PELUANG USAHA: Specialty Coffee Jadi Potensi Pengembangan di Indonesia

Bisnis.com, MEDAN – Kementerian Perdagangan menilai specialty coffee (kopi khusus) menjadi potensi terbesar bagi pengembangan kopi Indonesia. Adapun, tren perdagangan kopi dunia pada saat ini cenderung ke specialty coffee.

Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kementerian Perdagangan Ni Made Ayu Marthini menuturkan saat ini permintaan terhadap specialty coffee terus meningkat. Kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

“Pembelian specialty coffee sedang bergelora. Arahnya memang ke sana. Secara volume memang masih sdikit, dan nilainya justru lebih tinggi. Di Amerika Serikat misalnya, peralihan konsumsi dari non-specialty ke specialty coffee dalam 5 tahun terakhir sudah mencapai 40%. Ini peluang” papar Made, di sela-sela Temu Kopi Sumatra, Rabu (2/11/2016).

Indonesia, lanjutnya, merupakan negara produsen kopi terbesar keempat di dunia. Total produksi mencapai 691.000 ton per tahun. Di atas Indonesia, ada Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Saat ini, terang Made jumlah produksi kopi dunia terus menurun, sementara permintaan semakin banyak.

“Kita harus terus mencari dan update specialty coffee baru. Kami punya pilot project di Pegunungan Tengah, Papua. Selama ini yang terkenal kan kopi dari Wamena. Nah, kami coba fasilitasi kopi hutan di Pegunungan Tengah, sehingga bisa dijual,” tambah Made.

Dia juga mencontohkan saat ini specialty coffee yang tengah diburu yakni dari Sudan Selatan. Indonesia sendiri memiliki potensi ratusan jenis yang bisa menjadi specialty coffee. Saat ini Indonesia baru memiliki 14 kopi yang sudah tersertifikasi Geographical Indications (GI).

Kendati memiliki banyak potensi specialty coffee, para produsen kopi juga diminta terus menjaga mutu. Pasalnya, selama ini meski specialty coffee asal Indonesia banyak dikenal di mancanegara, konsistensi mutu belum sepenuhnya terpenuhi.

Tak hanya itu, persoalan perubahan iklim, ketimpangan kesejahteraan petani, dan strategi promosi juga masih menjadi kendala. Made mengemukakan, saat ini pemerintah mendukung pengembangan bibit kopi yang lebih adatif terhadap perubahan iklim.

Terkait dengan kesejahteraan petani, pemerintah juga terus mencari ekulibrium harga di tingkat konsumen dan petani.

“Untuk promosi, kami punya dua strategi yakni pengembangan story line atau kisah di balik kopi tersebut dan pembuatan tur kopi ke perkebunan. Konsumen kopi masa kini lebih suka jika tahu latar belakang kopi yang dia minum. Petaninya siapa, kehidupannya bagaimana. Ini bisa menaikkan value kopi.”

Kopi Arabika sangat cocok Dikembangkan di Tolikara

MajalanDani.com – Di hari yang sama (Sabtu, 11 Juni 2016), sebelum berangkat ke Kabupaten Dogiyai, Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong didampingi Staf Khusus Presiden Lenis Kogoya terlebih dahulu berkunjung Kabupaten Tolikara. Turut hadir saat itu, Staf Kementerian Perdagangan, Pokja Papua Pemrov Papua, Bank Mandiri serta anggota rombongan lainnya.

Ketika tiba Bandara Karubaga Tolikara, Menteri Thomas dan rombon- gan disambut secara meriah dengan tarian adat nan khas. Hadir pada acara penyambutan, para Muspida di lingkup Pemerintah Kabupaten Tolikara, Tokoh Agama, Tokoh Adat serta ratusan masyarakat. Setelah acara penjemputan langsung digelar acara tatap muka dengan para petani di Aula Kantor Bupati Tolikara di Igari.

