Kopi Asal Pegunungan Bintang Meriahkan Pameran ICBE 2016

JAYAPURA [PAPOS] – Kopi Papua asal Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin) meriahkan pameran International Conference on Biodiversity, Eco-Tourism and Creative Economy/ Ekonomi Kreatif, Keanekaragaman Hayati dan Eko Wisata (ICBE) 2016 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua berlangsung 7-10 September 2016 di GOR Cenderawasih, APO.
Sekretaris Koperasi Ok-Yum asal Pegunungan Bintang, Nicolaus Bukega, SP menyebut, kopi yang mulai berproduksi pada 2013 itu telah dipasarkan hingga keluar Papua.

“Pemasarannya sudah sampai keluar Papua yaitu ke daerah Jakarta, Yogyakarta. Bandung dan Bali serta Surabaya, “ujar Nicolaus saat ditemui Papua Pos, di pameran ICBE, Jumat (9/9).

Diakuinya, peminat kopi asli Papua asal Pegubin cukup tinggi, namun sayangnya permintaan dari masyarakat belum terpenuhi lantaran keterbatasan tempat penyimpanan.

“Per bulan kita hanya kirim sekitar 14 ton untuk biji kopi basah, dan 7 ton untuk biji kopi kering, karena gudang penyimpanan terbatas, saat ini kita fokus untuk memperluas tempat penyimpanan kopi, “terang Nicolaus.

Awal keberadaan kopi asli Papua asal Pegubin sekitar tahun 1960 an. Ketika itu Missionaris dari Belanda datang ke daerah tersebut dan menanam kopi jenis Arabica.

Missionaris tersebut merahasiakan keberadaan kopi yang diyakini mampu menyembuhkan penyakit asma akut itu dengan kadar nol persen asam.

Setelah masa tugas missionaris itu selesai dan akan kembali ke Belanda, barulah mereka menyampaikan kepada masyarakat setempat bahwa ada buah yang bisa diolah menjadi minuman.

“Mereka baru menyampaikan kepada masyarakat setempat setelah masa tugas mereka berakhir di Pegunungan Bintang, “kata Nicolaus.

Kebun kopi tersebut akhirnya diambil alih oleh masyarakat setempat dan diolah menjadi minuman. Namun, cara memasarkan kopi tersebut, kata Nicolaus, belum diketahui masyarakat.

“Pohonnya tumbuh sekitar 8-12 meter karena belum dikelola secara baik. Setelah saya menyelesaikan pendidikan di luar daerah dan kembali ke tengah-tengah masyarakat Pegubin, mulai saya kelola dan arahkan para petani kopi dengan baik, termasuk mendirikan koperasi Ok Yum, “jelasnya.

Nicolaus menuturkan, luas lahan kopi mencapai 60 hektar, digarap oleh 1.300 petani yang merupakan penduduk asli Pegubin.

Menyoal kemasan kopi, Nicolaus mengatakan, dipesan khusus dari pulau Jawa, namun merek yang tertera pada kemasan merupakan hasil karyanya.

“Brand/merek hasil karya saya, dalam waktu dekat akan kami patenkan merek tersebut. Saat ini sudah saya daftarkan di Kementerian Hukum dan HAM, “katanya. [srb]

Terakhir diperbarui pada Sabtu, 10 September 2016 00:23

Papua Kembangkan 20 Hektare Lahan Kopi Pegunungan Arfak

TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah Provinsi Papua Barat mulai mengembangkan lahan perkebunan kopi seluas 20 hektare di wilayah Kabupaten Pegunungan Arfak pada 2016.

“Kami sedang menyiapkan sebanyak 35 ribu bibit kopi jenis arabika. Penanaman akan dilakukan di lahan milik masyarakat di Distrik Testega,” kata Kepala Dinas Perkebunan, Agus Wali di Manokwari, Rabu (27 Juli 2016).

