Kopi Papua Kini Diminati Warga Negara Asing

HarianPapua.com – Selain memiliki keindahan alam yang luar biasa bagaikan surga, tanah Papua juga memiliki tanah yang subur dan menghasilkan hasil alam yang tak terbatas bagi Orang Asli Papua (OAP).

Sebut saja hasil bumi seperti Kopi yang kini mulai diminati oleh warga negara asing (WNA) karena cita rasa yang klasik dan juga sangat menyentuh dengan kualitas yang tak kalah jauh dengan kopi di luar negeri.

Oleh karena itu, Gubernur Papua Lukas Enembe meminta kepada pemerintah pusat untuk terus memberikan perhatian lebih kepada hasil alam Papua tersebut karena dapat mendorong sektor ekonomi terutama bagi para petani kopi.

“Ingin mensejahterakan masyarakat gunung, maka kembangkan kopi. Dengan kopi masyarakat Papua bisa mendapatkan penghasilan yang menarik sehingga kesejahteraan menjadi lebih baik. Serta membuka interaksi orang gunung dengan orang luar,” kata Gubernur dilasnir Poskotanews, Minggu (3/7/2016).

Sebagai informasi tambahan, Luas areal kopi di Papua pada tahun 2015 tercatat 10.113 ha, dengan produktivitas per ha hanya 438 kg. Dengan wilayah sentra adalah Kabupaten Jayawijaya dengan luasan hampir 3091 ha. Sedangkan sisanya tersebar di beberapa Kabupaten di Pegunungan seperti Pegunungan Bintang, Puncak Jaya, Yahukimo, Puncak, Paniai, Tolikara , Lanny Jaya, Intan Jaya, Dogiyai, Nduga dan

Menikmati Kopi Papua Diiringi Musik Jazz

JIKA Anda penikmat kopi dan penggemar musik jazz, datanglah ke kafe Intro Jazz di BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Di kafe ini, setiap Jumat malam dan Sabtu malam, pengunjung dapat menikmati pertunjukan musik jazz yang dimainkan berbagai komunitas dan grup jazz berganti-ganti.

Sabtu (4/10/2014) malam lalu, grup jazz yang terdiri dari Cendy Luntungan, Aga Hamzah, Happy Pretty, dan Gomez tampil di tempat ini. Malam itu mereka membawakan lagu-lagu di antaranya “As Time Goes By” dan “Just The Two of Us”.

Kehadiran kafe khusus jazz yang dibuka satu pekan sebelum Hari Raya Idul Fitri tahun ini, tentu saja disambut gembira oleh penggemar jazz. “Sudah lama saya mencari kafe khusus jazz. Saya gembira menemukan kafe ini,” kata Andin, seorang pecinta musik jazz. Andy Noya, “host” program Kick Andy di Metro TV juga pelanggan tetap kafe ini.

Direktur Operasi Intro Jazz Cafe & Bistro, Ivan Tanuwijaya, mengungkapkan, dia dan 12 mitra pemilik kafe ini memilih konsep kafe jazz karena bertujuan ingin memajukan jazz di Indonesia.

“Kami tahu ini tidak mudah karena jazz bukanlah musik sehari-hari yang disukai banyak orang. Biasanya kafe jazz tidak tahan lama dan terpengaruh musik lain. Tapi kami yakin kafe jazz di Serpong ini akan berkembang,” cerita Ivan. Di Serpong sendiri, sudah berkembang komunitas jazz BSD.

Pada awalnya Ivan dan kawan-kawannya hanya ingin menyediakan kopi. Tetapi kemudian mereka berpikir perlu menyediakan juga mocktail dan makanan. Yang menarik, semua kopi yang disediakan di Intro Jazz berasal dari Papua. “Kami menggunakan kopi Papua karena ingin mempromosikan Papua sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani kopi Papua. Selain itu, kopi Papua lebih organik, rasanya fruity, dan diambil langsung dari hutan,” jelas Ivan.

