Pemkab Tana Toraja Bantu Petani Kopi Papua

RAKYATKU.COM, TORAJA – Pemerintah Provinsi Papua kembali mengirim puluhan petani kopi untuk magang budidaya juga cara pengolahan kopi di Tana Toraja, selama dua pekan.

Upaya pemerintah Papua ini guna meningkatkan kualitas komoditas kopi, berikut turunnnya di tiga kabupaten yang masuk dalam wilayah adat MEE-PAGO di Papua.

Kepala Badan Percepatan Pembangunan Kawasan Papua, Omah Laduani Ladamai mengatakan potensi komoditas kopi Papua sangat menjanjikan. Namun pihaknya banyak menemukan kendala untuk pengembangan.

“Masalah aksesbilitas warga dan pengelolaan kopi yang masih sangat tradisional adalah beberapa kendala yang kami hadapi di Papua. Kendala lain terbatasnya market untuk kopi Papua. Kami memilih Toraja sebab komoditas kopinya mendunia,” ujarnya kepada Rakyatku.com, Sabtu (5/11/2016).

Dia menjelaskan luas tanaman kopi di wilayah adat MEE-PAGO ada 9000 hektar. Namun, hasil produksi selama ini tidak sebanding dengan luas tanaman kopi yang dikelola petani di Papua. Dalam satu tahun, produksi kopi hanya 200-300 kilogram.

Kata Omah, di tempatnya, mereka tidak memiliki pusat pembibitan alhasil bibit kopi yang selama ini ditanam petani bibit yang tidak sertivikasi. Selain persoalan bibit, petani Papua juga masih kurang pengetahuan budidaya kopi, serta tenaga pendamping penyuluh juga minim.

“Sekian puluhan tahun tidak ada pembinaan yang bagus. Pengelolalan kopi dilakukan asal-asalan. Setelah menanam kurang pemeliharaan. Nah inilah yang akan dirubah. Kami harapkan petani pilhan ini sebagai perintis yang nantinya membimbing petani lainnya sekaligus sebagai penyuluh,” jelasnya.

Sekretaris Daerah Tana Toraja Enos Karoma mengapresiasi langkah Pemerintah Papua. Pemerintah Kabupaten Tana Toraja kata Enos akan melibatkan seluruh stakeholder untuk membantu para petani kopi Papua.

“Magang kita pusatkan di Kecamatan Gandasil bersama kelompok petani kopi setempat. Di sana mereka akan melihat dan bisa merasakan langsung cara petani kita mengelola kopi. Nanti juga kita akan ajak mereka ke Pabeik kopi PT Sulutco. Intinya kita maksimal bantu,” pungkasnya.

Kerja Keras Petani Kopi Papua Maximus Lani

Dua tahun lalu, Maksimus Lani mampir ke sebuah kedai kopi modern di Jakarta. Ia memesan secangkir kopi arabika wamena. Ia kaget bukan kepalang begitu tahu harga secangkir kopi wamena mencapai Rp 100.000.

KOMPAS/FABIO M LOPES COSTA
Dari pengalaman di Jakarta, Maksimus sadar bahwa kopi yang ditanam di Lembah Baliem, Pegunungan Tengah Papua, itu punya nilai ekonomi tinggi. Ia senang mengetahui hal itu, tapi pada saat bersamaan ia merasa miris. Pasalnya, ia tahu perkebunan kopi arabika di Pegunungan Tengah belum dimanfaatkan secara maksimal.

Ketika berkunjung ke sejumlah daerah perkebunan kopi di Kabupaten Jayawijaya dan Yahukimo beberapa tahun lalu, ia melihat banyak petani membiarkan biji-biji kopi yang ranum perlahan membusuk di pohon. Itu terjadi karena harga kopi di tingkat petani sangat rendah.

Tengkulak hanya mau membayar Rp 5.000-Rp 10.000 per kilogram. Akibatnya, petani tidak bergairah membudidayakan kopi secara serius. Mereka pasrah pada alam yang berbaik hati memberikan kopi serta tengkulak yang mematok harga rendah.

Maksimus merasa bisa mengubah keadaan itu. Ia memiliki pengalaman menjadi petani kopi di Walesi, Kabupaten Jayawijaya, sejak 1997. Ia juga pernah mengikut program magang mengelola kopi di Jember, Jawa Timur, pada September 2010 yang digelar oleh Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Saat itu, ia belajar mulai dari cara menanam, mengolah biji kopi pasca panen, hingga mengemas biji kopi yang akan dijual.