Dia menyebutkan awalnya bibit kopi tersebut akan diambil dari Pusat Penelitian Perkebunan Jember, Jawa Timur. Namun bibit dari lokasi tersebut dinilai sulit tumbuh di Pegunungan Arfak karena suhunya lebih dingin.

Sebagai penggantinya, Dinas Perkebunan mengupayakan bibit yang sama dari Wamena, Papua. Koordinasi sudah dilakukan dan saat ini proses pembibitan sedang berlangsung.

“Pegunungan Arfak merupakan daerah dengan ketinggian di atas 2.000 meter dari permukaan air laut. Bibit dari Jember memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri, berbeda dengan Wamena yang memang memiliki karakteristik daerah yang sama dengan Pegunungan Arfak,” katanya.

Agus mengutarakan pengembangan kebun kopi itu akan sepenuhnya melibatkan masyarakat setempat. Bibit yang disiapkan pemerintah daerah akan dibagikan kepada masyarakat di distrik tersebut.

Sementara itu, jumlah dan lokasi lahan penanaman tersebut sudah didata dan masyarakat dilarang membuka lahan baru untuk untuk mengantisipasi bencana longsor dan banjir bandang.

“Kami tahu bahwa Pegunungan Arfak adalah daerah rawan bencana. Untuk itu, penanaman ini cukup memanfaatkan lahan yang sudah ada, bisa di bekas kebun dan pekarangan masing-masing,” ujarnya lagi.

Pada program itu, pemerintah akan melakukan pendampingan kepada masyarakat dari pengolahan tanah, penanaman, hingga panen. Pemerintah pun akan menyiapkan dana stimulan berupa insentif, pelatihan pengolahan hingga pemasaran hasil produksi kopi olahan mereka.

Dia menilai potensi daerah tersebut cukup tinggi untuk pengembangan kopi. Para misionaris puluhan tahun lalu disebutnya sudah mengembangkannya di beberapa daerah Pegunungan Arfak.

Selain di Testega, pengembangan kopi pun akan dilakukan di Distrik Minyambouw. Di daerah tersebut, tanaman kopi sudah tumbuh cukup lama namun kurang perawatan. “Kami akan melihat, jika animo masyarakat tinggi, pendampingan akan kita lakukan biar mereka bisa memanfaatkan dan mengembangkan tanaman yang sudah ada,” pungkasnya.

ANTARA

Kopi Papua Kini Diminati Warga Negara Asing

citizendaily, Selain memiliki keindahan alam yang luar biasa bagaikan surga, tanah Papua juga memiliki tanah yang subur dan menghasilkan hasil alam yang tak terbatas bagi Orang Asli Papua (OAP).

Sebut saja hasil bumi seperti Kopi yang kini mulai diminati oleh warga negara asing (WNA) karena cita rasa yang klasik dan juga sangat menyentuh dengan kualitas yang tak kalah jauh dengan kopi di luar negeri.

Oleh karena itu, Gubernur Papua Lukas Enembe meminta kepada pemerintah pusat untuk terus memberikan perhatian lebih kepada hasil alam Papua tersebut karena dapat mendorong sektor ekonomi terutama bagi para petani kopi.

“Ingin mensejahterakan masyarakat gunung, maka kembangkan kopi. Dengan kopi masyarakat Papua bisa mendapatkan penghasilan yang menarik sehingga kesejahteraan menjadi lebih baik. Serta membuka interaksi orang gunung dengan orang luar,” kata Gubernur, beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi tambahan, Luas areal kopi di Papua pada tahun 2015 tercatat 10.113 ha, dengan produktivitas per ha hanya 438 kg. Dengan wilayah sentra adalah Kabupaten Jayawijaya dengan luasan hampir 3091 ha. Sedangkan sisanya tersebar di beberapa Kabupaten di Pegunungan seperti Pegunungan Bintang, Puncak Jaya, Yahukimo, Puncak, Paniai, Tolikara , Lanny Jaya, Intan Jaya, Dogiyai, Nduga dan Mimika.