Ivan yang menyelesaikan kuliah di Amerika Serikat dan bekerja di sana selama 12 tahun itu, bermimpi, suatu hari Intro Jazz menjadi basecamppemain-pemain jazz di Indonesia, seperti klub-klub jazz Blue Note di Tokyo, Jepang, atau Baked Potato di Los Angeles, Amerika Serikat. “Ada rasa bangga bila bermain di klub jazz itu. Kami berharap siatu hari Intro Jazz mencapai itu,” ungkap Ivan.

Dia juga merencanakan mengajak pemain jazz internasional bermain di Intro Jazz agar menjadi bagian edukasi bagi pemain-pemain jazz Indonesia.

Atmosfer Kafe Intro Jazz seperti gudang, tak ada pembatas dan plafon. Yang ada hanya foto-foto para pemain jazz terkenal yang dipajang di sekeliling kafe yang dipinjamkan jazzer Ireng Maulana. Foto-foto pemain jazz dunia itu mulai dari George Benson, Al Green, Wynton Marsalis, Herbie Hancock, Candy Dulfer, Pat Metheny, John Scofield, sampai Miles Davis.

Makanan

Suasana nge-jazz di kafe ini diimbangi dengan makanan yang disajikan, kombinasi makanan Indonesia dan barat. Salah satu yang terkenal adalah Fat Man Burger 750 gram. Burger setebal itu biasanya dihabiskan oleh empat sampai delapan orang. Makanan barat lainnya yang digemari tamu yaitu Sirloin. Daging empuk ini diimpor khusus dari Amerika Serikat.

Adapun makanan Indonesia yang dicari pengunjung adalah ayam panggang madu dan mi tek-tek. Makanan-makanan ini hasil racikan chef yang “dibajak” dari sebuah hotel bintang empat di Jakarta.

Meskipun masih baru, kafe ini sudah menjadi tempat nongkrong dan hang-out para mahasiswa di kawasan Serpong, mulai dari Swiss German University, Universitas Multimedia Nusantara, sampai Universitas Pelita Harapan. “Keunggulan kami adalah akses internet yang cepat,” kata Ivan.

Intro Jazz Cafe & Bistro berlokasi di kawasan CBD BSD, di antara McDonald’s dan Lembur Kuring, di belakang Giant BSD. Akses ke BSD saat ini makin cepat dan mudah setelah jalan tol JORR W2 beroperasi. Penggemar jazz dari Tangerang, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Bekasi, lebih cepat mencapai lokasi ini.

Penulis : R. Adhi Kusumaputra
Editor : I Made Asdhiana

Rabu, 8 Oktober 2014 | 09:41 WIB, Travel.Kopmas.com 

Dicopy Uland Dari PAPUACoffees.com

Penawaran Kopi dengan Harga Spesial

Penawaran Kopi dengan Harga Spesial untuk 10 Pembeli Pertama Musim Kopi Juli – September 2014

Dear Penikmat dan Pengusaha Kopi di Seluruh Indonesia dan Team Kerja KSU Baliem Arabica,
Selamat Pagi!, semangat Pagi!
Dari Kantor Pusat KSU Baliem Arabica sebagai pusat pembelian Kopi di Pegunungan Tengah Papua dengan ini kami sampaikan PENAWARAN KHUSUS kepada 10 Pembeli Pertama untuk Musim Panen 2014 (Juli – September 2013) dengan harga khusus.
Koperasi Baliem Arabica ingin menawarkan penjualan kopi Biji ke beberapa Pembeli lokal yang selama ini aktif dengan harga special. Bagi pembeli baru, kami sarankan menjelaskan kepada Koperasi seberapa sering mereka akan beli dan berapa jumlah pembelian regular yang direncanakan untuk kami ketahui sebelum memutuskan apakah kami akan jual kepada pembeli baru atau tidak.
Karena Tahun ini kami punya stock beberapa ton.
Berikut Informasi Kopi.
1. Coffee Variety : Arabica
2. Kadar Air/ Moisture : 11,5-12,5 %
3, Grade : Grade One
4. Certification : Organic RA
5. Price : FOB Sentani Wirehouse, Jayapura dengan harga special Rp. 67.000/ kg.

