“Kopi Senang” Produksi 5.000 Bungkus Per Hari

Financial Manager PT. Senang Abadi Sorong Iwan Kurniawan – Jubi/Niko
Financial Manager PT. Senang Abadi Sorong Iwan Kurniawan – Jubi/Niko

Sorong, Jubi – PT. Senang Abadi Kopi Senang di di Km 8, Kota Sorong, Papua Barat memproduksi sedikitnya 5.000 bungkus kopi tiap hari.

Kopi jenis robusta dan torabika dengan produksi sebesar itu didistribusikan di Papua dan Papua Barat dengan harga bervariasi.

Financial Manager PT. Senang Abadi Sorong Iwan Kurniawan kepada Jubi, Jumat (2/9/2016) mengatakan bahan baku kopi yang diproduksi pihaknya didatangkan dari Sumatera dan Kalimantan tiap minggu.

“Khawalitasnya mampu terjaga, sedang untuk biji kopi wilayah Papua didatangkan dari Manokwari dan Nabire,” katanya.

Salah seorang pelanggan kopi Yasmin menyebutkan “Kopi Senang” menjadi incaran para pelanggan.

“Apalagi kopi yang menjadi oleh-oleh dari Sorong ini tidak menggunakan bahan kimia,” kata Yasmin. (*)

Wagub Papua Barat Yakin Kopi Arfak Mendunia

Rimanews – Wakil Gubernur Papua Barat Irene Manibuy optimistis produksi kopi di wilayah Kabupaten Pegunungan Arfak bisa mendunia layaknya kopi daerah lain di Indonesia.

Pada pembukaan rapat koordinasi peningkatan produksi Pangan Papua Barat di Manokwari, Selasa (28/6/2016), Irene mengatakan, umumnya kopi yang memiliki kualitas bagus adalah kopi yang ditanam di daerah ketinggian.

“Pegunungan Arfak merupakan daerah pegunungan tertinggi di Papua Barat. Dengan ketinggian diatas 2.000 meter dari permukaan air laut,” kata dia.

Menurut dia, PH tanah dan suhu udara di daerah tersebut sangat mendukung untuk pengembangan kopi yang berkualitas. Hal ini dinilai selaras dengan Nawacita pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Ia optimistis produksi kopi di daerah tersebut mampu meningkas ekspor Papua Barat. Dia mengimbau instansi terkait seperti dinas Perkebunan mulai serius mengembangkan budidaya kopi Arfak.

“Ternyata tanaman kopi di Pegunungan Arfak sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Namun selama ini belum mendapat perhatian serius. Kini saatnya untuk melihat potensi ini,”

ujarnya.

Dia mengutarakan, komoditas kopi baik arabika, torabika maupun jenis lain sudah mendunia. Kopi sudah menjadi minuman populer di setiap negara.

Menurutnya, kopi arabika Pegunungan Arfak bisa merebut minat pasar. Upaya tersebut bisa diwujudkan melalui program tol laut yang sudah dicanangkan Presiden Joko Widodo.

Irene menambahkan, pengembangan kopi di daerah tersebut bisa mendokrak perekonomian masyarakat dengan terus meningkatkan pembinaan agar masyarakat siap menyambut peluang emas tersebut.

“Di sisi lain, kopi bisa menjadi icon daerah setempat. Saat ini kita baru mengenal Pegunungan Arfak dari potensi pariwisata. Produksi kopi akan mendukung pariwisata di daerah tersebut,” katanya menambahkan.

Pada kesempatan itu, wakil gubernur mengharap Kementerian Pertanian mengalokasikan program dan anggaran untuk pengembangan dan peningkatan produksi kopi di Pegunungan Arfak.