Kopi Emas dari Tanah Papua

15 Juli 2016 17:42:13 Diperbarui: 15 Juli 2016 20:59:26

Kopi Amungme Gold yang dihasilkan dari perkebunan kopi Suku Amungme, Papua/RUL
Kopi Amungme Gold yang dihasilkan dari perkebunan kopi Suku Amungme, Papua/RUL

Dengan secangkir kopi kita bisa lebih akrab dan santai. Dengan secangkir kopi, segala gundah gulana terurai dengan lunglai. Dengan secangkir kopi, negara kita dikenal luas hingga ke mancanegara. Dan dengan secangkir kopi, barista ternama dan penikmat kopi dunia mengenal Indonesia bukan hanya karena Bali saja.

Negara ini dikenal sebagai penghasil kopi terbesar bersama Brazil, Vietnam dan Kolombia. Segala jenis kopi ada di tanah Nusantara. Bahkan, kopi menjadi komoditas unggulan Indonesia meski kita sendiri belum bisa menjadi pengendali harga kopi dunia yang masih terpusat di London dan New York. Di jalanan ibu kota, harum kopi kian santer dengan menjamurnya warung kopi dengan beragam konsep dan idealismenya.

Dari cara seduh pour over sampai aeropress yang dikompetisikan barista dunia akrab menyapa kita saat bertamu ke warung kopi yang senang disebut dengan cafe. Menjadi peminum kopi bukan sekedar mengecap rasa pahit di lidah. Dengan ragam aroma dan penyajiannya, meminum secangkir kopi perlu diritualkan layaknya tradisi meminum teh di timur asia.

Kopi Indonesia dikenal dengan keunikan rasa dan aroma. Kopi Sumatera identik dengan rasa yang berat dan bau hutan serta rempah. Berbeda dengan di Toraja, buah kopinya lebih mungil serta mengkilap menjadi identitas yang khas kopi yang memiliki tingkat keasaman cukup tinggi.

Di Papua, dengan alam yang masih perawan dan gugusan pegunungan yang padat, membuat kopinya memiliki tekstur yang lembut dan beraroma tajam. Tak ayal, kopi dari wilayah pegunungan Wamena dikenal luas dan menjadi merek dagang tersendiri. Apalagi, petani kopi di Papua masih mengandalkan proses alam dengan menunggu buah kopi ranum. Biasanya dikenal dengan natural process.

Begitu juga dengan kopi Papua yang berasal dari pegunungan di daerah Timika. Aroma yang tajam serta harumnya biji kopi setelah digoreng langsung merasuk ke indera penciuman saat saya berkunjung ke sebuah koperasi di Kabupaten Mimika, Kota Timika, Papua tiga pekan silam. Koperasi Amungme Gold yang dikelola oleh lima orang ini berhasil memberdayakan suku Amungme menjadi petani kopi dengan hasil produksi yang cukup untuk mengopikan orang yang berkunjung ke situs penambangan PT Freeport Indonesia (FI), bahkan kerap dibawa ke mancanegara sebagai buah tangan yang eksotis.

Suku Amungme yang memiliki hak ulayat atau hak atas kepemilikan wilayah di daerah penambangan PT FI dominan mendapatkan binaan dan banyak fasilitas lain yang diberikan khusus oleh PT FI, termasuk Koperasi Amungme Gold. Sejak 2013, koperasi ini membina dan memberikan edukasi serta fasilitas kepada suku yang berada di daerah pegunungan dekat dengan situs penambangan. Admin Highland Economy Development Amungme Gold Harony

Harony Sedik, wanita paruh baya yang dipercaya menjadi Admin Highland Economy Development Amungme Gold menuturkan proses pembinaan kepada para petani kopi Amungme di kampung Tisinga, Hoya dan Arowano. Ketiga kampung tersebut merupakan tempat lahan penanaman pohon kopi.

“Di setiap kampung ada 5 hektar lahan perkebunan kopi dan terdiri dari 24 petani,” kata Harony seraya menunjukkan biji kopi yang masih hijau di sebuah tempat penyimpanan.