Info Selengkapnya silahkan hubungi

  1.  Email: coffeebaliemblue@yahoo.com; info@coffea.asia; info@baliemarabica.com
  2. SMS/ Telepon: 081248129978 / 081238301001
Demikian informasi penawaran, jika ingin membeli/ memesannya mohon info balik dalam waktu dekat.
Terima kasih atas kerja sama dan jawaban anda sangat kami nantikan.
wa wa wa
On behalf KBA Wamena

SUmber: PapuaCoffees.com

Kisah Unik Kopi Senang dari Sorong, Papua

Penjualan Kopi Papua di Sorong
Penjualan Kopi Papua di Sorong

Sorong – Ada yang menarik dari Sorong, Papua Barat. Di sana, ada kopi yang bernama cukup unik yaitu Kopi Senang. Seperti apa kopi tersebut, ini kisahnya!

Lain timur lain barat. Di Aceh, masyarakat dan wisatawan pada umumnya suka berkumpul sambil minum kopi. Itu sebabnya, di Indonesia bagian barat ini, banyak warung kopi yang mudah ditemukan di tepi jalan.

Kondisi tersebut kontras dengan Kota Sorong yang ada di Indonesia bagian timur. Hampir di sepanjang jalan yang ada di kota, jarang terlihat kedai kopi. Satu-satunya warung kopi yang terlihat adalah Phoenam, cabang dari Makassar.

Minum kopi sambil ngobrol berjam-jam mungkin belum sepenuhnya jadi budaya kuliner masyarakat di pulau Kepala Burung ini. Tapi saya penasaran untuk mencicipi kopi setempat. Hampir semua yang saya tanya merekomendasikan Kopi Senang yang memang populer.

Maka bertandanglah detikTravel bersama rombongan dari Kemenparekraf ke rumah produksi sekaligus pemasaran Kopi Senang pada pekan lalu. Perjalanannya hanya sekitar 15 menit dari Hotel Mariatt di pusat kota. Begitu tiba di pintu gerbang bangunan tiga tingkat itu, kami disambut aroma kopi yang sedap.

“Di Sorong hanya ada kami satu-satunya produsen kopi,” kata pemilik Kopi Senang, Pak Budi yang berumur 53 tahun.

Melihat ada potensi bisnis, pria Tionghoa asal Padang ini mulai mendirikan rumah pengolahan kopinya pada tahun 1985. Sorong bukanlah wilayah penghasil kopi. Bahkan, hampir tak ada perkebunan kopi di daerah ini. Tapi Budi tak habis pikir dan memutar otak untuk mencari biji kopi. Dia berkeliling “mengimpor” kopi Robusta dari berbagai daerah yang memang terkenal punya kopi enak.

“Sorong tak ada kopi, jadi kita keliling cari kopi. Mulai dari Sulawesi, Sumatera Utara, Lampung, sampai Manokwari. Kita ambil biji mentah kualitas ekspor lalu mengolahnya di sini,” lanjut Budi saat ditemui di kantor sekaligus kediamannya.

Perpaduan biji kopi dari berbagai daerah membuat aroma kopinya sungguh harum. Namun menurut beberapa penikmat kopi, citarasa kopi Senang masih kalah dibanding dengan hasil racikan biji kopi yang tumbuh di Papua seperti kopi Moanemani, Pogapa, dan Amungme Gold.

Meski begitu, kerja keras Budi tak sia-sia. Sasarannya sejak awal memang ingin memasyarakatkan budaya ngopi di Papua Barat, sekaligus membidik pasar wisatawan. Kopinya kini tenar di kalangan masyarakat Papua, bahkan hingga ke pedalaman dan pesisir.

“Pasar kita Sorong, Papua dan sekitarnya. Tapi kopi kita juga sampai ke Sumatera dan Jawa sebagai oleh-oleh khas,” ujarnya.

Lalu kenapa namanya ‘Senang’? Sambil terkekeh, Budi mengatakan nama tersebut punya cerita tersendiri. Saat memutuskan merantau ke Papua Barat, Budi dan istrinya ingin berbisnis kopi. Mereka lalu bercerita kepada orangtua mereka.

