Kopi Baliem Primadona Pengunjung FDS 2016

Kopi Papua
Yusuf sedang memberikan secangkir kopi kepada pembeli Baliem Blue Coffee, Kamis (23/06/2016) – Jubi/Abeth You
Jayapura, Jubi – Kopi Baliem alias Baliem Blue Cofee menjadi primadona pengunjung Festival Danau Sentani (FDS) di Khalkote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, 19 – 23 Juni 2016.

Pemilik stan kopi baliem Yusuf Gombo mengatakan banyak pengunjung yang berminat dengan kopi Papua asli Wamena ini. “Kalau per gelas kami jual seharga Rp. 5.000, tapi kalau dalam bungkusan harganya berbeda-beda,” katanya kepada Jubi di Khalkote, Kamis (23/6/2016).

Dikatakan, selama berlangsungnya FDS tersebut banyak pengunjung yang sengaja datang ke tempat itu untuk mencicipi kopi yang telah diekspor ke benua Amerika dan negara-negara Asia itu.

Selama kegiatan tersebut, sudah banyak yang laku habis kurang lebih 1.000 bungkus kopi mulai dari ukuran sedang dan besar, yang terutama laku. “Khusus yang ada dalam bungkusan, harganya cukup terjangkau mulai dari Rp20.000 sampai Rp 300.000 per gelas,” katanya.

“Jadi, para pengunjung inni selain mencicipi segelas kopi, juga banyak yang membeli kemasan kopi. Rata-rata pengunjung yang datang mengatakan Baliem Blue Coffee memiliki cita rasa tersendiri. Segelas kopi kami hargai Rp. 5.000, dan itu pun mereka harus antre untuk membelinya,” katanya.

Salah satu pembeli kopi Wamena, Aluisius mengatakan, aroma kopi yang sedap membuat dirinya terus membeli selama festival ini berlangsung. “Bukan soal kopinya, tapi dia punya aroma sedap itu membuat saya ingin terus beli,” katanya.

Menurutnya, selain membeli segelas kopi untuk mencicipi di tempat kegiatan, dirinya juga membeli dua bungkus kopi dengan harga yang berbeda, yakni satu bungkus Rp. 20.000 dan Rp. 50.000. (*)

Kioson.com, PAPUAmart.com dan Bisnis Kopi Papua

Atas kerjasama yang telah dirintis oleh Kepala Unit Sales dan Marketing KSU Baliem Arbaica, Jhon Yonathan Kwano, dengan merintis sebuah bisnis Online, Offline dan Barter Produk Spesialti, maka pada tanggal 27 Januari 2016 telahd iserahkan sebanyak sepuluh (10) unit Usaha atau Paket Kios Online yang dalam minggu ini akan segera di implementasikan ke dalam sistem jaringan minimarket PAPUAmart.com dan Kios-Kios KKLingkar.com milik KSU Baliem Arabica yang telah tersebar di berbagai tempat di seluruh Tanah Papua.

Menurut Jhon Kwano, dengan kerjasama yang strategis ini, penjualan Kopi Papua ke depan tidak perlu dilakukan seperti sediakala, dengan membanngun titik distribusi kopi di Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Jawa Barat, dan sejenisnya. Kopi Papua juga tidak perlu memikirkan lagi membangun jaringan bisnis dengan reseller atau agen Kopi Papua. Katanya,

Semua produk PAPUAmart.com diharapkan akan masuk ke dalam jaringan Toko Online dari Kios Online, sebuah startup yang baru saja diluncurkan pada bulan Mei 2015, yaitu waktu yang sama dengan pembukaan minimarket PAPUAmart.com di Jalan Raya Sentani, Hawai No. 05. Kedua startup diluncurkan pada waktu yang sama, dan keduanya memberikan solusi kepada masalah yang sama, itu soal isolasi, transportasi dan jaringan komunikasi dengan menghadirkan barang-barang kebutuhan pembeli alngsung ke kios-kios dan minimarket yang bisa langsung didatangi oleh konsumen.

Atas kerjasama Kios On dan PAPUAmart.com ini, maka selanjutnya kami bersedia memberikan pelayanan keapda masyarakat Papua untuk membeli barang-barang yang dijual di mana saja di seluruh Indonesia, dan pada saat yang sama, orang Papua dapa tmenjual barang produk mereka kepada siapa saja di seluruh Indonesia.