Dalam sebulan, Koperasi Amungme Gold biasa memproduksi 1 ton kopi yang sudah digoreng (roasted) dalam bentuk biji (whole beans) atau yang sudah digiling (grinded). Biasanya sudah ludes terjual dalam kurun waktu sebulan. Pembelinya bukan dari wisatawan atau menitipkannya di kedai kopi. Menurut Harony, kopi Amungme Gold kerap diborong oleh pemerintah dan karyawan atau tamu PT FI yang kebetulan berkunjung ke tempatnya serta warga di Timika.

“Produksi 1 ton dalam satu bulan sudah ludes dari Timika, Freeport dan pemerintah. Produksi paling banyak sekitar 1,5 ton dalam satu setengah bulan,” ungkap Harony.

Sejak berdirinya koperasi ini, Suku Amungme mulai serius menggarap kebun kopi dan terus berproduksi. Bibit kopi yang ditanam pun didatangkan langsung dari Wamena yang selama ini dikenal sebagai penghasil kopi jenis arabika.

Proses

Bibit kopi yang didatangkan langsung dari Wamena dibawa ke wilayah Suku Amungme di daerah pegunungan sebelum ditanam dan panen. Setelah itu, pihak koperasi bersama petani memonitor dan menghimpun hasil panen sebelum di bawa ke Koperasi Amungme Gold yang berada di Kabupaten Mimika, Papua.

Satu petani bisa menghasilkan kopi sebanyak 25 Kg dengan harga jual dari petani 35 ribu rupiah per kilonya dan masing-masing kampung bisa menghasilkan kopi sekitar 500 Kg. Kopi yang dibeli pihak koperasi masih dalam keadaan belum dikupas. Proses pengupasan, penjemuran, goreng dan giling dilakukan di luar wilayah Suku Amungme, tepatnya di kantor koperasi.

“Sekali monitoring di tiap bulan kami mengambil kepada satu petani 25 Kg dengan harga per kilo 35 ribu rupiah untuk kopi yang belum dikupas. Sekarang ada 24 petani dari tiga kampung di Amungme. Satu kampung bisa menghasilkan 500 Kg kopi,” tutur Harony.

Kopi yang dihimpun dari petani akan melalui proses pengupasan dan penjemuran agar kadar air di dalam biji kopi berkurang. Kadar air dalam kopi dapat memengaruhi rasa dan aroma. Makin sedikit kadar airnya akan meningkatkan rasa dan aroma kopi.

“Di sini kami proses semua, pertama pengupasan kulit, ukur kadar air, harus di bawah 15 langsung di-roasting, kalau di atas 15 kami jemur lagi secara manual, setelah itu kami sortir,” kata Harony.

Kopi baru masuk ke proses goreng atau roasting jika kadar air sudah di bawah 15 persen dengan menggunakan mesin roasting dari Brazil. Mesin roasting yang efektif digunakan oleh koperasi hanya satu unit. Sebenarnya mereka memiliki satu mesin roasting lain buatan dalam negeri. Karena tidak adanya fitur monitor di mesin tersebut, hasil kopi menjadi kurang bagus dan cenderung lengket. Dengan alasan itu pihak koperasi memutuskan untuk tidak lagi memakainya.

Setelah digoreng, kopi didinginkan sejenak sebelum proses pengemasan atau digiling untuk memberikan pilihan kepada pembeli. Hal tersebut melihat pembeli dari luar negeri yang cenderung menyukai kopi yang masih dalam bentuk biji. Koperasi Amungme Gold hanya dapat menyediakan kemasan yang berisikan 250 gram kopi. Tingkat produksi dan alat yang terbatas membuat koperasi ini tidak mampu memproduksi kopi dengan kuantitas besar.

Kopi “Mahal”

Sejak memasuki ruangan koperasi, saya langsung menanyakan harga kopi yang sudah siap jual dengan kemasan 250 gram kepada Harony. Menurutnya, koperasi tersebut tidak mencari untung yang besar. Tujuan mereka adalah membina Suku Amungme sekaligus mengenalkan kopi Amungme yang rasanya tak kalah dari kopi yang ditanam di Distrik Wamena, Jayawijaya, Papua.