“Orangtua saya cuma bilang, ‘oke bisnis kopi itu bagus juga, semoga bisa bikin senang ya’. Saat mau memberi nama merek, saya terpikir untuk membuat ‘Senang’ karena mudah diingat. Sekarang memang kopi ini bikin kami senang dan orang yang meminumnya pun mudah-mudahan bisa senang,” ujarnya sambil memasukkan kopi pesanan kami ke dalam boks karton.

Sayangnya, Budi belum menyediakan kafe atau kedai di tokonya. Dalam waktu dekat dia berencana mendirikan warung tempat para wisatawan bisa bersenang-senang menikmati Kopi Senang. Kita lihat saja nanti.

Sumber Berita: travel.detik.com/read/2013/10/07/091902/2379498/1519/2/kisah-unik-kopi-senang-dari-sorong-papua

Sumber Cerita: PAPUACoffees.com

Profil Kegelisahan Seorang “Pahlawan” Kopi di Moanemani

Ir. Dominikus Tebay
Ir. Dominikus Tebay

Kalau saya masuk dalam pemerintahan, saya akan jadi tamu di atas tanah saya sendiri”

Dogiyai, MAJALAH SELANGKAH — Mantan Gubernur Papua, Barnabas Suebu pernah menyebut Papua sebagai ‘si cantik yang sedang tertidur lelap’. Pantas, sebutan itu dialamatkan kepada pulau ini karena ia berbentuk burung dan memiliki panorama yang indah.

Ia juga memiliki kekayaan alam yang berlimpah (flora, fauna dan aneka tambang, pariwisata, hutan, kebudayaan, hasil perkebunan dan tentu saja luas wilayah dengan letaknya yang strategis.

Kopi adalah salah satu hasil perkebunan di Papua, khususnya di pegunungan yang dikenal banyak orang. Pegunungan di bagian Timur kita kenal Kopi Wamena dan pegunungan bagian barat kita kenal Kopi Moanemani. Kopi dikenal luas karena murni, 100% organic. Produk kopi dari dua daerah ini diekspor hingga keluar negeri.

Bagaimana kisah kopi Moanemani?
Kopi Moanemani dikelola oleh salah satu putra terbaik Papua, Ir. Dominikus Tebay. Ia memilih kembali ke kampung halamannya (Kampung Mauwa) untuk kelola potensi yang ada di pegunungan Mapiha dan Lembah Kamuu (kopi), kini Kabupatem Dogiyai setelah menyelesaikan pendidikan pertanian di negeri Belanda.

Ketika itu, kehadirannya member warna baru bagi masyarakat. Ia membangkitkan rakyat dengan potensi yang ada di sana dengan membuat perusahaan kopi dan mengajarkan berbagai ketrampilan di bidang pertanian, perkebunan dan peternakan kepada masyarakat.

Tapi, waktu terus berjalan dan zaman berubah, semua yang ia ajarkan itu kini tinggal kenangan. Program-program instan dari pemerintah dan akses pasar yang sulit membuat warga di sana, pelan-pelan meninggalkan semua yang telah diajarkan Ir Tebay, cara menanam, merawat, panen, dan lainnya.

Tempat produksi kopi yang dikenal P5 itu telah lama redup. Selain karena larangan bantuan luar negeri oleh negara, juga karena masyarakat tidak lagi menanam dan merawat kopi yang dimilikinya sebagai bahan mentah. Koperasi Kopi Moanemani (P5)  yang beralamat Jalan  Kimuupugi, Kampung Kimupugi, Moanemani, Kab. Dogiyai itu kini hanya diproduksi dalam jumlah terbatas.

Nama besar P5 yang dikenal luas sejak puluhan tahun itu kini hampir tidak terdengar. Ironis, Kabupaten Dogiyai yang merupakan pusat produksi kopi justru dibanjiri kopi olahan dari luar yang dibawa oleh para pedagang dari Bugis.

Pemerintah Kabupaten Dogiyai yang sudah lebih dari 5 tahun hadir itu belum memperlihatkan komitmennya untuk hidupkan kembali Kopi Moanemani sebagai produksi unggulan.