SPEKTRUM: Surga Kopi Ada Di Sini

Anggi Oktarinda  Jum’at, 24/04/2015 05:12 WIB

Indonesia mendapat julukan baru, Surga Kopi Dunia atau The World Coffee Heaven. Julukan itu disematkan kepada Indonesia pada acara ekshibisi ke-27 Specialty Coffee Association of America di Seattle, Amerika Serikat, pada 9—12 April 2015.

Sebutan yang sangat istimewa dan tentu saja tidak sembarangan. Apalagi, SCAA adalah tempat berkumpulnya komunitas kopi khusus paling besar dan berpengaruh di Negeri Paman Sam serta dunia. Sejak didirikan pada 1982, asosiasi ini telah memiliki jaringan anggota yang tersebar di 40 negara.

Di sisi lain, AS termasuk salah satu pangsa pasar utama kopi Indonesia. Data statistik Biro Sensus Departemen Perdagangan AS menyebutkan impor kopi AS dari Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai US$323,10 juta. Nilai impor itu meningkat US$32,76 juta atau 11,29% dibandingkan dengan 2013 sebanyak US$290,34 juta.

Komunitas kopi khusus itu menyematkan julukan Surga Kopi Dunia setelah melihat varian kopi dari Indonesia. Pada ekshibisi itu, Indonesia berhasil memikat komunitas dengan sajian 39 varian kopi khusus terbaik dari berbagai tempat di Tanah Air.

Kopi-kopi ini disajikan di Indonesian Café di Paviliun Indonesia setiap hari selama acara SCAA berlangsung. Mereka antara lain Flores Arabica Manggarai, West Java Arabica Preanger ‘Malabar Moun tain’, Sulawesi Arabica Toraja ‘Toarco-PB’, Sumatra Arabica Wahana Natural, Flores Arabica ‘Blue Flores’, Bali Arabica ‘Kintamani Natural’, Sumatra Arabica ‘Lintong Boemi Coffee’, Sumatra Arabica ‘Solok Minang’, dan Sumatra Arabica Gayo ‘Retro’.

Selain kopi, pada acara itu pula Indonesia memutar Aroma of Heaven, sebuah film dokumenter besutan sutradara Budi Kurniawan yang mengisahkan tentang perjalanan kopi Nusantara.

Adegan petani kopi di Takengon, dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, membuka film berdurasi 3 menit 45 detik itu. Sang sutradara pun membawa penonton ke Flores untuk menyaksikan kopi bajawa.

Terlihat bagaimana tanaman kopi tumbuh di berbagai tempat dengan kebudayaan berbeda, dan bagaimana para petani mencintai komoditas yang ditanamnya.

Siapa yang tidak kenal kopi, si “emas hitam” yang beraroma wangi dan menggugah selera ini? Kopi pertama kali dibawa ke Nusantara oleh kongsi dagang Be landa, VOC pada pertengahan abad ke-16.

Sejak itu, penduduk di negeri ini membudidayakan kopi sehingga tersebar ke berbagai wilayah. Mulai dari Aceh, Toraja, Flores, Jawa, hingga Papua.

Di negeri ini, setiap wilayah berbeda menghasilkan kopi dengan karakteristik berbeda pula, baik dari sisi tingkat keasaman aroma dan cita rasa. Rasa dan aroma kopi di dataran tinggi Gayo, misalnya, tidak akan sama dengan rasa dan aroma kopi Kintamani.

Karakteristik kopi Toraja juga tidak sama dengan karakteristik kopi Jawa. Belum lagi kehadiran kopi unik yang menjadi kopi paling mahal di dunia,
yakni kopi luwak.

Keunikan dan kekayaan inilah yang menjadi nilai tambah Indonesia saat mengekspor dan memperkenalkan biji kopinya kepada dunia. Baik kopi jenis robusta maupun arabika asal negeri ini selalu mengalami kenaikan permintaan.

Total ekspor kopi dari Indonesia pada 2014 mencapai US$1,1 miliar. Pemerintah menargetkan nilainya dapat tumbuh tiga kali lipat menjadi US$3,3 miliar pada 2019. Sebuah target yang patut di apresiasi, meskipun bukan hal mustahil.