Tak ayal, kalau mereka hanya membandrol harga kopi Rp 50.000/kemasan. Hal ini berbanding terbalik dengan biaya proses monitoring dari petani yang membutuhkan biaya dan alat transportasi yang super mahal.

Mereka membawa kopi dari petani ke tempat koperasi menggunakan helikopter PT FI yang biaya sewanya mencapai 3.000 dollar (USD) atau jika dirupiahkan senilai 30 juta rupiah untuk durasi sewa selama 60 menit. Meski koperasi ini mengaku hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk membawa semua hasil kopi dari petani yang artinya membutuhkan biaya sekitar 17 jutaan sekali angkut, banderol 50 ribu rupiah untuk tiap kemasan dinilai terlalu murah bahkan kalau mereka berorientasi mencari keuntungan, koperasi ini pasti sudah tutup dan bangkrut.

Apalagi membandingkannya dengan harga kopi dengan kemasan yang sama di kedai kopi ibu kota. Kopi dari berbagai daerah dengan kemasan 250 gram bisa dibandrol hingga 150 ribu rupiah per kemasan. Belum lagi jika jenis kopi specialty yang bisa menembus sampai 500 ribu per kemasan. Tidak salah kalau menjuluki Amungme Gold sebagai kopi emas.

Menolak Starbucks

Sebagian besar masyarakat di perkotaan mungkin sudah akrab dengan kedai kopi asal Amerika, Starbucks. Kedai kopi yang konon meningkatkan status sosial tetamunya ini juga pernah tergiur dengan Kopi Amungme Gold. Pihak Starbucks pernah mengungkapkan ketertarikannya membeli dan menjadi pelanggan Kopi Amungme Gold untuk disajikan di seluruh kedai mereka. Namun, pihak koperasi menolak tawaran tersebut.
Hal itu disebabkan tingkat produksi yang terbatas. Koperasi Amungme Gold sampai saat ini belum mampu menghasilkan produk kopi dengan kuantitas yang besar. Alasan ini pula yang membuat Kopi Amungme Gold belum dikenal di tanah air. Mereka baru memasarkan produknya kepada para tamu PT FI, pemerintah dan warga di sekitar Kabupaten Mimika. Meski begitu, kopi ini cukup dikenal dikalangan ekspatriat. Mereka selalu membeli dan membawa Kopi Amungme Gold ke negara masing-masing setelah berkunjung ke PT FI.

Koperasi yang berusia hampir 4 tahun ini telah memiliki anggota yang berasal dari para petani kopi di Amungme. Selain membina bagaimana cara bertani dan menghasilkan sebuah produk unggulan khas daerah sehingga memiliki penghasilan yang lumayan besar, koperasi juga menjadi medium tempat belajar mengelola suatu perhimpunan atau organisasi.

Satu petani kopi di Amungme bisa mendapatkan gaji 10 juta rupiah per bulan. Lebih besar dari gaji kebanyakan angkatan kerja baru di ibu kota. Selain mengolah dan memasarkan kopi khas Amungme, Koperasi Amungme Gold juga menyediakan jenis kopi asli dari Wamena dan Paniai yang merupakan daerah penghasil kopi ternama di tanah Papua.

Nurul Uyuy, Co-Founder @komunitasteplok | Editor @kompasiana | Journalist @kompascom

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/

Kopi Papua peminat Paling Banyak Di Indonesia

Provinsi Papua menyimpan potensi kopi berkelas dunia. Papua menjadi salah satu daerah penghasil kopi di Indonesia yang sangat diminati, selain kopi Gayo, Mandailing, Jawa, Toraja, Sumatera, dan Sulawesi,” kata Tom Lembong dalam keterangan tertulis, Minggu (12/6/2016).

Data Dinas Perkebunan Provinsi Papua mencatat terdapat 16 petani kopi di Papua yang tersebar di Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, dan Kabupaten Dogiyai.