Laki-laki yang semula bertani sayur, ubi, dan beternak babi itu akhirnya mengambil inisiatif untuk menularkan pengetahuannya kepada petani kopi di Pegunungan Tengah Papua sejak Januari 2014. Melalui para tetua adat, ia temui para petani di sentra-sentra perkebunan kopi.

Pertama-tama, ia menyadarkan petani bahwa kopi arabika dari Pegunungan Tengah Papua punya nilai ekonomi tinggi sehingga mesti dikembangkan untuk kesejahteraan petani. Berikutnya, ia mengajarkan dasar-dasar pengolahan biji kopi arabika mulai dari pengupasan kulit, penjemuran, hingga proses fermentasi biji kopi dan pengemasan.

“Biasanya proses penjemuran biji kopi memakan waktu hingga sepekan karena cuaca di wilayah ini sejuk. Tetapi, proses fermentasi biji kopi hanya memakan waktu sehari,” papar Maksimus yang ditemui di Okesa, sekitar 20 kilometer dari Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, pertengahan Agustus lalu.

Nekat

Perlahan tapi pasti, kegairahan petani untuk memproduksi kopi muncul. Sejak pertengahan 2014, mereka giat merawat perkebunan kopi yang ada di Lembah Baliem pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut di tengah udara yang sejuk. Lingkungan seperti ini menghasilkan kopi beraroma kuat dan harum.

Persoalan berikutnya adalah siapa yang mau membeli kopi petani dengan harga lebih tinggi daripada yang ditawarkan tengkulak? Maksimus dengan setengah nekat bersedia membeli kopi petani. Ia menawarkan harga Rp 30.000-Rp 40.000 per kilogram biji kopi, bergantung pada kadar airnya. Harga itu 3-5 kali lipat harga yang dipatok tengkulak. Pembelian dilakukan melalui Koperasi Okesa yang didirikan Maksimus dengan bantuan modal dari Pemerintah Kabupaten Jayawijaya. Saat ini, jumlah anggotanya sekitar 500 petani.

Mendapatkan harga yang tinggi, petani semakin giat mengembangkan kopi. Dari anggota Koperasi Okesa, Maksimus bisa mendapatkan 20 ton biji kopi kering per tahun dari perkebunan kopi seluas 272 hektar. Perkebunan itu terdiri dari 152 hektar di Jayawijaya serta 120 hektar di Tangma dan Kurima yang masuk wilayah Kabupaten Yahukimo.

Dengan setoran kopi sebanyak itu, Maksimus mesti bekerja keras memasarkan lagi kopi yang dibeli dari petani ke distributor dan pabrik pengolahan kopi. Ia terbang ke Jayapura, ibu kota Papua, membawa sampel kopi untuk ditawarkan kepada PT Garuda Mas. Ia juga menemui pengurus Koperasi Kopi Amungme bernama Arnold di Kabupaten Mimika.

“Saya hanya modal nekat memasarkan biji kopi milik petani di Jayapura dan Timika (ibu kota Kabupaten Mimika). Puji Tuhan, usaha saya berhasil,” ujar Maksimus.

Ia menjual biji kopi kepada pembeli di Jayapura seharga Rp 70.000 per kilogram dan di Timika seharga Rp 80.000 per kilogram. Harga penjualan masih tinggi karena biaya angkut kopi dengan pesawat dari Wamena cukup mahal.

Meski begitu, permintaan kopi dari Pegunungan Tengah, yang di pasar sering disebut kopi wamena, terus mengalir. Dalam satu pengiriman, Maksimus bisa memasok 1 ton-2 ton kopi ke Jayapura dan Timika.

Di Jayapura, satu kemasan biji kopi arabika seberat 250 gram dijual pedagang Rp 70.000. Setelah masuk ke kota-kota besar lain, seperti Jakarta, harganya lebih tinggi lagi.