Pada acara tatap muka, Menteri Thomas memberikan apresiasi kepada seluruh warga Tolikara atas penyambutan yang sangat meriah di hari itu. Dirinya juga mengakui sangat kagum akan keindahan dan kekayaan alam Tolikara. Menurutnya, potensi alam Tolikara sangat sangat cocok untuk pengembangan sektor perkebunan.

“Dalam perjalanan saya ini, saya melihat Tolikara memiliki topografi yang sangat cocok untuk mengembangkan usaha perkebunan kopi. Karena itu apa yang disebut dengan kopi arabika sangat cocok dikembang- kan di seluruh daerah Tolikara karena daerah Tolikara memilki iklim sub tropis berada dengan curah hujan yang cukup tinggi. Karenanya saya percaya ke depan Tolikara akan mampu menja- di penghasil industri kopi arabika yang unggul,” ungkap Menteri Thomas.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan lanjutnya, akan menyiapkan tenaga-tenaga penyuluh terpadu UMKM di sejumlah bidang usaha baik di bidang perdagangan, pertanian, perkebunan, dan peternakan. Semua tenaga penyuluh ini akan dikirim ke daerah-daerah termasuk Papua, untuk memberikan pelatihan bagi masyarakat untuk setiap bidang usaha.

“Kisah moral seseorang yang awal- nya kerja keras sehingga mencapai kesuksesan, sudah kaya tetapi akhirnya sendirian, kalau meninggal sediri tanpa dikelilingi orang -orang tercinta. Jadi usaha apapun juga termasuk us- aha perkebunan kopi dan buah merah apalah gunanya kalau tidak disertai dengan aksebilitas pemasaran yang memadai,” timpalnya.

Menurutnya dalam dunia perdagangan, keuntungan atau provit memang memang diperlukan namun hal itu bukan yang terutama. Yang paling pent- ing dalam perdagangan adalah hubungan sosial antar manusia. Melalui perdagangan tumbuh persahabatan antara penjual dan pembeli yang sem- ula disebut langganan.

“Jadi setiap kali ada tranisaksi antara penjual dengan pembeli, di situ ada titik temu, terjadi kesepakatan tukar barang dengan uang dan seba- liknya. Di sini terjadi persahabatan di dalam perdagangan. Hal ini sering disebut dengan langganan karena langganan itu bisanya lama dan la- ma-lama jadi sahabat,” tuturnya.

Wagub Papua Barat Yakin Kopi Arfak Mendunia

Rimanews – Wakil Gubernur Papua Barat Irene Manibuy optimistis produksi kopi di wilayah Kabupaten Pegunungan Arfak bisa mendunia layaknya kopi daerah lain di Indonesia.

Pada pembukaan rapat koordinasi peningkatan produksi Pangan Papua Barat di Manokwari, Selasa (28/6/2016), Irene mengatakan, umumnya kopi yang memiliki kualitas bagus adalah kopi yang ditanam di daerah ketinggian.

“Pegunungan Arfak merupakan daerah pegunungan tertinggi di Papua Barat. Dengan ketinggian diatas 2.000 meter dari permukaan air laut,” kata dia.

Menurut dia, PH tanah dan suhu udara di daerah tersebut sangat mendukung untuk pengembangan kopi yang berkualitas. Hal ini dinilai selaras dengan Nawacita pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Ia optimistis produksi kopi di daerah tersebut mampu meningkas ekspor Papua Barat. Dia mengimbau instansi terkait seperti dinas Perkebunan mulai serius mengembangkan budidaya kopi Arfak.

“Ternyata tanaman kopi di Pegunungan Arfak sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Namun selama ini belum mendapat perhatian serius. Kini saatnya untuk melihat potensi ini,”

ujarnya.

Dia mengutarakan, komoditas kopi baik arabika, torabika maupun jenis lain sudah mendunia. Kopi sudah menjadi minuman populer di setiap negara.

Menurutnya, kopi arabika Pegunungan Arfak bisa merebut minat pasar. Upaya tersebut bisa diwujudkan melalui program tol laut yang sudah dicanangkan Presiden Joko Widodo.