Pengembangan Kopi Papua Harus dimulai dari yang Sudah Memulai

“Kita tidak pantas selalu berharap Jakarta berbuat banyak tentang pembangunan di Tanah Papua, sementara kita orang Papua sendiri, dari Gubernur sampai Kepala Kampung, berpikir dan bekerja hanya dengan berpatok kepada pemikiran Jakarta selalu salah kalau ada yang salah di Tanah Papua. Dana sudah banyak dikuncurkan, tetapi para pejabat di Tanah Papua selalu berkantor di Jakarta, kita lihat Jakartta sama dengan Jayapura, karena kebanyakan pejabat dari Gubernur sampai Kepala Desa mondar-mandir di Jakarta. Pergi saja ke kawasan Jalan Hayam Wuruk, Mangga Besar dan sekitarnya. Jangan pernah kaget, bahwa kantor pemerintahan Tanah Papua sesungguhnya ada di kawasan Menteng dan kawasan Jakarta Timur, pulau Jawa, bukan di Pulau New Guinea”

demikian kata Jhon Yonathan Kwano yang selama 6 bulan terakhir digutaskan oleh KSU Baliem ArabicaPAPUAmart.com untuk menjadi Kepala Gudang Kopi Papua di Jakarta.

Pernyataan ini disampaikan entrepreneur Papua, Jhon Yonathan Kwano, menanggapi pernyataan Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe yang berisi harapan Gubernur Provinsi Papua agar memperhatikan pengembangan Kopi Papua.

Dengan tidak mengurangi banyak hal yang diperjuangkan Gubernur Provinsi Papua, Jhon Kwano berpendapat, bahwa “Gerbang Mas” dan visi Papua Bangkit untuk Mandiri dan Sejahtera! yang dicanangkan kedua putra pegunungan Tengah Papua (putra Koteka) ini ditantang oleh putra Tabi sebagai single fighter dalam pengembangan entrepreneur Papua bahwa mimpi itu tidak akan terwujud.

Alasan sederhana dikemukakan oleh Jhon Kwano bahwa setiap ada kekurangan atau kesalahan, kedua belah pihak, Pemda Provinsi dan Jakarta selalu bertopeng dan selalu saling menyalahkan, selalu menganggap yang satu tidak berbuat banyak untuk Tanah Papua dan bangsa Papua.

Kata Kwano

Drama yang menarik, melihat di satu sisi Jakarta menganggap dana sudah banyak dikuncurkan tetapi dikorupsi dan disalah-gunakan oleh Pemda di Tanah Papua, sementara di sisi lain, baik Gubernur Papua maupun Gubernur Papua Barat menganggap dana-dana dimaksud masih jauh dari cukup. Kalau begini situasinya, siapa sebenarnya harus dialahkan? Apakah pekerjaan kita mencari kesalahan orang?

Kwano menyarankan agar “Pengembangan Kopi Papua Harus dimulai dari yang Sudah Memulai”.

Perhatikan dan dukung kegiatan masyarakat Papua yang sudah ada, modali dan bekali, fasilitasi dan dorong usaha pengembangan dan pemasran kopi yang sudah ada. Kami KSU Baliem Arabica sejak 2013 ada di pulau Jawa, mulai dari Yogyakarta dan kini di Jakarta, sudah punya dua gudang grosir Kopi Papua, ini semua tanpa campur-tangan pemerintah provinsi Papua ataupun provinsi Papua Barat.

Pemda jangan bicara pasar, Pemda bicara tentang fasilitas administradi, birokrasi dan akses ke sumber-sumber keuangan di Tanah Papua. Kami KSU Baliem Arabica sudah sanggup sejak tahun 2010 untuk mengekspor kopi Papua. Kami punya pasar di Pasifik Selatan, Asia dan Amerika. Pemda tinggal menyuntikkan modal

demikian ungkap Kwano.

Selanjutnya Jhon Kwano juga mengatakan

Pemerintah kedua provinsi harus duduk bersama membuat “Grand Design Pembangunan Tanah Papua” tanpa harus melibatkan Jakarta, dan dalam “grand-design” itu dilihat komoditas strategis mana saja yang harus dikembangkan dan berdasarkan pilihan itu dibuat program pengembangan ekonomi.