Buah kerja keras

Kini petani kopi di Pegunungan Tengah Papua bisa tersenyum. Pada masa panen raya kopi yang berlangsung Juni-Agustus dan November-Desember, petani semakin rajin mendatangi Koperasi Okesa untuk menyetor biji kopi. Mereka berasal dari tujuh sentra perkebunan kopi di Jayawijaya, yakni Jagara, Piramid, Hubi Kosi, Muliama, Kurulu, Jalengga, dan Pugima, serta dua distrik di Kabupaten Yahukimo, yakni Tangma dan Kurima.

Kamis pagi, pertengahan Agustus lalu, terlihat 20 petani daerah Tangma dan Kurima datang ke kantor Koperasi Okesa yang terletak di Kampung Jagara, Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya. Petani masing-masing membawa dua karung biji kopi kering. Mereka disambut oleh dua pegawai koperasi yang segera menimbang biji kopi kering yang mereka bawa.

Saat itu juga, Maksimus membayar biji kopi yang dijual anggota koperasi. Hari itu, para petani bisa membawa pulang uang Rp 800.000. Dengan wajah gembira, mereka meninggalkan kantor Koperasi Okesa menuju Wamena untuk membeli berbagai kebutuhan pokok.

Ketika mereka sibuk berbelanja, Maksimus dan pegawai koperasi sibuk mengolah biji kopi yang baru tiba. Mereka mengupas kulit tanduk kopi dengan menggunakan alat khusus yang biasa disebut huller. Setelah itu, mereka memilah biji kopi berkualitas baik.

Begitulah rutinitas Maksimus beberapa tahun terakhir. Berkat kengototannya mengembangkan kopi Pegunungan Tengah, banyak petani yang mulai meningkat taraf hidupnya. Mereka tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga membiayai anak-anaknya sekolah.

Namun, Maksimus masih belum puas. “Saya ingin petani tak hanya memasok bahan baku. Suatu hari, kami mesti memiliki industri pengolahan kopi sendiri sehingga bisa mendapat keuntungan yang layak,” tutur ayah tujuh anak ini.

Sekolah Barista Anak Petani Kopi Papua

republica.co 0 Awalnya, seorang pengusaha kopi di Papua, Pieter Tan, mengaku sulit menemukan seorang peracik seduhan kopi atau barista di bumi Cenderawasih tersebut. Atas dasar kesulitan tersebut, Pieter pun membuka sekolah barista.

Namun, sekolah barista ini diperuntukan anak-anak petani kopi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua. “Sekolah barista saya prioritaskan untuk anak-anak petani kopi di Wamena. Untuk anak-anak petani Wamena, biayanya gratis dan saya sudah siapkan tempat penginapan mereka. Jadi, memang hanya anak-anak yang terpilih yang bisa belajar di sini,” ujarnya di Jayapura, Ahad (21/8).

Ia melihat ini sebagai peluang untuk memberdayakan putra-putri asli Papua. Ia pun mengaku banyak memiliki rekanan hotel di Papua. Sehingga, jika anak-anak tersebut sudah mampu menjadi barista, bisa diarahkan untuk bekerja di hotel.

Selain itu, ia menjelaskan, di Wamena para petani sudah berumur di atas 50 tahun. Karenanya, ia pun mendirikan sekolah tersebut agar ke depan ada yang mau meneruskan untuk menjadi petani kopi.

Tujuan lain ia membuat sekolah ini agar anak-anak Wamena bisa tertarik dan belajar kopi, dan ternyata di dalamnya banyak hal baru yang menyenangkan. Dengan kopi ini, pemuda-pemudi Papua bisa menghasilkan uang.

Pieter pun menyebut bahwa proses pengajaran belum berjalan karena para pemuda di Wamena, baru saja selesai menyelenggarakan Festival Lembah Baliem. “Saya belum buka pendaftaran karena masih tunggu pemuda dari Wamena. Siswa per kelas enam orang, sementara saya buka satu kelas dulu. Di sini kita lebih mengajarkan pengetahuan tentang kopi dan bagaimana mengesktraksinya, baik dengan mesin maupun alat manual,” katanya lagi.

Dia menegaskan, ia akan memilih secara ketat siapa saja yang nantinya bisa bersekolah di tempatnya karena untuk menyiapkan hal tersebut diperlukan dana yang cukup besar. “Terus terang saya siapkan ini biayanya tidak murah dan semua gratis. Jadi, saya hanya mau mengajar untuk anak-anak yang memang serius mau belajar kopi. Mereka akan belajar kurang lebih satu bulan dan mereka bisa langsung latihan di Pit’s Corner,” kata Pieter.