Apalagi, mengingat realisasi ekspor kopi nasional sepanjang 2008—2013 yang berfluktuasi dari angka US$1,08 miliar (2008), turun menjadi US$929,82 juta (2009), naik kembali ke angka US$983,99 (2010), dan sempat bertengger pada angka US$1,56 miliar (2012).

Hanya saja, yang perlu mendapatkan perhatian adalah, kopi yang bagaimana dan dalam bentuk apa yang akan menjadi andalan ekspor? Apakah dalam bentuk mentah seperti yang sudah-sudah? Ataukah dalam bentuk produk bernilai tambah lebih, seperti biji yang sudah dipanggang
atau bahkan kopi bubuk?

Kemudian, apakah semua kopi dengan kualitas terbaik yang akan dilempar ke pasar luar? Sementara itu, hanya sedikit kopi berkualitas top yang disisakan untuk konsumsi pecinta kopi di dalam negeri?

Jangan lupakan, selain masyarakat global, kopi Indonesia juga digemari pecinta kopi di tataran nasional. Terbukti dari tingkat konsumsi kopi nasional yang terus tumbuh dari 0,8 kg per kapita per tahun pada 2010 menjadi 1,03 kg per kapita per tahun pada 2014.

Pada tahun depan, tingkat konsumsi kopi nasional diperkirakan menyentuh 1,1 kg per kapita. Tentu, sebuah ironi apabila penduduk Surga Kopi Dunia ini tidak dapat mencecapi kopi berkualitas terbaik di negeri sen diri karena sudah habis untuk diekspor.

Menikmati Kopi Papua Diiringi Musik Jazz

JIKA Anda penikmat kopi dan penggemar musik jazz, datanglah ke kafe Intro Jazz di BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Di kafe ini, setiap Jumat malam dan Sabtu malam, pengunjung dapat menikmati pertunjukan musik jazz yang dimainkan berbagai komunitas dan grup jazz berganti-ganti.

Sabtu (4/10/2014) malam lalu, grup jazz yang terdiri dari Cendy Luntungan, Aga Hamzah, Happy Pretty, dan Gomez tampil di tempat ini. Malam itu mereka membawakan lagu-lagu di antaranya “As Time Goes By” dan “Just The Two of Us”.

Kehadiran kafe khusus jazz yang dibuka satu pekan sebelum Hari Raya Idul Fitri tahun ini, tentu saja disambut gembira oleh penggemar jazz. “Sudah lama saya mencari kafe khusus jazz. Saya gembira menemukan kafe ini,” kata Andin, seorang pecinta musik jazz. Andy Noya, “host” program Kick Andy di Metro TV juga pelanggan tetap kafe ini.

Direktur Operasi Intro Jazz Cafe & Bistro, Ivan Tanuwijaya, mengungkapkan, dia dan 12 mitra pemilik kafe ini memilih konsep kafe jazz karena bertujuan ingin memajukan jazz di Indonesia.

“Kami tahu ini tidak mudah karena jazz bukanlah musik sehari-hari yang disukai banyak orang. Biasanya kafe jazz tidak tahan lama dan terpengaruh musik lain. Tapi kami yakin kafe jazz di Serpong ini akan berkembang,” cerita Ivan. Di Serpong sendiri, sudah berkembang komunitas jazz BSD.

Pada awalnya Ivan dan kawan-kawannya hanya ingin menyediakan kopi. Tetapi kemudian mereka berpikir perlu menyediakan juga mocktail dan makanan. Yang menarik, semua kopi yang disediakan di Intro Jazz berasal dari Papua. “Kami menggunakan kopi Papua karena ingin mempromosikan Papua sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani kopi Papua. Selain itu, kopi Papua lebih organik, rasanya fruity, dan diambil langsung dari hutan,” jelas Ivan.

Ivan yang menyelesaikan kuliah di Amerika Serikat dan bekerja di sana selama 12 tahun itu, bermimpi, suatu hari Intro Jazz menjadi basecamppemain-pemain jazz di Indonesia, seperti klub-klub jazz Blue Note di Tokyo, Jepang, atau Baked Potato di Los Angeles, Amerika Serikat. “Ada rasa bangga bila bermain di klub jazz itu. Kami berharap siatu hari Intro Jazz mencapai itu,” ungkap Ivan.