Selain itu Kwano juga berpendapat bahwa para Kepala Dinas Provinsi yang diangkat, terutama Kepala Dinas Perkebunan dan PerindagKop selama ini bekerja untuk Partai Politik pengusung mereka, sehingga para petani kopi Papua menjadi korban. Menurut Kwano

Kalau para gubernur tanam benalu di pohon-pohon Kopi Papua, maka pekerjaannya menghisap dan lama-lama mengeringkan dan akhirnya mematikan kopi-kopi Papua. Gubernur jangan tanam benanu, jangan tanam anggrek di pohon Kopi Papua, tetapi tanam buah merah atau matoa. Benalu politik di Tanah Papua adalah biang keladi kambing-hitam antara Jakarta dan Papua. Waktu benalu ini ditiadakan, semua tanaman kopi dan buah merah akan tumbuh subur. Tetapi saya tahu, benalu itu bagian dari politik Indonesia, jadi untuk menghilangkan benalu, kita harus sikat mereka dari pusat, tetapi apakah itu bisa dilakukan oleh Presiden Joko Widodo? Kelihatannya itu hanya menjadi mimpi tak kunjung datang.

Sebagai jalan keluar menghadapi situasi ini Jhon Kwano menyarankan para gubernur di Tanah Papua agar bersyukur atas apa yang telah diberikan Tuhan lewat Otsus ini, dan berusaha mendaya-upayakan apa yang ada, sedikit dan banyak-nya itu relatif, yang terpenting ialah kita tahu bersyukur, mensyukuri apa yang telah kita dapatkan setelah perjuangan dengan keringat, waktu dan pengorbanan nyawa yang tidak sedikit sejak tahun 1961 sampai hari ini.

Jangan kita anggap Otsus itu pemberian, tetapi itu hasil perjuangan. Oleh karena itu kedua Gubernur harus mempertanggungjawabkan hasil perjuangan dengan nyawa ini kepada bangsa dan Tanah Papua. Jangan tiap hari pikir alasan untuk salahkan Jakarta.

Kedua Gubernur harus membantu badan usaha dalam bentuk koperasi yang sudah nyata berhasil mengekspor produk kopi ke pulau-pulau lain di Indonesia dan ke pasar Amerika Serikat, Korea Selatan, Hong Kong dan Eropa.

kata Kwano.

Papua Kembangkan 20 Hektare Lahan Kopi Pegunungan Arfak

TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah Provinsi Papua Barat mulai mengembangkan lahan perkebunan kopi seluas 20 hektare di wilayah Kabupaten Pegunungan Arfak pada 2016.

“Kami sedang menyiapkan sebanyak 35 ribu bibit kopi jenis arabika. Penanaman akan dilakukan di lahan milik masyarakat di Distrik Testega,” kata Kepala Dinas Perkebunan, Agus Wali di Manokwari, Rabu (27 Juli 2016).

Dia menyebutkan awalnya bibit kopi tersebut akan diambil dari Pusat Penelitian Perkebunan Jember, Jawa Timur. Namun bibit dari lokasi tersebut dinilai sulit tumbuh di Pegunungan Arfak karena suhunya lebih dingin.

Sebagai penggantinya, Dinas Perkebunan mengupayakan bibit yang sama dari Wamena, Papua. Koordinasi sudah dilakukan dan saat ini proses pembibitan sedang berlangsung.

“Pegunungan Arfak merupakan daerah dengan ketinggian di atas 2.000 meter dari permukaan air laut. Bibit dari Jember memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri, berbeda dengan Wamena yang memang memiliki karakteristik daerah yang sama dengan Pegunungan Arfak,” katanya.

Agus mengutarakan pengembangan kebun kopi itu akan sepenuhnya melibatkan masyarakat setempat. Bibit yang disiapkan pemerintah daerah akan dibagikan kepada masyarakat di distrik tersebut.

Sementara itu, jumlah dan lokasi lahan penanaman tersebut sudah didata dan masyarakat dilarang membuka lahan baru untuk untuk mengantisipasi bencana longsor dan banjir bandang.

“Kami tahu bahwa Pegunungan Arfak adalah daerah rawan bencana. Untuk itu, penanaman ini cukup memanfaatkan lahan yang sudah ada, bisa di bekas kebun dan pekarangan masing-masing,” ujarnya lagi.