Indonesia, menurut Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), berpeluang memenuhi kebutuhan kopi dunia yang permintaannya terus meningkat. Wakil Ketua AEKI Jawa Tengah Mulyono Susilo di Semarang, mengatakan, permintaan kopi dari pasar-pasar ekspor yang biasa, seperti Jepang, Amerika Serikat, Eropa Barat, Italia, dan Spanyol masih stabil. Meski demikian, ada beberapa negara yang peminum kopinya bertambah banyak.

Beberapa negara dengan banyak peminum kopi, di antaranya Korea, Cina, dan sebagian negara-negara di Eropa Timur. Dia mengatakan, Organisasi Kopi Internasional (ICO) memprediksi, pada 2020 akan terjadi defisit kopi 10 juta karung dengan perhitungan satu karung berisi 60 kilogram (kg) kopi.

“Defisit ini terjadi akibat kenaikan konsumsi di Cina dan negara-negara produsen, seperti Indonesia dan Vietnam. Pertanyaannya 10 juta karung ini dari negara mana. Dalam hal ini, Indonesia ada kesempatan untuk memenuhi kekurangan kopi dunia,” katanya.

Untuk dapat memanfaatkan kesempatan tersebut, saat ini seluruh pihak baik pemerintah, pengusaha atau eksportir, maupun petani harus sama-sama membangun di hulunya. “Kami harapkan hasilnya positif. Harapannya petani-petani muda mau berperan kembali ke perkebunan,” katanya. Selain itu, diharapkan petani bersedia menerima arahan untuk merawat tanaman agar lebih produktif, salah satunya dengan metode pruning atau pemangkasan.

Hanya saja, menurut dia, asosiasi memprediksi volume panen kopi pada 2016 turun hingga hampir 50 persen. “Jika volume panen tahun lalu sekitar 23 ribu ton, untuk tahun ini prediksi saya di kisaran 14 ribu ton,” kata dia. Secara nasional, jika pada tahun lalu panen kopi mencapai 11,5 juta karung, untuk tahun ini diprediksi hanya sekitar 9 juta-9,5 juta karung dengan perhitungan satu karung berisi 60 kg kopi.

Menurut dia, penurunan tersebut akibat El Nino yang terjadi pada tahun lalu. Musim pembungaan kopi yang biasa terjadi pada September mengalami kemunduran akibat hujan baru mulai turun pada pertengahan November. “Akibatnya pembungaan menjadi tidak optimal, terutama untuk kopi robusta yang penanamannya di dataran rendah,” katanya. antara, ed: Ichsan Emrald Alamsyah

Pengusaha Kopi Papua Siapkan Generasi Petani Kopi

tirto.idAnak-anak petani kopi di Wamena mendapatkan kesempatan untuk bersekolah barista secara gratis. Rencananya, anak-anak yang terpilih ini akan dibentuk menjadi penerus petani kopi di Wamena.

Adalah Pieter Tan, seorang pengusaha kopi di Papua yang kritis melihat hal ini. Ia menjelaskan bahwa kini di Wamena para petani sudah berumur di atas 50 tahun. Karenanya ia pun mendirikan sekolah tersebut agar ke depan ada yang mau meneruskan untuk menjadi petani kopi.

“Sekolah Barista saya prioritaskan untuk anak-anak petani kopi di Wamena. Untuk anak-anak petani Wamena, biayanya gratis dan saya sudah siapkan tempat penginapan mereka. Jadi memang hanya anak-anak yang terpilih yang bisa belajar di sini,”

ujar Pieter Tan di Jayapura, Minggu.

Pieter mengatakan jika pihaknya khawatir karena minat anak-anak di Papua cenderung untuk menjadi pegawai pemerintahan, jarang sekali yang mau jadi petani.

“Tujuan saya buat sekolah ini supaya anak-anak Wamena mereka bisa tertarik dan belajar kopi, dan ternyata didalamnya banyak hal baru yang menyenangkan. Dengan kopi ini dia bisa menghasilkan uang,”

sambungnya.

Pieter pun menyebut bahwa proses pengajaran belum berjalan karena para pemuda di Wamena, baru saja selesai menyelenggarakan Festival Lembah Baliem.