Melihat kondisi ini, beberapa waktu, reporter majalahselangkah.com menemui Ir. Dominikus Tebay di koperasi P5. Berikut petikan wawancara bersamanya.

Selamat pagi Bapak, senang bisa bertemu dengan Bapak. Bapak, usaha kopi ini, Bapak mulai sejak kapan?

Saya mulai usaha kopi ini sudah puluhan tahun. Tidak ada modal pada awalnya, saya mulai bermodalkan ‘komitmen’. Saya memulai dengan membuka koperasi kopi. Karena di sini ada potensi kopi.

Apakah kondisi saat ini masih sama seperti dulu?

Menurut pandangan saya, memang ada perubahan. Khusus untuk di bidang penanaman dan penjualan kopi di Kamuu sudah ada perubahan.

Setelah hadirnya kabupaten, ada berbagai tawaran kerja/borongan yang sangat menjanjikan untuk mendapatkan uang lebih besar dari menjual kopi. Kalau sebelum masuknya pemerintahan, waktu hanya masih distrik itu, kopi merupakan salah satu kerja yang paling laris buat masyarakat Kamuu di mana dengan cepat mendapatkan uang melalui penjualan kopi. Sekarang keadaan sudah terbalik.

Kopi semakin terkenal (mungkin karena juga kehadiran pemerintah) di mana-mana bahkan hingga di luar negeri tetapi orang yang membudidayakan kopi (buah kopi dikebun) sudah mulai tidak ada, padahal waktu masih distrik banyak orang yang sangat antusias untuk menjual kopi bahkan hingga setiap kampung ada kebun kopi.

Dulu kopi belum terkenal banyak masyarakat yang menjual, sekarang kopi terkenal, antusias masyarakat terhadap mulai kurang bahkan terancam tidak ada. Nama sudah mulai besar, peminat tambah banyak tetapi yang tanam kopi mulai tidak ada.

Apakah masih ada masyarakat yang masih tanam kopi sekarang?

Saya melihat masih ada yang tanam, tetapi tidak bisa saya pungkiri, tidak seramai dulu. Fakta bahwa, kopi masih dipegang oleh generasi tua yang sudah biasa bawa ke sini dari dulu. Belum ada generasi muda yang saya lihat secara serius untuk usaha kopi di tiap kampung.

Saya berharap harus ada “Pahlawan Kopi” di lembah Kamuu ini. Saya juga berharap kepada generasi muda, semoga ada yang jadi pahlawan-pahlawan di bidang ini lagi. Saya melihat peluang ekonomi sangat terbuka lebar sekali untuk usaha kopi untuk ke depan.

Sekarang sudah ada jurang pemisah yang tercipta antara generasi tua dengan generasi muda untuk usaha kopi ini di tiap kampung. Belum ada anak-anak muda yang berani mengambil alih untuk melanjutkan usaha kopi. Sekarang yang menjadi tugas berat yang harus dilakukan oleh semua pihak termasuk  saya itu, membangun sebuah komitmen pahlawan kopi kepada generasi muda.

Petani model harus dibangun. Ia lebih fokus kepada generasi muda, karena mereka yang melanjutkan nanti ke depan. Sekali pun ada generasi tua tetapi akan kita fokus kepada generasi muda. Dalam usaha semacam kopi itu memang berat rasanya, tetapi modal utama yang perlu dimiliki oleh para generasi muda yang mau kembangkan usaha kopi ke depan itu, sebuah komitmen.

Bagaimana dukungan pendanaan dan fasilitas dari pemerintah daerah Kabupaten Dogiyai saat ini?

Sekalipun ada dukungan dari pemerintah Dogiyai sama kami (usaha kopi Moanemani:red) tetapi secara nyata hingga saat ini belum ada. Memang kami sempat bicara tetapi sekarang ada tercecer di mana kami juga tidak tahu. Mereka (pemerinta Dogiyai:red) bisa jadi lupa karena mereka punya kesibukan banyak.