Irene menambahkan, pengembangan kopi di daerah tersebut bisa mendokrak perekonomian masyarakat dengan terus meningkatkan pembinaan agar masyarakat siap menyambut peluang emas tersebut.

“Di sisi lain, kopi bisa menjadi icon daerah setempat. Saat ini kita baru mengenal Pegunungan Arfak dari potensi pariwisata. Produksi kopi akan mendukung pariwisata di daerah tersebut,” katanya menambahkan.

Pada kesempatan itu, wakil gubernur mengharap Kementerian Pertanian mengalokasikan program dan anggaran untuk pengembangan dan peningkatan produksi kopi di Pegunungan Arfak.

Kopi Papua ialah Kopi Asal Kabupaten Raja Ampat sampai Kopi Provinsi DKI PNG

Banyak orang menganggap Kopi Papua berarti Kopi dari Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, padahal realitas geografis dan suku-bangsa Papua bukan hanya sebatas itu. Tanah Papua dan bangsa Papua menyebar dari Raja Ampat di Provinsi Papua Barat, Indonesia sampai ke Provinsi DKI Port Moresby, Papua New Guinea. Dengan dasar peta sosial dan geografis ini, maka yang dimaksud Kopi Papua oleh PAPUAmart.com binaan KSU Baliem Arabica ialah Kopi dari seluruh pulau New Guinea, yaitu dari Sorong sampai Samarai.

Menurut Jhon Yonathan Kwano sebagai Manager Sales & Marketing KSU Baliem Arabica sekaligus bertugas sebagai Direktur PAPUAmart.com,

konsep dan pemahaman Kopi Papua harus-lah benar dan tepat agar pada saat kita berbicara tentang Kopi Papua, kita tidak dibatasi oleh konsep pemikiran yang salah. Yang kita maksudkan Kopi Papua terdiri dari kopi-kopi Single Origin, baik Robusta dan Arabika dari Tanah Papua, pulau New Guinea, baik di wilayah Indonesia maupun di wilayah Papua New Guinea.

Dengan kata lain, Kopi Papua dapat disebut dengan sebutan “Kopi Sorong – Samarai” atau “Kopi Raja Ampat – Samarai”.

Di dalam Kopi Papua terdapat banyak sekali Single Origin yang sudah dan akan diidentifikasi, antara lain

  1. Kopi Papua, Wamena Single Origin,
  2. Kopi Papua, Moanemani Single Origin,
  3. Kopi Papua, Deiyai Single Origin,
  4. Kopi Papua, Amungme Single Origin,
  5. Kopi Papua, Arfak Single Origin,
  6. Kopi Papua, Goroka Single Origin,
  7. Kopi Papua, Mount Hagen Single Origin,
  8. Kopi Papua, Sigri Single Origin,
  9. Kopi Papua, Enga Single Origin,
  10. Kopi Papua, Toli Single Origin,
  11. Kopi Papua, Yamo Single Origin dan sebagainya dan seterusnya

Menurut Jhon Kwano, Kopi Papua dalam tempo beberapa puluh tahun ke depan akan memiliki puluhan Single Origin, dan untuk itu perlu visi dan misi yang jelas dari para pengusaha kopi, terutama dari badan usaha yang ada di Tanah Papua, baik di Papua New Guinea maupun di Indonesia (Provinsi Papua dan Papua Barat).

Dilanjutkan oleh Jhon Kwano

Dalam rangka menyambut berbagai perkembangan dan kerjasama ekonomi yang sudah dirintis pemerintah Indonesia dengan pemerintah Papua New Guinea, para entrepreneur Papua, khususnya yang bergerak di perkopian di Tanah Papua seharusnya didorong, difasilitasi dan diberikan akses kepada berbagai sumber-sumber ekonomi yang tersedia, seperti perbankan dan badan usaha serta instansi pemerintah terkait dalam rangka menyambut Pasar Kopi Papua yang terbuka lebar untuk dikembangkan dan akhirnya memimpin dalam bursa ekspor kopi global.