“Saya belum buka pendaftaran karena masih tunggu pemuda dari Wamena. Siswa perkelas enam orang, sementara saya buka satu kelas dulu. Di sini kita lebih mengajarkan pengetahuan tentang kopi dan bagaimana mengesktraksinya, baik dengan mesin atau dengan alat manual,”

katanya lagi.

Ditegaskannya, ia akan memilih secara ketat siapa saja yang nantinya bisa bersekolah ditempatnya karena untuk menyiapkan hal tersebut diperlukan dana yang cukup besar.

“Terus terang saya siapkan ini biayanya tidak murah dan semua gratis. Jadi saya hanya mau mengajar untuk anak-anak yang memang serius mau belajar kopi. Mereka akan belajar kurang lebih satu bulan dan mereka bisa langsung latihan di Pit’s Corner,”

kata Pieter.

Menurutnya hingga kini masih sulit ditemukan tenaga peracik kopi/barista di Papua, dan hal ini juga yang ia lihat sebagai peluang untuk memberdayakan putra-putri asli Papua.

“Kalau mereka sudah memenuhi syarat saya akan tawarkan mereka ke hotel-hotel yang sudah jadi rekanan kami. Masih sangat sedikit barista di Papua, kebanyakan hotel punya kendala di situ,”

ujarnya.

Mendag Luncurkan Gerakan “Dengan Bangga Menyeduh Kopi Papua”

DOGIYAI, KOMPAS.com – Setelah sukses promosi kopi Indonesia di tingkat global melalui ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016, Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Trikasih Lembong kali ini mengajak pemerhati kopi dan masyarakat dunia untuk lebih dekat dengan kopi Papua melalui Program “Dengan Bangga Menyeduh Kopi Papua”.

Peluncuran program “Dengan Bangga Menyeduh Kopi Papua” dilakukan di Kabupaten Dogiyai, Papua, hari ini (11/6/2016).

Peluncuran ini sekaligus menjadi bagian penting “Gerakan Papua Bekerja dan Unggul” yang merupakan program milik Kelompok Kerja Papua yang mendapat dukungan sepenuhnya oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag).

“Provinsi Papua menyimpan potensi kopi berkelas dunia. Papua menjadi salah satu daerah penghasil kopi di Indonesia yang sangat diminati, selain kopi Gayo, Mandailing, Jawa, Toraja, Sumatra, dan Sulawesi,” kata Tom Lembong, melalui rilis ke Kompas.com.

Data Dinas Perkebunan Provinsi Papua mencatat terdapat 16 petani kopi di Papua yang tersebar di Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, dan Kabupaten Dogiyai.

Mendag menjelaskan, sejumlah pemerhati kopi di Jakarta turut serta dalam kampanye ini. Bersama Pemerintah Pusat, mereka diajak memberikan edukasi mengenai teknik budi daya, pengolahan pascapanen, dan pemasaran.

“Kegiatan pemberdayaan dan edukasi ini bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan petani agar lebih optimal. Kita tahu bahwa konsumen rela membayar mahal untuk kopi yang nikmat, namun sayangnya petani kurang mengetahui harga jual kopi di pasaran,” lanjut Mendag Tom.

Kabupaten Dogiyai memiliki 10 kecamatan yang keseluruhannya menyimpan potensi kopi, namun belum maksimal produksinya. Di kabupaten ini, Mendag melihat dari dekat tahapan produksi kopi dan fasilitas pengeringan, serta proses produksi kopi dari awal hingga akhir.

Saat ini, proses pengolahan kopi di Dogiyai masih tradisional. Mesin-mesin seperti mesin penumbuk yang digunakan pun masih sisa peninggalan Belanda dan belum ada peremajaan.

Proses penjemuran dan pengupasan kulit masih manual, serta kopi disangrai dengan kompor dan ditumbuk.

Perkebunan kopi di Kabupaten Dogiyai merupakan perkebunan peninggalan misionaris Belanda di tahun 1890-an. Pada era tersebut, sebagian besar masyarakat Dogiyai adalah petani kopi.

Seiring perubahan zaman, masyarakat mulai jarang menanam kopi dan beralih profesi menjadi buruh bangunan untuk mendapatkan uang lebih cepat.