Dia juga merencanakan mengajak pemain jazz internasional bermain di Intro Jazz agar menjadi bagian edukasi bagi pemain-pemain jazz Indonesia.

Atmosfer Kafe Intro Jazz seperti gudang, tak ada pembatas dan plafon. Yang ada hanya foto-foto para pemain jazz terkenal yang dipajang di sekeliling kafe yang dipinjamkan jazzer Ireng Maulana. Foto-foto pemain jazz dunia itu mulai dari George Benson, Al Green, Wynton Marsalis, Herbie Hancock, Candy Dulfer, Pat Metheny, John Scofield, sampai Miles Davis.

Makanan

Suasana nge-jazz di kafe ini diimbangi dengan makanan yang disajikan, kombinasi makanan Indonesia dan barat. Salah satu yang terkenal adalah Fat Man Burger 750 gram. Burger setebal itu biasanya dihabiskan oleh empat sampai delapan orang. Makanan barat lainnya yang digemari tamu yaitu Sirloin. Daging empuk ini diimpor khusus dari Amerika Serikat.

Adapun makanan Indonesia yang dicari pengunjung adalah ayam panggang madu dan mi tek-tek. Makanan-makanan ini hasil racikan chef yang “dibajak” dari sebuah hotel bintang empat di Jakarta.

Meskipun masih baru, kafe ini sudah menjadi tempat nongkrong dan hang-out para mahasiswa di kawasan Serpong, mulai dari Swiss German University, Universitas Multimedia Nusantara, sampai Universitas Pelita Harapan. “Keunggulan kami adalah akses internet yang cepat,” kata Ivan.

Intro Jazz Cafe & Bistro berlokasi di kawasan CBD BSD, di antara McDonald’s dan Lembur Kuring, di belakang Giant BSD. Akses ke BSD saat ini makin cepat dan mudah setelah jalan tol JORR W2 beroperasi. Penggemar jazz dari Tangerang, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Bekasi, lebih cepat mencapai lokasi ini.

Penulis : R. Adhi Kusumaputra
Editor : I Made Asdhiana

Rabu, 8 Oktober 2014 | 09:41 WIB, Travel.Kopmas.com 

Dicopy Uland Dari PAPUACoffees.com

Penawaran Kopi dengan Harga Spesial berakhir per 17 Agustus 2014

Dengan ini diberitahukan kepada seluruh pelanggan Kopi Papua, secara khusus pelanggan KSU Baliem Arabica bahwa produk yang tersedia dan ditawarkan kepada pembeli di seluruh dunia sebagai “Penawaran Spesial, dengan Harga Spesial, bagi Pembeli Spesial” musim panen 2014 tahap perdana telah berakhir, lebih cepat daripada waktu yang telah ditargetkan KSU Blaiem Arabica, yaitu selama sebulan.

Sebagaimana dilansir oleh Situs Resmi KSU Baliem Arabica dengan judul “Penawaran Khusus Panen Perdana 2014 Berakhir” ini menandakan penawaran tahap pertama untuk musim panen tahun ini telah berakhir.

Diharapkan agar pada bulan ini atau bulan depan sudah dilakukan penawaran tahap kedua, tetapi kabar penawaran tahap kedua itu memang ada atau tidak, dan kalau ada kapan akan ditawarkan kepada pembeli di seluruh dunia juga belum diberitakan dari kantor KSU Baliem Arabica.

Dari catatan di situs Koperasi terlihat akan terjadi penambahan sumber “single origin’ dari kopi Papua, akan tetapi waktu penambahan kopi single origins lainnya seperti

  • Kopi Moanemani
  • Kopi Dogiyai
  • Kopi Goroka
  • Kopoi Deiyai
  • Kopi Arfak, dan
  • Kopi Hagen

belum jelas kapan akan ada persediaannya karena berdasarkan komunikasi dari situs ini, Ketua Koperasi Baliem Arabica menyatakan tidak dapat memastikan dengan tepat kapan ketersediaan kopi-kopi lain itu sudah ada di Gudang Produksi KSU Baliem Arabica di Jayapura, Papua.

Kisah Unik Kopi Senang dari Sorong, Papua

Penjualan Kopi Papua di Sorong
Penjualan Kopi Papua di Sorong

Sorong – Ada yang menarik dari Sorong, Papua Barat. Di sana, ada kopi yang bernama cukup unik yaitu Kopi Senang. Seperti apa kopi tersebut, ini kisahnya!