Kopi Papua punya masa depan yang cerah. Pengusaha Kopi Papua memiliki peluang emas karena Kopi ialah Emas Hijau yang seharusnya diperjuangkan oleh Orang Asli Papua yang selama ini selalu berpikiran negatif tentang pemerintah di Jakarta sehingga lama kelamaan pemikiran negatif itu dapat terhapuskan dengan sendirinya, dan orang Papua menjadi tuan di Tanah Leluhurnya sendiri dengan menjadi “raja-raja” dan “ratu-ratu” Kopi Papua.

Jhon Kwano berharap agar semua penggemar Kopi Papua di seluruh Indonesia bersama-sama mendoakan agar PAPUAmart.com diberikan akses dan fasilitas oleh Pemerintah Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat sehingga dalam waktu dekat dapat mendapatkan akses kepada kopi-kopi Single Origin dari wilayah lain di kedua provinsi, sekaligus juga dari wilayah Papua New Guniea.

Perlu diketahui bahwa pengembangan dan bisnis Kopi Papua di wilayah Papua New Guinea sudah lebih matang dan sudah memasuki era ke-emasan mereka daripada kopi Papua dari wilayah Indonesia. Oleh karena itu, visi PAPUAmart.com ini perlu disambut oleh berbagai pihak di Tanah Papua.

Kopi Emas dari Tanah Papua

15 Juli 2016 17:42:13 Diperbarui: 15 Juli 2016 20:59:26

Kopi Amungme Gold yang dihasilkan dari perkebunan kopi Suku Amungme, Papua/RUL
Kopi Amungme Gold yang dihasilkan dari perkebunan kopi Suku Amungme, Papua/RUL

Dengan secangkir kopi kita bisa lebih akrab dan santai. Dengan secangkir kopi, segala gundah gulana terurai dengan lunglai. Dengan secangkir kopi, negara kita dikenal luas hingga ke mancanegara. Dan dengan secangkir kopi, barista ternama dan penikmat kopi dunia mengenal Indonesia bukan hanya karena Bali saja.

Negara ini dikenal sebagai penghasil kopi terbesar bersama Brazil, Vietnam dan Kolombia. Segala jenis kopi ada di tanah Nusantara. Bahkan, kopi menjadi komoditas unggulan Indonesia meski kita sendiri belum bisa menjadi pengendali harga kopi dunia yang masih terpusat di London dan New York. Di jalanan ibu kota, harum kopi kian santer dengan menjamurnya warung kopi dengan beragam konsep dan idealismenya.

Dari cara seduh pour over sampai aeropress yang dikompetisikan barista dunia akrab menyapa kita saat bertamu ke warung kopi yang senang disebut dengan cafe. Menjadi peminum kopi bukan sekedar mengecap rasa pahit di lidah. Dengan ragam aroma dan penyajiannya, meminum secangkir kopi perlu diritualkan layaknya tradisi meminum teh di timur asia.

Kopi Indonesia dikenal dengan keunikan rasa dan aroma. Kopi Sumatera identik dengan rasa yang berat dan bau hutan serta rempah. Berbeda dengan di Toraja, buah kopinya lebih mungil serta mengkilap menjadi identitas yang khas kopi yang memiliki tingkat keasaman cukup tinggi.

Di Papua, dengan alam yang masih perawan dan gugusan pegunungan yang padat, membuat kopinya memiliki tekstur yang lembut dan beraroma tajam. Tak ayal, kopi dari wilayah pegunungan Wamena dikenal luas dan menjadi merek dagang tersendiri. Apalagi, petani kopi di Papua masih mengandalkan proses alam dengan menunggu buah kopi ranum. Biasanya dikenal dengan natural process.