Ada perhatian yang nyata saat karateker saja (Bapak Drs. Adauktus Takerubun:red). Bupati karateker sempat menggunakan tenaga saya sebagai tenaga pemberi input kepada pemerintah bagian Perkebunan, pertanian dan perikanan.

Untuk baru-baru ini, waktu MUSREMBANG kemarin saya juga sempat diundang dan saya sempat memberikan beberapa ide dan pendapat saya terkait kopi ini. Saya sampaikan, pemerintah harus buat titik-titik pembelian kopi di tiap distrik dengan ongkos yang sama dengan yang kami beli. Pendapat saya itu sudah diterima oleh pemerintah dan ditanggapi positif jadi tidak tahu nanti akan dilaksanakan atau tidak, kita tunggu realisasi dari mereka.

Saya dibantu hanya waktu di sini distrik (distrik Kamuu). Tahun 2001, saat itu Bapak AP You menjadi Bupati Nabire, jadi saya merasa sangat berterimakasih kepada beliau.  Waktu itu kami ajukan proposal bantuan kepada beliau, beliau membantu kami 1 Milyar. Selanjutnya, hingga saat ini tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah kepada kami.

Bagaimana penggunaan uang itu?

Setelah kami terima uang itu kami pakai secara bertahap. Kami keluarkan banyak uang ketika kami pesan plastik untuk bungkus kopi dan kantong plastik, kami masih pakai sampai saat ini. Uang itu kami sudah kelola dan sudah kami pakai selama 13 tahun.

Stok untuk plastik dan pembungkus masih memadai hingga beberapa tahun ke depan. Uang itu telah member warna dan membangkitkan lagi koperasi ini dan masih jalan hingga saat ini.
Bapak, tempat ini  (Kopersi) dibangun puluhan tahun lalu. Fasilitas juga mungkin sudah lama.

Bagaimana dengan kondisi tempat dan fasilitas sekarang?

Seperti yang anak sendiri lihat ini. Kami masih pakai rumah yang lama dengan kondisi seperti ini (apa adanya). Kalau nanti ada dana, kami rencana perjelas status tanah ini terlebih dahulu karena tempat yang kami sedang pakai ini juga milik masyarakat di sini dan status belum jelas.

Fasilitas juga sudah lama semua. Harapan perhatian dari pemerintah daerah kepada koperasi Kopi Moanemani tentu ada, tetapi yang paling penting adalah harus ada ‘petani model’ kepada generasi muda dengan maksud usaha kopi ini terus ada terus hingga beberapa tahun mendatang.

Cara agar kopi tetap dipertahankan dalam perubahan, apa yang perlu dilakukan?

Saya pikir, pemerintah harus ajarkan skill yang memadai kepada masyarakat, khususnya kepada masyarakat yang sudah punya kebun kopi, agar kopi tetap ada terus untuk beberapa puluh tahun yang mendatang Kalau dibiarkan terus, siapa yang pertahankan kopi ini?

Pemerintah juga harus ajarkan petani dengan baik agar ada petani model di tiap distrik, lebih khususnya di bagian penanaman kopi dengan tujuan mereka yang akan dilatih itu memelihara kopi dan lahirkan kopi yang berkualitas.

Sementara yang biasa saya amati pada masyarakat Lembah Kamuu itu, sekalipun ada kebun kopi yang besar, masyarakat biarkan begitu saja. Petani model yang saya maksud itu, ajarkan masyarakat itu cara baik untuk menanam kopi yang baik, memelihara, melihat kopi mana yang sudah kena hama, cara memotong dahan dengan baik, dll.

Pokoknya ajarkan ketrampilan tentang pemeliharaan kopi yang baik kepada masyarakat di tiap distrik. Kalau hal itu diwujudkan oleh pemerintah melalui tiap distrik, saya yakin sekali, kopi tetap akan hidup di Lembah Kamuu.

Pak, selain karena ada tawaran baru, kadang-kadang masyarakat yang jauh kadang mengelu soal angkutan. Bagaimana Bapak melihat hal ini?