Lain timur lain barat. Di Aceh, masyarakat dan wisatawan pada umumnya suka berkumpul sambil minum kopi. Itu sebabnya, di Indonesia bagian barat ini, banyak warung kopi yang mudah ditemukan di tepi jalan.

Kondisi tersebut kontras dengan Kota Sorong yang ada di Indonesia bagian timur. Hampir di sepanjang jalan yang ada di kota, jarang terlihat kedai kopi. Satu-satunya warung kopi yang terlihat adalah Phoenam, cabang dari Makassar.

Minum kopi sambil ngobrol berjam-jam mungkin belum sepenuhnya jadi budaya kuliner masyarakat di pulau Kepala Burung ini. Tapi saya penasaran untuk mencicipi kopi setempat. Hampir semua yang saya tanya merekomendasikan Kopi Senang yang memang populer.

Maka bertandanglah detikTravel bersama rombongan dari Kemenparekraf ke rumah produksi sekaligus pemasaran Kopi Senang pada pekan lalu. Perjalanannya hanya sekitar 15 menit dari Hotel Mariatt di pusat kota. Begitu tiba di pintu gerbang bangunan tiga tingkat itu, kami disambut aroma kopi yang sedap.

“Di Sorong hanya ada kami satu-satunya produsen kopi,” kata pemilik Kopi Senang, Pak Budi yang berumur 53 tahun.

Melihat ada potensi bisnis, pria Tionghoa asal Padang ini mulai mendirikan rumah pengolahan kopinya pada tahun 1985. Sorong bukanlah wilayah penghasil kopi. Bahkan, hampir tak ada perkebunan kopi di daerah ini. Tapi Budi tak habis pikir dan memutar otak untuk mencari biji kopi. Dia berkeliling “mengimpor” kopi Robusta dari berbagai daerah yang memang terkenal punya kopi enak.

“Sorong tak ada kopi, jadi kita keliling cari kopi. Mulai dari Sulawesi, Sumatera Utara, Lampung, sampai Manokwari. Kita ambil biji mentah kualitas ekspor lalu mengolahnya di sini,” lanjut Budi saat ditemui di kantor sekaligus kediamannya.

Perpaduan biji kopi dari berbagai daerah membuat aroma kopinya sungguh harum. Namun menurut beberapa penikmat kopi, citarasa kopi Senang masih kalah dibanding dengan hasil racikan biji kopi yang tumbuh di Papua seperti kopi Moanemani, Pogapa, dan Amungme Gold.

Meski begitu, kerja keras Budi tak sia-sia. Sasarannya sejak awal memang ingin memasyarakatkan budaya ngopi di Papua Barat, sekaligus membidik pasar wisatawan. Kopinya kini tenar di kalangan masyarakat Papua, bahkan hingga ke pedalaman dan pesisir.

“Pasar kita Sorong, Papua dan sekitarnya. Tapi kopi kita juga sampai ke Sumatera dan Jawa sebagai oleh-oleh khas,” ujarnya.

Lalu kenapa namanya ‘Senang’? Sambil terkekeh, Budi mengatakan nama tersebut punya cerita tersendiri. Saat memutuskan merantau ke Papua Barat, Budi dan istrinya ingin berbisnis kopi. Mereka lalu bercerita kepada orangtua mereka.

“Orangtua saya cuma bilang, ‘oke bisnis kopi itu bagus juga, semoga bisa bikin senang ya’. Saat mau memberi nama merek, saya terpikir untuk membuat ‘Senang’ karena mudah diingat. Sekarang memang kopi ini bikin kami senang dan orang yang meminumnya pun mudah-mudahan bisa senang,” ujarnya sambil memasukkan kopi pesanan kami ke dalam boks karton.

Sayangnya, Budi belum menyediakan kafe atau kedai di tokonya. Dalam waktu dekat dia berencana mendirikan warung tempat para wisatawan bisa bersenang-senang menikmati Kopi Senang. Kita lihat saja nanti.

Sumber Berita: travel.detik.com/read/2013/10/07/091902/2379498/1519/2/kisah-unik-kopi-senang-dari-sorong-papua

Sumber Cerita: PAPUACoffees.com