Begitu juga dengan kopi Papua yang berasal dari pegunungan di daerah Timika. Aroma yang tajam serta harumnya biji kopi setelah digoreng langsung merasuk ke indera penciuman saat saya berkunjung ke sebuah koperasi di Kabupaten Mimika, Kota Timika, Papua tiga pekan silam. Koperasi Amungme Gold yang dikelola oleh lima orang ini berhasil memberdayakan suku Amungme menjadi petani kopi dengan hasil produksi yang cukup untuk mengopikan orang yang berkunjung ke situs penambangan PT Freeport Indonesia (FI), bahkan kerap dibawa ke mancanegara sebagai buah tangan yang eksotis.

Suku Amungme yang memiliki hak ulayat atau hak atas kepemilikan wilayah di daerah penambangan PT FI dominan mendapatkan binaan dan banyak fasilitas lain yang diberikan khusus oleh PT FI, termasuk Koperasi Amungme Gold. Sejak 2013, koperasi ini membina dan memberikan edukasi serta fasilitas kepada suku yang berada di daerah pegunungan dekat dengan situs penambangan. Admin Highland Economy Development Amungme Gold Harony

Harony Sedik, wanita paruh baya yang dipercaya menjadi Admin Highland Economy Development Amungme Gold menuturkan proses pembinaan kepada para petani kopi Amungme di kampung Tisinga, Hoya dan Arowano. Ketiga kampung tersebut merupakan tempat lahan penanaman pohon kopi.

“Di setiap kampung ada 5 hektar lahan perkebunan kopi dan terdiri dari 24 petani,” kata Harony seraya menunjukkan biji kopi yang masih hijau di sebuah tempat penyimpanan.

Dalam sebulan, Koperasi Amungme Gold biasa memproduksi 1 ton kopi yang sudah digoreng (roasted) dalam bentuk biji (whole beans) atau yang sudah digiling (grinded). Biasanya sudah ludes terjual dalam kurun waktu sebulan. Pembelinya bukan dari wisatawan atau menitipkannya di kedai kopi. Menurut Harony, kopi Amungme Gold kerap diborong oleh pemerintah dan karyawan atau tamu PT FI yang kebetulan berkunjung ke tempatnya serta warga di Timika.

“Produksi 1 ton dalam satu bulan sudah ludes dari Timika, Freeport dan pemerintah. Produksi paling banyak sekitar 1,5 ton dalam satu setengah bulan,” ungkap Harony.

Sejak berdirinya koperasi ini, Suku Amungme mulai serius menggarap kebun kopi dan terus berproduksi. Bibit kopi yang ditanam pun didatangkan langsung dari Wamena yang selama ini dikenal sebagai penghasil kopi jenis arabika.

Proses

Bibit kopi yang didatangkan langsung dari Wamena dibawa ke wilayah Suku Amungme di daerah pegunungan sebelum ditanam dan panen. Setelah itu, pihak koperasi bersama petani memonitor dan menghimpun hasil panen sebelum di bawa ke Koperasi Amungme Gold yang berada di Kabupaten Mimika, Papua.

Satu petani bisa menghasilkan kopi sebanyak 25 Kg dengan harga jual dari petani 35 ribu rupiah per kilonya dan masing-masing kampung bisa menghasilkan kopi sekitar 500 Kg. Kopi yang dibeli pihak koperasi masih dalam keadaan belum dikupas. Proses pengupasan, penjemuran, goreng dan giling dilakukan di luar wilayah Suku Amungme, tepatnya di kantor koperasi.

“Sekali monitoring di tiap bulan kami mengambil kepada satu petani 25 Kg dengan harga per kilo 35 ribu rupiah untuk kopi yang belum dikupas. Sekarang ada 24 petani dari tiga kampung di Amungme. Satu kampung bisa menghasilkan 500 Kg kopi,” tutur Harony.

Kopi yang dihimpun dari petani akan melalui proses pengupasan dan penjemuran agar kadar air di dalam biji kopi berkurang. Kadar air dalam kopi dapat memengaruhi rasa dan aroma. Makin sedikit kadar airnya akan meningkatkan rasa dan aroma kopi.