Tom Lembong menjelaskan, sejumlah pemerhati kopi di Jakarta turut serta dalam kampanye ini. Bersama Pemerintah Pusat, mereka diajak memberikan edukasi mengenai teknik budi daya, pengolahan pascapanen, dan pemasaran.

“Kegiatan pemberdayaan dan edukasi ini bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan petani agar lebih optimal. Kita tahu bahwa konsumen rela membayar mahal untuk kopi yang nikmat, namun sayangnya petani kurang mengetahui harga jual kopi di pasaran,” lanjut Tom.

Kabupaten Dogiyai memiliki 10 kecamatan yang keseluruhannya menyimpan potensi kopi, namun belum maksimal produksinya. Di kabupaten ini, dia melihat dari dekat tahapan produksi kopi dan fasilitas pengeringan, serta proses produksi kopi dari awal hingga akhir.

Saat ini, proses pengolahan kopi di Dogiyai masih tradisional. Mesin-mesin seperti mesin penumbuk yang digunakan pun masih sisa peninggalan Belanda dan belum ada peremajaan.

Proses penjemuran dan pengupasan kulit masih manual, serta kopi disangrai dengan kompor dan ditumbuk. Perkebunan kopi di Kabupaten Dogiyai merupakan perkebunan peninggalan misionaris Belanda di tahun 1890-an.

Kwei Ing, salah satu penyedia kopi arabika Papua saat Organic Weekend Festival di Hotel Crowne Plaza Bandung, Sabtu (19/3/2016) mengatakan kopi arabika dari dataran tinggi Papua merupakan salah satu kopi terbaik yang dimiliki Indonesia.

“Kopi arabika yang ditanam di area puncak pegunungan Jayawijaya memiliki kadar asam yang mendekati nol, dan kafein yang rendah. Karena semakin tinggi tempatnya, kopi arabika akan semakin bagus,” ujar Ing kepada KompasTravel.

Menurut Ing, kopi arabika ditanam pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, secara geografis termasuk yang tertinggi di dunia. Sehingga bebas polusi, bebas hama, dan tidak membutuhkan pupuk.

Kopi tersebut pun diekspor ke beberapa negara Eropa bahkan Amerika, tapi masyarakat Indonesia banyak yang belum mengetahui kehebatan kopi Papua tersebut. Menurutnya kopi organik tersebut memiliki antioksidan 10 kali dari buah lemon, dan digunakan sebagai obat beberapa penyakit di Amerika, seperti kanker payudara dan vertigo. Kafein yang didapat dari dataran tinggi papua merupakan pencegah kanker payudara terbaik.

Jenis Kopi Papua terbaik

  • Kopi Timika.

Menyebut nama Timika, pasti yang terbayang adalah Freeport dengan produksi tembaga dan emasnya. Tapi tauka anda jika di baagian pedalaman Timika tumbuh kopi kelas dunia? Jenis kopi yang dibudidayakan disana adalah kopi Arabica. Tersebar di wilayah suku Amungme yakni di daerah Hoea, Tsinga, Utekini, dan Aroanop Kopi ini serpertinya sangat istimewa namun belum terkenal seperti kopi Arabika baliem. Salah satu brad dari kopi Wamena adalah kopi Amungme Gold. Ada lagi satu kopi dari TImika yang harum dan enak adalah kopi Pogapa Pone. yang satu ini kemungkinan berasal dari daerah Sugapa.

  • Kopi Nabire.

Kopi Nabire lebih banyak tersebar di daerah Paniay dan Deiyai. jenisnya , lagi-lagi arabika. Kopi Nabire juga belum seterkenal kopi Wamena.  Masih ada lagi kopi Arfak dan Kebar di Manokwari dan Kopi Kaimana. Sayang. kedua kopi dari daerah ini seakan mati suri. sangat sulit untuk mendapatkan bijikopinya dipasar. Katanya kebun-kebun kopi di daerah tersebut sudah tidak mendapat perhatian yang baik dari para petani kopi.