Tingkatkan Kesejahteraan Petani Kopi

Sementara itu, Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kemendag Ni Made Ayu Marthini yang ikut dalam acara tersebut menyatakan pentingnya edukasi dan dukungan sarana dan prasarana bagi petani kopi.

“Para petani kopi di Indonesia juga harus mengetahui harga kopi di pasaran agar nilai jualnya tinggi sehingga petani dapat lebih sejahtera,” tuturnya.

Banyak petani kopi lokal yang tidak mengetahui harga jual kopi di pasaran. Harga coffee cherries-nya jarang dibicarakan, padahal banyak petani yang dibayar dalam bentuk buah cherries untuk produk kopinya.

Selain itu, petani juga seharusnya mengetahui bahwa rasio yang dihasilkan pemrosesan coffee cherries menjadi green beans adalah 7 banding 1.

Artinya, 7 kg coffee cherries setelah diproses hanya bisa menghasilkan 1 kg coffee green beans. Harga buah (coffee cherries) dan biji kopi yang dijual oleh para petani kopi saat ini terbilang masih rendah.

Made mencontohkan, di Kabupaten Dogiyai, para petani tidak menjual kopi dalam bentuk cherries atau buah. Kopi yang dijual yaitu dalam bentuk biji yang sudah disangrai atau bubuk dengan harga Rp30.000-35.000/kg.

Sedangkan ada petani di Jawa Barat yang menjual coffee cherries hasil panennya seharga Rp7.000-8.000/kg, atau di bagian Jawa lainnya ada yang menjual coffee cherries hasil panennya Rp6.000-8.000/kg.

“Sudah sepantasnya petani kopi memperoleh harga yang lebih tinggi untuk memberi nilai ekonomi yang baik bagi petani,” jelas Made.

Penulis : Aprillia Ika
Editor : Aprillia Ika

Menteri Perdagangan: Papua Menyimpan Potensi Kopi Berkelas Dunia

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau, Minggu, 12 Juni 2016 17:22 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong meluncurkan program ‘Dengan Bangga Menyeduh Kopi Papua‘ di Kabupaten Dogiyai, Papua.

Program ini diluncurkan setelah sukses mempromosikan kopi Indonesia di tingkat global melalui ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016.

“Provinsi Papua menyimpan potensi kopi berkelas dunia. Papua menjadi salah satu daerah penghasil kopi di Indonesia yang sangat diminati, selain kopi Gayo, Mandailing, Jawa, Toraja, Sumatra, dan Sulawesi,” kata Lembong dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/6/2016).

Dijelaskannya peluncuran tersebut dilakukan sekaligus menjadi bagian penting “Gerakan Papua Bekerja dan Unggul” yang merupakan program milik Kelompok Kerja Papua yang mendapat dukungan penuh Kementerian Perdagangan.

Mendag menjelaskan, sejumlah pemerhati kopi di Jakarta turut serta dalam kampanye ini.

Bersama Pemerintah Pusat, mereka diajak memberikan edukasi mengenai teknik budi daya, pengolahan pascapanen, dan pemasaran.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Papua mencatat terdapat 16 petani kopi di Papua yang tersebar di Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, dan Kabupaten Dogiyai.

Kabupaten Dogiyai memiliki 10 kecamatan yang keseluruhannya menyimpan potensi kopi, namun belum maksimal produksinya.
Di kabupaten ini, Mendag melihat dari dekat tahapan produksi kopi
dan fasilitas pengeringan, serta proses produksi kopi dari awal hingga akhir.

Mendag berharap kopi asli Papua ini menjadi kebanggaan masyarakat Papua dan menjadi komoditas yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat Papua.

Saat ini, proses pengolahan kopi di Dogiyai masih tradisional.
Mesin-mesin seperti mesin penumbuk yang digunakan pun masih sisa peninggalan Belanda dan belum ada peremajaan.

Proses penjemuran dan pengupasan kulit masih manual, serta kopi disangrai dengan kompor dan ditumbuk.

Perkebunan kopi di Kabupaten Dogiyai merupakan perkebunan peninggalan misionaris Belanda di tahun 1890-an.

Pada era tersebut, sebagian besar masyarakat Dogiyai adalah petani kopi.
Seiring perubahan zaman, masyarakat mulai jarang menanam kopi dan beralih profesi menjadi buruh bangunan untuk mendapatkan uang lebih cepat.