Untuk mempertahankan usaha kopi itu, saya sudah usulkan ke pemerintah Dogiyai untuk harus ada kendaraan khusus mengangkut kopi di tiap distrik, agar masyarakat tidak lagi datang jual di sini (Moanemani). Biar pemerintah beli di masyarakat langsung di tempat.

Apakah ada kekhatiran khusus bagi generasi muda dan kopi di Dogiyai?

Paling utama yang generasi muda tidak dipahami itu “kerja yang dengan muda kita mendapatkan uang itu, sangat muda juga kerja itu akan pergi”. Kita tidak mempunyai pekerjaan yang tetap.

Generasi muda sekarang itu lebih suka pada pekerjaan yang instan saja. Generasi muda harus ingat itu, pekerjaan instan akan melahirkan generasi bermental instan juga. Kalau kita bekerja pada sesuatu yang pekerjaannya yang membutuhkan waktu itu, akan ada hasil yang memuaskan. Untuk mencapai hasil yang memuaskan ‘kan harus bayar dengan harga yang mahal.

Bapak itu salah satu figur masyarakat di sini. Banyak masyarakat menginginkan Bapak harus menjadi kepala dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan (PPP). Bagaimana?

Saya secara pribadi suka apa adanya. Kalau masyarakat nilai saya begitu, itu terserah mereka. Saya suka yang ada ini hahahahahaha. Kalau saya dipanggil dari pemerintah untuk memberikan ide saya, saya siap berikan tetapi saya tidak suka masuk dalam sistim.

Kalau saya masuk dalam sistim, saya naik dalam mobil dan saya akan lupa dengan apa  yang saya kerjakan di kebun atau  di dalam lumpur, lebih baik saya jadi apa adanya.

Misalnya, kalau kalau uang datang atas nama kopi, kami berterimakasih tetapi yang saya lihat sekarang uang kebanyakan lari ke CV dan PT yang menang teori tetapi tidak pernah ada kenyataan kerja di lapangan.

Kami di sini itu Koperasi Kopi. Untuk pengaturan tentang Koperasi padahal sudah diatur dalam UUD 1945. Kita itu cinta miskin tetapi kita tidak cinta orang miskin.

Kalau saya masuk dalam pemerintahan (PPP), saya nanti akan jadi tamu di atas tanah saya sendiri. Lebih baik saya bekerja tanpa nama besar dan tanpa pakaian  dinas. Ada berbagai cara untuk datangkan uang, bukan hanya menjadi PNS saja. (Pilemon Keiya/MS)

Penulis : Pilemon Keiya
Sumber :  Majalahselangkah.com

Sumber dicopy dari: PapuaCoffees.com

Kopi Wamena setara dengan kopi kelas dunia

Blue Mountains coffee adalah salah satu kopi terbaik di dunia yang terkenal dengan karakter good acidity, intense aroma, fairly good body, clean. Ditanam di area perbukitan di bagian timur pulau Jamaika bernama Blue Mountains, perpaduan kondisi tanah, curah hujan, dan temperatur yang sesuai menghasilkan kopi berkualitas tinggi dengan rasa menawan.

Menurut sebuah sumber, Indonesia memiliki daerah penghasil kopi yang kualitasnya setara dengan Blue Mountains Coffee yaitu Wamena di Papua. Hal ini dimungkinkan karena menurut sumber tersebut bibit kopi yang ditanam dari Papua berasal dari Blue Mountains yang dibawa oleh orang Belanda pada jaman kolonial.

Saya tidak begitu peduli pada keabsahan cerita tersebut. Saya sendiri belum pernah mencoba merasakan kopi dari Blue Mountains, namun buat saya kopi Papua Wamena adalah kopi terfavorit. Entah apakah kopi ini bisa mewakili rasa Blue Mountains coffee yang legendaris itu atau tidak.

Salah satu kedai kopi tempat saya mampir untuk menikmati Papua Wamena adalah Rumakopi di Jl. Suryo 20 lt. 2, Jaksel. Beda kedai kopi bisa beda rasa Wamena-nya. Dan Rumakopi menyajikan rasa kopi Papua Wamena yang pas untuk saya

Sumber : tukangkopi.com