Kopi Wamena adalah jenis kopi dari Papua yang paling dikenal banyak orang didalam negeri. Kopi Wamena juga sering dijumpai di kedai-kedai kopi besar semisal Anomali Coffee.Pasarannya juga sudah menembur pasar ekspor. Saya sendiri lebih suka menyebut kopi wamena dengan sebutan Arabika Baliem. ingin lihat jenis kopi lainnya silahkan kunjungi website Mr O Coffee

Pengolahan Kopi Papua

rosewell-coffee-shop3

Petani Kopi Papua menggunakan proses unik yang disebut sebagai pengupasan basah atau wet-hulling (juga sering disebut sebagai semi washed). Menggunakan teknik ini, para petani mengupas kulit luar buah kopi dengan menggunakan mesin pengupas tradisional yang disebut “luwak”. Biji kopi, yang masih berselaput getah, kemudian disimpan hingga selama satu hari. Setelah masa penyimpanan, biji kopi dibersihkan dari getah dan kopi tersebut dikeringkan dan siap untuk dijual.

Petani di Papua menggunakan proses semi washed. Setelah melakukan pengupasan, kopi difermentasi selama 8 hingga 10 jam. Kemudian dibersihkan dari getah dan biji kopi dikeringkan hingga memiliki kandungan air 12%, atau dikupas dalam keadaan basah dan dikeringkan sebagai biji hijau. Karena lambatnya paparan teknologi modern, maka sebagian besar dari kegiatan pengolahan kopi tersebut dilakukan hanya dengan tangan. Pupuk kimia, pestisida dan herbisida tidak dipakai untuk tanaman kopi ini, dan membuat kopi Papua menjadi kopi yang langka dan juga berharga.

Setelah pengupasan, kopi kemudian disortir berdasarkan ukuran, berat dan warna, pertama menggunakan mesin dan kemudian menggunakan tangan. Terakhir, kopi dikemas dalam kemasan khusus bahan makanan berukuran 60 kilogram untuk ekspor. Sepanjang pelaksanaan proses, dilakukan cupping test untuk memastikan bahwa kopi tersebut memenuhi standar specialty grade.

Setelah penyortiran, beberapa produsen menyimpan kopi mereka selama satu hingga tiga tahun sebelum dipasarkan. Proses ini mengembangkan aroma woody dan kayu manis, dengan karakter yang sangat ringan dan hangat. Biji yang berwarna hijau akan berubah menjadi kuning tua hingga coklat. Roaster suka mengunakan kopi ini sebagai bagian dari racikan khusus, untuk saat Natal misalnya, dimana aroma kayu manis hangat sangat disukai.

Keunggulan Kopi Papua

Keunggulan utama Kopi Papua atau Kopi Arabica Papua ialah penanaman yang dilakukan tanpa pupuk organic ataupun pupuk kimia, jadi 100% Organik.

Di samping itu Papua Arabica Coffee memiliki keunggulan lain:

  • Tumbuh sepanjang pegunungan Jayawijaya dengan ketinggian 1.000 – 2.500 m dari atas permukaan laut.
  • Memiliki aroma dan cita rasa yang khas, karena itu disebut Papua Specialty Coffee
  • Digolongkan Kopi Organik berdasarkan proses pertumbuhan secara alami dan sertifikasi dari berbagia lembaga sertifikasi dunia seperti Rainforest Alliance, Control Union dan USDA.
  • Tidak terasa asam karena memiliki kadar asam yang rendah sehingga aman diminum bagi semua orang dan hampir semua umur.

Petani di Papua menggunakan proses semi washed. Setelah melakukan pengupasan, kopi difermentasi selama 8 hingga 10 jam. Kemudian dibersihkan dari getah dan biji kopi dikeringkan hingga memiliki kandungan   air 12%, atau dikupas dalam keadaan basah dan dikeringkan sebagai biji hijau. Karena lambatnya paparan teknologi modern, maka sebagian besar dari kegiatan pengolahan kopi tersebut dilakukan hanya dengan tangan. Pupuk kimia, pestisida dan herbisida tidak dipakai untuk tanaman kopi ini, dan membuat kopi Papua menjadi kopi yang langka dan juga berharga.