“Di sini kami proses semua, pertama pengupasan kulit, ukur kadar air, harus di bawah 15 langsung di-roasting, kalau di atas 15 kami jemur lagi secara manual, setelah itu kami sortir,” kata Harony.

Kopi baru masuk ke proses goreng atau roasting jika kadar air sudah di bawah 15 persen dengan menggunakan mesin roasting dari Brazil. Mesin roasting yang efektif digunakan oleh koperasi hanya satu unit. Sebenarnya mereka memiliki satu mesin roasting lain buatan dalam negeri. Karena tidak adanya fitur monitor di mesin tersebut, hasil kopi menjadi kurang bagus dan cenderung lengket. Dengan alasan itu pihak koperasi memutuskan untuk tidak lagi memakainya.

Setelah digoreng, kopi didinginkan sejenak sebelum proses pengemasan atau digiling untuk memberikan pilihan kepada pembeli. Hal tersebut melihat pembeli dari luar negeri yang cenderung menyukai kopi yang masih dalam bentuk biji. Koperasi Amungme Gold hanya dapat menyediakan kemasan yang berisikan 250 gram kopi. Tingkat produksi dan alat yang terbatas membuat koperasi ini tidak mampu memproduksi kopi dengan kuantitas besar.

Kopi “Mahal”

Sejak memasuki ruangan koperasi, saya langsung menanyakan harga kopi yang sudah siap jual dengan kemasan 250 gram kepada Harony. Menurutnya, koperasi tersebut tidak mencari untung yang besar. Tujuan mereka adalah membina Suku Amungme sekaligus mengenalkan kopi Amungme yang rasanya tak kalah dari kopi yang ditanam di Distrik Wamena, Jayawijaya, Papua.

Tak ayal, kalau mereka hanya membandrol harga kopi Rp 50.000/kemasan. Hal ini berbanding terbalik dengan biaya proses monitoring dari petani yang membutuhkan biaya dan alat transportasi yang super mahal.

Mereka membawa kopi dari petani ke tempat koperasi menggunakan helikopter PT FI yang biaya sewanya mencapai 3.000 dollar (USD) atau jika dirupiahkan senilai 30 juta rupiah untuk durasi sewa selama 60 menit. Meski koperasi ini mengaku hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk membawa semua hasil kopi dari petani yang artinya membutuhkan biaya sekitar 17 jutaan sekali angkut, banderol 50 ribu rupiah untuk tiap kemasan dinilai terlalu murah bahkan kalau mereka berorientasi mencari keuntungan, koperasi ini pasti sudah tutup dan bangkrut.

Apalagi membandingkannya dengan harga kopi dengan kemasan yang sama di kedai kopi ibu kota. Kopi dari berbagai daerah dengan kemasan 250 gram bisa dibandrol hingga 150 ribu rupiah per kemasan. Belum lagi jika jenis kopi specialty yang bisa menembus sampai 500 ribu per kemasan. Tidak salah kalau menjuluki Amungme Gold sebagai kopi emas.

Menolak Starbucks

Sebagian besar masyarakat di perkotaan mungkin sudah akrab dengan kedai kopi asal Amerika, Starbucks. Kedai kopi yang konon meningkatkan status sosial tetamunya ini juga pernah tergiur dengan Kopi Amungme Gold. Pihak Starbucks pernah mengungkapkan ketertarikannya membeli dan menjadi pelanggan Kopi Amungme Gold untuk disajikan di seluruh kedai mereka. Namun, pihak koperasi menolak tawaran tersebut.
Hal itu disebabkan tingkat produksi yang terbatas. Koperasi Amungme Gold sampai saat ini belum mampu menghasilkan produk kopi dengan kuantitas yang besar. Alasan ini pula yang membuat Kopi Amungme Gold belum dikenal di tanah air. Mereka baru memasarkan produknya kepada para tamu PT FI, pemerintah dan warga di sekitar Kabupaten Mimika. Meski begitu, kopi ini cukup dikenal dikalangan ekspatriat. Mereka selalu membeli dan membawa Kopi Amungme Gold ke negara masing-masing setelah berkunjung ke PT FI.