Pada program itu, pemerintah akan melakukan pendampingan kepada masyarakat dari pengolahan tanah, penanaman, hingga panen. Pemerintah pun akan menyiapkan dana stimulan berupa insentif, pelatihan pengolahan hingga pemasaran hasil produksi kopi olahan mereka.

Dia menilai potensi daerah tersebut cukup tinggi untuk pengembangan kopi. Para misionaris puluhan tahun lalu disebutnya sudah mengembangkannya di beberapa daerah Pegunungan Arfak.

Selain di Testega, pengembangan kopi pun akan dilakukan di Distrik Minyambouw. Di daerah tersebut, tanaman kopi sudah tumbuh cukup lama namun kurang perawatan. “Kami akan melihat, jika animo masyarakat tinggi, pendampingan akan kita lakukan biar mereka bisa memanfaatkan dan mengembangkan tanaman yang sudah ada,” pungkasnya.

ANTARA

Irene: Pegaf Cocok untuk Budidaya Kopi

Posted on : 11 Jul 2016 09:10:52

Manokwari, Mediapapua.com – Wakil Gubernur Papua Barat, Irene Manibuy, SH, menilai Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf), sangat cocok untuk dijadikan budidaya tanaman kopi.

Hal ini dilihat dari letak geografis dan topografinya yang sangat mendukung, serta daerah tersebut memiliki ketinggian, PH, Suhu dan stuktur tanah yang sesuai syarat budidaya tanaman kopi. “Topografi dan geografis yang mendukung ini, maka harus menjadi perhatian Pemda Pegaf dan Pemprov Papua Barat, agar membuat komitmen untuk menjadikan wilayah ini sebagai lokasi budidaya dan produksi kopi,” ungkapnya.

Menurutnya, kualitas biji kopi yang baik biasanya berasal dari daerah yang memiliki ketinggian, dan di Papua Barat, wilayah ini hanya berada di Kabupaten Pegaf. “Untuk penetapan pegaf sebagai sentral produksi kopi butuh waktu dan komitmen. Jika sudah ada, maka kedepan pemerintah harus siapkan lahan, bibit hingga pada tahap pengolahan produksi kopi,” tuturnya.

Masih kata Irene, sebagai Wakil Gubernur dirinya akan mendorong pembudidayaan tanaman kopi di Pegaf dapat terealisasi. “Pemerintah jangan hanya pikirkan saat ini, tetapi manfaat dan pemasukan daerah kedepan, karena ini dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kesejahteraan petani kopi,” tukasnya.

“Kopi ini nantinya tidak hanya disuplai ke kabupaten/kota di Papua Barat, tetapi juga akan menjadi komoditi ekspor yang mendatangkan PAD. Baik bagi daerah penghasil, serta mendatangkan devisa bagi Negara ini,”

terangnya.

Wagub menyebut devisa ini nantinya dapat menambah peningkatan perekonomian bagi masyarakat tani di Pegaf, apalagi kebutuhan kopi itu sangat disukai oleh beberapa Negara lainnya di dunia. “Pegaf nanti dapat menghasilkan budidaya kopi dengan aroma memikat. Yang penting tekhnologinya kita tingkatkan sehingga akan betul-betul menghasilkan kopi yang memiliki nilai eksport tinggi. Dan aromanya disukai oleh masyarakat di Indonesia, Eropa, dan Amerika,” ucapnya.

Untuk itu, Pemda pegaf diharapkan dapat mencermati potensi kopi untuk daerah pegunungan, bukan hanya budidaya kopi, tetapi juga budidaya teh. Selain itu, Pegaf juga memiliki potensi pengembangan tanaman hortukultura, seperti Wortel, Kol dan Kentang, serta sayuran lainnya

“Ini harus menjadi bahan cermat dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Papua Barat, karena ini sangat bagus untuk membuka pasar dan meningkatkan produktivitas dari para petani sesuai dengan kearifan lokalnya masing-masing,” pungkasnya.(mp-19)