Sumber :

  • http://travel.kompas.com/read/2016/03/24/084200127/Nih.Kopi.Papua.Arabika.Organik.Penuh.Khasiat
  • http://www.kompasiana.com/sumbung/mengenal-kopi-papua_56c743f2349773080ad25e0a
  • http://bisnis.liputan6.com/read/2529415/begini-cara-mendag-bawa-kopi-papua-mendunia
  • http://papuacoffees.com/page/profil-kopi-papua.html

Papua Menyimpan Potensi Kopi Berkelas Dunia

http://www.karebamalaqbi.com/, 11 Jun 2016

DOGIYAI – KBM, Setelah sukses promosi kopi Indonesia di tingkat global melalui ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016, Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong kali ini mengajak pemerhati kopi dan masyarakat dunia untuk lebih dekat dengan kopi Papua melalui Program “Dengan Bangga Menyeduh Kopi Papua”.

Peluncuran program “Dengan Bangga Menyeduh Kopi Papua” dilakukan di Kabupaten Dogiyai, Papua, hari ini (11/6). Peluncuran ini sekaligus menjadi bagian penting “Gerakan Papua Bekerja dan Unggul” yang merupakan program milik Kelompok Kerja Papua yang mendapat dukungan sepenuhnya oleh Kemendag.

“Provinsi Papua menyimpan potensi kopi berkelas dunia. Papua menjadi salah satu daerah penghasil kopi di Indonesia yang sangat diminati, selain kopi Gayo, Mandailing, Jawa, Toraja, Sumatra, dan Sulawesi,”

kata Tom Lembong.

Dinas Perkebunan Provinsi Papua mencatat terdapat 16 petani kopi di Papua yang tersebar di Kabupaten Jayawijaya, Tolikara, Lanny Jaya, Pegunungan Bintang, dan Kabupaten Dogiyai.

Mendag menjelaskan, sejumlah pemerhati kopi di Jakarta turut serta dalam kampanye ini. Bersama Pemerintah Pusat, mereka diajak memberikan edukasi mengenai teknik budi daya, pengolahan pascapanen, dan pemasaran.

“Kegiatan pemberdayaan dan edukasi ini bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan petani agar lebih optimal. Kita tahu bahwa konsumen rela membayar mahal untuk kopi yang nikmat, namun sayangnya petani kurang mengetahui harga jual kopi di pasaran,” lanjut Mendag Tom.

Kabupaten Dogiyai memiliki 10 distrik yang keseluruhannya menyimpan potensi kopi, namun belum maksimal produksinya. Di kabupaten ini, Mendag melihat dari dekat tahapan produksi kopi dan fasilitas pengeringan, serta proses produksi kopi dari awal hingga akhir.

Saat ini, proses pengolahan kopi di Dogiyai masih tradisional. Mesin penumbuk yang digunakan pun masih sisa peninggalan Belanda dan belum ada peremajaan. Proses penjemuran dan pengupasan kulit masih manual, serta kopi disangrai dengan kompor dan ditumbuk.

Perkebunan kopi di Kabupaten Dogiyai merupakan perkebunan peninggalan misionaris Belanda tahun 1890-an. Pada era tersebut, sebagian besar masyarakat Dogiyai adalah petani kopi. Seiring perubahan zaman, masyarakat mulai jarang menanam kopi dan beralih profesi menjadi buruh bangunan untuk mendapatkan uang lebih cepat.

Sebelumnya, Mendag juga meninjau salah satu perkebunan kopi di Kabupaten Tolikara dan berdialog dengan pengusaha kopi setempat. “Kopi asli Papua ini menjadi kebanggaan masyarakat Papua dan menjadi komoditas yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat Papua”, harap Mendag. [K03]