0287 (Mas Gito) / WA: 085769223000 (Jhon Kwano)

Email: info@pas.coffee; info@papua.coffee; info@kopipapua.biz; info@baliemarabica.com; papuamart@gmail.com

Social Media:
Twitter @papuamart  & @bbcoffee
FB: @papuamart  @bbcoffee
Linkedin @papuamart @bbcoffee
Tumblr: @papuamart @baliemarabica

Harga Kopi yang kami sediakan di Jakarta per kg Green Beans ialah Rp.130.000,-

Anda dapat membelinya sebanyak 1 kg – 599 kg dengan harga Rp.130.000,-

Kami berikan harga khusus untuk pembelian lebih dari 600 kg.

Dengan ini maka kami berharap para tengkulak yang telah lama menipu dengan memanipulasi dan mencampur kopi sembarangan lalu memberi nama “Kopi Papua” dapat kami hentikan dan kami maju memperbaiki nama “Kopi Papua” sebagai Kopi Specialty yang memiliki citarasa tersendiri dan unik.