Koperasi yang berusia hampir 4 tahun ini telah memiliki anggota yang berasal dari para petani kopi di Amungme. Selain membina bagaimana cara bertani dan menghasilkan sebuah produk unggulan khas daerah sehingga memiliki penghasilan yang lumayan besar, koperasi juga menjadi medium tempat belajar mengelola suatu perhimpunan atau organisasi.

Satu petani kopi di Amungme bisa mendapatkan gaji 10 juta rupiah per bulan. Lebih besar dari gaji kebanyakan angkatan kerja baru di ibu kota. Selain mengolah dan memasarkan kopi khas Amungme, Koperasi Amungme Gold juga menyediakan jenis kopi asli dari Wamena dan Paniai yang merupakan daerah penghasil kopi ternama di tanah Papua.

Nurul Uyuy, Co-Founder @komunitasteplok | Editor @kompasiana | Journalist @kompascom

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/

Irene: Pegaf Cocok untuk Budidaya Kopi

Posted on : 11 Jul 2016 09:10:52

Manokwari, Mediapapua.com – Wakil Gubernur Papua Barat, Irene Manibuy, SH, menilai Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf), sangat cocok untuk dijadikan budidaya tanaman kopi.

Hal ini dilihat dari letak geografis dan topografinya yang sangat mendukung, serta daerah tersebut memiliki ketinggian, PH, Suhu dan stuktur tanah yang sesuai syarat budidaya tanaman kopi. “Topografi dan geografis yang mendukung ini, maka harus menjadi perhatian Pemda Pegaf dan Pemprov Papua Barat, agar membuat komitmen untuk menjadikan wilayah ini sebagai lokasi budidaya dan produksi kopi,” ungkapnya.

Menurutnya, kualitas biji kopi yang baik biasanya berasal dari daerah yang memiliki ketinggian, dan di Papua Barat, wilayah ini hanya berada di Kabupaten Pegaf. “Untuk penetapan pegaf sebagai sentral produksi kopi butuh waktu dan komitmen. Jika sudah ada, maka kedepan pemerintah harus siapkan lahan, bibit hingga pada tahap pengolahan produksi kopi,” tuturnya.

Masih kata Irene, sebagai Wakil Gubernur dirinya akan mendorong pembudidayaan tanaman kopi di Pegaf dapat terealisasi. “Pemerintah jangan hanya pikirkan saat ini, tetapi manfaat dan pemasukan daerah kedepan, karena ini dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kesejahteraan petani kopi,” tukasnya.

“Kopi ini nantinya tidak hanya disuplai ke kabupaten/kota di Papua Barat, tetapi juga akan menjadi komoditi ekspor yang mendatangkan PAD. Baik bagi daerah penghasil, serta mendatangkan devisa bagi Negara ini,”

terangnya.

Wagub menyebut devisa ini nantinya dapat menambah peningkatan perekonomian bagi masyarakat tani di Pegaf, apalagi kebutuhan kopi itu sangat disukai oleh beberapa Negara lainnya di dunia. “Pegaf nanti dapat menghasilkan budidaya kopi dengan aroma memikat. Yang penting tekhnologinya kita tingkatkan sehingga akan betul-betul menghasilkan kopi yang memiliki nilai eksport tinggi. Dan aromanya disukai oleh masyarakat di Indonesia, Eropa, dan Amerika,” ucapnya.

Untuk itu, Pemda pegaf diharapkan dapat mencermati potensi kopi untuk daerah pegunungan, bukan hanya budidaya kopi, tetapi juga budidaya teh. Selain itu, Pegaf juga memiliki potensi pengembangan tanaman hortukultura, seperti Wortel, Kol dan Kentang, serta sayuran lainnya

“Ini harus menjadi bahan cermat dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Papua Barat, karena ini sangat bagus untuk membuka pasar dan meningkatkan produktivitas dari para petani sesuai dengan kearifan lokalnya masing-masing,” pungkasnya.(mp-19)